HUT Kota Jantho ke-33 Diperingati Sederhana


ACEH BESAR - Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kota Jantho ke-33 dan dirangkai dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2017 di Lapangan Bungong Jeumpa, Kota Jantho, Rabu (03/05/2017). 

Hadir dalam kegiatan tersebut, Forkopinda, para pimpinan DPRK, Staf Ahli Bupati, Asisten Setdakab, Kepala SKPK, para camat, pengurus TP-PKK, pengurus Dharma Wanita, pengurus Persit Kartika Chandra Kirana, dan Bhayangkari, serta tokoh-tokoh masyarakat.

Adapun yang bertindak selaku perwira upacara, Muhammad Basir, S.STP, M.Si (Kabag Humas dan Protokol Setdakab Aceh Besar), komandan upacara Kapten Inf Juari, S.Sos, pembacaan teks pembukaan UUD 1945 Harmai Sarah, S.STP, pembacaan doa Drs. H . Salahuddin, M.Pd (Kakankemenag Aceh Besar), dan pengibaran bendera Merah Putih diiringi Lagu Indonesia Raya oleh para siswa dan siswi SMAN 1 Kota Jantho.

Wakil Bupati Aceh Besar, Dr. H. Syamsulrizal, M.Kes , yang bertindak selaku inspektur upacara mengungkapkan Hari Ulang Tahun Kota Jantho ke-33 diadakan secara sederhana. Namun upacara hari ini memiliki makna yang mendalam yakni bertambahnya usia Kota Jantho dan usia pendidikan nasional. 

“Kedua even ini merupakan sebuah amanah dan perjuangan bangsa yang harus kita laksanakan dalam menyongsong masa depan yang lebih baik,” katanya.

Masyarakat Aceh Besar, ungkap Syamsulrizal, patut bersyukur karena tanpa terasa Kota Jantho sebagai Ibukota Aceh Besar telah berusia 33 tahun.  Kota Jantho sebagai ibukota Aceh Besar, ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1979, kita patut bersyukur dan berbahagia atas perjuangan para pendahulu penyelenggara pemerintahan.Semua kita dituntut untuk melanjutkan perjuangan mereka untuk terus berbenahguna penyempurnaan di segala bidang yang masih banyak tertinggal dalam segala hal. 

“Alhamdulillah bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya atau tahun awal, pembangunan Kota Jantho telah banyak juga kemajuan yang telah dicapai, baik di bidang agama, ekonomi, pendidikan, pertanian, sosial budaya, kesehatan, maupun lainnya. Sejalan dengan kemajuan tersebut kita berharap kota Jantho ini dapat menjadi kota yang mandiri. Seperti tema HUT Kota Jantho pada tahun ini yaitu Menuju Kota Mandiri dalam Bingkai Syari’at Islam,” katanya.

Dr. Syamsulrizal melanjutkan, tentunya cita-cita kita bersama menjadikanKota Jantho yang merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Besar ini menjadi kota mandiri. Mandiri secara ekonomi dan fisik, penduduknya bermukim dan berkiprah dalam kegiatan penghidupannya di dalam kota ini sendiri, sehingga tidak menciptakan mobilitas keluar wilayah kota. Kota mandiri dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan dapat berperan sebagai pusat pengembangan wilayah sekitar.

Dilanjutkannya, tidak hanya menjadikan kota yang mandiri, namun juga terus diupayakan untuk menjadikan kota Jantho sebagai kota yang terbingkai syariat Islam. Pemkab Aceh Besar terus berupaya melakukan penguatan Syariat Islam di kota yang kita cintai ini. Syariat Islam yang dilaksanakan meliputi aqidah, syari’ah, dan akhlak. Adapun salah satu bagian lebih lanjut dari syari’at Islam ini meliputi jinayah (hukum pidana). Qanun jinayat ini merupakan kesatuan hukum pidana yang berlaku bagi masyarakat Aceh yang dibentuk berdasarkan nilai-nilai syari’at Islam. Qanun Jinayat mengatur tentang Jarimah (perbuatan yang dilarang oleh syariat Islam), pelaku jarimah, dan uqubat (hukuman yang dapat dijatuhkan oleh hakim terhadap pelaku jarimah).

Pada bagian lain, Wabup Aceh Besar mengungkapkan, Aceh Besar dipercayakan sebagai salah satu penyelenggara Pekan Pertanian Nasional (PENAS) yang dijadwalkan berlangsung 6 hingga 11 Mei 2017. Oleh karena itu, Pemkab Aceh Besar mengharapkan kepada semua pihak terkait dan masyarakat untuk ikut menyukseskan bersama PENAS yang dijadwalkan dibuka Presiden Joko Widodo tersebut.

Dijelaskan pula, beberapa hari yang lalu Kabupaten Aceh besar pada perlombaan Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Provinsi Aceh di Aceh Selatan mendapat peringkat kedua. Dengan keberhasilan tersebut, duta terbaik dari Aceh Besar akan mewakili Provinsi Aceh pada TTG tingkat nasional. “Semoga Kabupaten Aceh Besar maju terus dan terus berkembang,” ucap Syamsulrizal

Terkait peringatan Hardiknas tahun 2017, Wabup Aceh Besar atas nama Pemerintah Daerah menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh insan pendidikan, guru, Majelis Pendidikan Daerah (MPD), organisasi profesi, dan pemangku kepentingan lain atas segala ikhtiar, kepedulian, dan perhatian yang diberikan dalam menumbuhkembangkan dunia pendidikan. “Kita berdoa agar para tokoh dan pejuang yang telah mendahului kita memperoleh tempat yang layak disisinya dan kita yang saat ini memperoleh amanah untuk mengelola pendidikan diberi kekuatan, kecerdasan, dan kesabaran dalam mempersiapkan generasi masa depan yang lebih baik,” tandas Wabup Syamsulrizal.

Mengutip sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Syamsulrizal mengemukakan, pendidikan telah membukakan pintu wawasan, menyalakan cahaya pengetahuan, dan menguatkan pilar ketahanan moral. Persinggungan dengan pendidikanlah yang telah memungkinkan para perintis kemerdekaan untuk memiliki gagasan besar yang melampaui zamannya. Gagasan dan perjuangan yang membuat Indonesia dijadikan sebagai rujukan oleh bangsa-bangsa di Asia dan di Afrika. Dunia terpesona pada Indonesia, tidak saja karena keindahan alamnya, atau keramahan penduduknya, atau keagungan budayanya, tetapi juga karena deretan orang-orang terdidiknya yang berani mengusung ide-ide terobosan dengan ditopang pilar moral dan intelektual.

Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Jangan sesekali kita mengikuti jalan berpikir kaum kolonial di masa lalu. Fokus mereka, kaum kolonial itu, adalah pada kekayaan alam saja dan tanpa peduli pada kualitas manusianya. Jangan sampai kita hanya tahu tentang kekayaan alam, tetapi tidak tahu kualitas manusia di negeri kita. 

"Kita harus berkonsentrasi pada peningkatan dan pengembangan kualitas manusia. Kita tidak boleh mengikuti jalan berpikir kaum kolonial yang terfokus hanya pada kekayaan alam, tetapi-sekali lagi saya tegaskan melupakan soal kualitas manusia. Pendidikan itu seperti tangga berjalan yang mengantarkan kita meraih kesejahteraan yang jauh lebih baik," tandasnya.[DW].

Baca Juga