Selamat HUT LintasAtjeh.com Yang Ke - 3 , Semoga Tetap Berintegritas dan Selalu Terdepan. By : Wilson Lalengke (Ketua DPN PPWI), Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng (Ketua DPD PPWI Aceh), M. Effendi, SE (Pimred Beritalima.com), Adin (Pimred Indonesiamediacenter.com), Mukhtaruddin Pakeh, SE (Pimred Bongkarnews.com), Ihsan Yusnadi, S.Kom (Pimred Acehselatan.com), Zahrul, SH (Pimred Atjehlink.com), Said Zahirsyah (Pimred Atjehupdate.com), Edi Safaruddin, SH (Pimred Globalaceh.com), Agus Salim (Pimred Radaraceh.com), Umar Effendy (Pimred Atjehnet.com), Syaiful Anshori, A. Md, Kom (Pimred Koinrakyat.com), Irsye (Wartawan Kabarpapua.com), Anwar Risyen (Ketua DPC PPWI Aceh Utara), Eka Sahputra, SE (Ketua DPC PPWI Langsa), dr. Zulfikry, MKES (Ketua DPC PPWI Aceh Timur), Masridha, ST (Ketua DPC PPWI Aceh Selatan), Rahmat Hidayat (PPWI Aceh Barat), Yenni Muezza (PPWI Jakarta), Muzer (Wartawan Prosekutor), Azhar (Pimred Statusaceh.net, BAPANASNews), Cahyo Nugroho (DPC PPWI Tegal), Johan Yaas (Dewan Penasehat DPC PPWI Sarmi, Ketua Dewan Adat Sarmi), Max F. Werinnussa, SH (Ketua DPC PPWI Sarmi), Dara Ayuwi (PPWI Aceh), Ainuddin Chalik (CEO-Founder Keluargapedia.com), Zaki Fansurya (PPWI Padang), Sayed Zainal, M.SH (Direktur Eksekutif LembAHtari), Nasruddin (Ketua FPRM Aceh), Mustafa Kamal (Ketua LSM GEMPUR), Bambang Herman, SH (Ketua DPW PAKAR Aceh Tamiang),Sayed Mahdi, M.Si, MMA (Pimpinan Umum TamiangNews), Roby G Sinaga (Ka Biro SKN Bidik Kasus Langsa-Aceh Timur), Rafiq (Ketua LSM PANGLIMA),Sufainy Syekhy (Ketua Acheness Australia Association), Jermia Budi Susetya (PPWI Semarang), MarsonoRh (KompasTV Engineering) Denni France (PPWI Pekanbaru), Nova Indra (PPWI Padang Panjang), Dliyauddin (Pimred Kalimantanpers.com), Dedy Djumhana (Pimred Pantauterkini.com), Abdullah Matyah (Ketua LSM LCO).

Janda Aceh 1976 : Satu On Gula Pun Tidak Kami Rasakan Dari KPA/Eks GAM

BANDA ACEH - Tak sedikit korban konflik Aceh yang hingga kini belum tersentuh bantuan sedikitpun dari pemerintah. Diantara mereka banyak juga perempuan Aceh yang berstatus janda hingga kini masih menjalani hidup tanpa belas kasihan.

Mereka tetap saja berpasrah, dan memaksakan diri untuk tetap bertahan hidup dengan harta seadanya. Kasus-kasus tersebut terkesan tak terurus, seperti dikatakan Nurkisah (80), salah seorang janda tua asal Kabupaten Aceh Utara saat ditemui lintasatjeh.com pada Senin (06/10/2014).

Nurkisah merupakan, istri Al-marhum salah seorang pejuang untuk membela Aceh. Suaminya gugur dalam perjuangan Aceh Merdeka (AM) pada tahun 1976. Kepergian suaminya itu meninggalkan sepuluh orang anak. 8 laki-laku dan 2 perempuan.

Janda berusia renta ini mengaku hingga sekarang masih belum menerima bantuan sedikitpun dari Pemerintah Aceh, sebagaimana layaknya orang lain menerima bantuan. "Saya ikhlaskan semua itu. Al-marhum suami saya pun berjuang bukan untuk keluarga, melainkan kepentingan semua rakyat Aceh," kata Nurkisah dengan mata berkaca-kaca.

Kondisi tubuh ibu tua ini tak lagi berdaya. Namun, ia yang ditemani anak perempuannya Nurhayati (41), memaksakan diri untuk menceritakan semua kisah hidupnya.

Awalnya, kata dia, ia yang bersama perempuan lain seperti istri Al-marhum Ismail Ben, istri Ayah Pasee, istri Daud Janggoet, istri Yusuf Ali, istri Yusuf AB dan beberapa orang istri mantan pejuang itu dibawa pergi oleh sekelompok orang bersenjata waktu itu (tahun 1978) di kuala Cangkoi, Ulerubek, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara.

Bantuan Pemerintah mungkin tak bisa diharap pasti, katanya. Sementara dari KPA atau eks GAM juga tidak pernah ia rasakan sejauh ini. "Dari KPA sendiri, saya tidak pernah merasakan bantuan, satu on gula pun tidak pernah kami rasakan. Kami berusaha menjadi diri sendiri dan keluarga," sebut nenek ini sambil tersenyum.

Tak ada habisnya jika berbicara masalah konflik Aceh yang terjadi puluhan tahun silam. Namun, sedikit dari serangkaian kasus memang ada keunikan tersendiri untuk diungkapkan. Setidaknya untuk diketahui saja.

Singkat cerita, janda-janda dan perempuan Aceh lainnya yang merupakan korban konflik hingga kini masih banyak yang belum mendapatkan bantuan pemerintah. Padahal, mereka sangat berharap adanya sedikit bantuan, sebagai belas kasihan untuk menyederhanakan hidup mereka pasca perdamaian Aceh - RI. (02)

Baca Juga



close
Banner iklan disini