Irwandi-Nova Harus Mampu Mengatasi Persoalan Mendasar Aceh

PNA (Partai Nanggroe Aceh_sekarang), salah satu partai pemenang pilkada di Aceh, mengusung Irwandi Yusuf yang berpasangan dengan Nova Iriansyah. Hasil kemenangan ini akan mengantarkan kedua tokoh Aceh ini dalam menggendarai sebuah kapal nan besar yang bernama Aceh selama 5 tahun. Dalam waktu dekat Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah akan dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh.
Tentu ini bukan satu kebahagiaan yang harus diterima oleh kedua pengendara kapal Aceh ini, karena mengingat janji kampanye mereka yang cukup banyak dan ini semua bersentuhan langsung dengan rakyat yang senantiasa berada di garda depan dalam pemenangan pasangan ini. Ditambah lagi sangat banyak persoalan yang mendasar seperti ketimpangan di Aceh, baik ketimpangan ekonomi, politik maupun pendidikan.
Merujuk pada data yang dikeluarkan Badan Statistik Provinsi Aceh, angka kemiskinan dari tahun 2014-2017 terus mengalami peningkatan. Dimana hampir di setiap kabupaten kota meningkat seperti di Kabupaten Aceh Singkil persentase penduduk miskin meningkat 17.77 % - 21.72 %, Kabupaten Pidie 20.29 % - 21.18 %. Dan masih banyak kabupaten lainnya yang mengalami kemunduran di tengah tingginya Anggaran Pemerintah dan Belanja Aceh (APBA). Besarnya APBA tidak menjawab persoalan ini selama beberapa tahun terakhir.
Menurut analisis saya, persoalan bangsa Indonesia saat ini adalah ketimpangan. Hilangnya harapan masyarakat menengah kebawah justru menggiring masyarakat menengah kebawah pada hal-hal yang bisa menyusutkan persatuan bangsa, seperti halnya persoalan intoleransi, maupun gerakan radikalisme. Dimana disini terlihat jelas angka kemiskinan ini berhasil memelihara ketimpangan yang sangat tajam di Aceh, seperti di sektor pertanian rakyat kehilangan alat produksi mereka seperti tanah, mereka terpaksa menjadi buruh diatas tanahnya sendiri. Di sektor pendidikan juga mengalami hal yang sama, jelas amanat konstitusi UUD 1945 menegaskan untuk "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa".
Disini, saya sangat pesimis karena pendidikan di Aceh sendiri masih belum merata dan tidak ada platform batasan biaya pendidikan sehingga pendidikan hanya bisa diakses oleh mereka yang cukup secara ekonomi, ditambah lagi Aceh tertinggal 2 langkah dalam dunia pendidikan karena Aceh mengalami konflik yang berkepanjangan dan datangnya bencana tsunami sehingga menimbulkan semakin kurangnya sumber daya manusia.
Harapan saya, Partai Nanggroe Aceh (PNA) tetap konsisten berada pada garis perjuangan rakyat dalam mengawal pemerintah Irwandi Nova mendatang.  Pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat harus bahu membahu atau gotong royong guna mengatasi setiap permasalahan mendasar ini. 
Aceh adalah daerah yang merdeka secara sejarah. Aceh harus menjadi satu daerah panutan bagi daerah lainnya, Aceh juga harus berdaulat secara budaya dan mandiri secara ekonomi. 
"Kemenangan ini harus menjadi solusi atas beberapa permasalahan ini dan bisa mengantarkan Aceh menuju masyarakat adil dan makmur".
Penulis: Alkautsar (Mahasiswa Aceh di DKI yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi Wilayah DKI)

Baca Juga