Pak Irwandi, Mohon Dibantu Siswi Berprestasi Tidak Mampu Ini!

Nadila Siti Zuina
BANDA ACEH - Pendidikan merupakan jembatan kesuksesan bagi generasi penerus bangsa. Hal ini juga menjadi salah satu program prioritas Gubernur Aceh yang baru saja dilantik Irwandi Yusuf. Bahkan saat kampanye Pilkada Aceh, Irwandi pria yang mahir mengemudikan pesawat terbang ini selalu mengatakan tidak mau melihat anak-anak Aceh putus sekolah.

Meski demikian, ternyata ada sejumlah kendala di lapangan terutama faktor ekonomi keluarga sehingga prestasi anak harus terputus untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Belum lagi, buntunya jalur birokrasi untuk mendapatkan bantuan dana pendidikan bagi keluarga tidak mampu. Ini menjadi batu sandungan utama bagi generasi berprestasi Aceh untuk mewujudkan impiannya.

Seperti yang dialami Nadila Siti Zuina, siswi berprestasi kelahiran Takengon ini. Kisahnya terpaksa harus diunggah di laman facebook Ahmad Syarif seizin orang tuanya untuk sekedar mencari solusi bagi masa depan siswi berprestasi tersebut.

"Kalau demi kebaikan silahkan bapak publikasikan. Saya berharap ada perhatian untuk ketiga buah hati saya agar bisa terus melangsungkan pendidikannya. Karena memang kondisi saya sudah lama menganggur dan tak ada biaya," demikian ujar Wiwin, orang tua Nadila Siti Zuina saat dihubungi LintasAtjeh.com, Kamis (06/07/2017).

Berikut tentang kisah Nadila Siti Zuina yang diposting akun FB Ahmad Syarif, Rabu (05/07/2017):

Lelang Kebajikan

Man-temans...
Perkenalkan, nama adik kita ini Nadila Siti Zuina. Kelahiran Takengon, Aceh Tengah, 10 April 2000. Sulung dari 3 saudara. Buah hati pasangan Pak Wiwin & Bu Suryani. Mereka menyewa rumah Rp 3 juta pertahun di gampong Paya Tieng, kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Sejak 2 tahun lalu, ayahandanya tidak memiliki pekerjaan tetap. Sementara ibundanya kerja di Laundry sebagai pembungkus pakaian yang telah disetrika. Ongkosnya hanya Rp 1.000 per Kg. Dalam sehari, paling maksimal sang bunda menghasilkan Rp 20.000 (dua puluh ribu).

Nadila lancar berbahasa Inggris. Bila ada tamu dari luar negeri, sekolah memintanya menjadi penerjemah. Ia pun termasuk siswa/siswi berprestasi. Hal ini terlihat pada bagian Kompetensi Keahlian (foto 5).

Beberapa bulan lalu, adik kita ini ditawari kuliah gratis di Australia dari sekolahnya, SMK Aceh Business School. Syaratnya, ongkos pesawat PP (pulang & pergi) harus ditanggung sendiri dulu. Baru nanti diganti setibanya di Australia. Nadila harus membatalkan impiannya ini, sebab orang tuanya tidak berdaya. Pihak sekolahnya pun tidak bisa membantu kecuali secarik surat rekomendasi. Nadila sempat 2 bulan down.

Lalu, ayahandanya kembali menyemangatinya hingga lulus di Fakultas Tarbiyah & Keguruan UIN Ar-Raniry jurusan Bimbingan Konseling (foto 3). Hari ini, Nadila ke kampus untuk mengambil formulir daftar biaya yang ia perlukan. Pada saat bersamaan, ayahandanya mencari bantuan ke kantor-kantor di seputaran Kota Banda Aceh untuk biaya tersebut.

Terkait dengan permohonan bantuan, ayahandanya menceritakan bahwa ia telah mengajukan ke Baitul Mal Provinsi Aceh (BMA) ketika Nadila masih duduk di kelas 2 SMP. Sayangnya, hingga Nadila tamat SMA, bantuan itu tak kunjung turun. Padahal, stiap bulan, staf BMA memintanya datang ke kantor BMA. Namun, tetap saja disurun menanti. Sementara Kepala Bidang yang berkaitan tetap mengarahkannya menjumpai staf BMA tersebut.

Ayahandanya juga telah mengajukan permohonan ke LPSDM. Kejadiannya sama saja: DIPIMPONG. Bahkan kemudian disarankan menjumpai Bagian KESRA Bupati Aceh Besar.

Man-temans.... 
Di kantor kami tidak ada bantuan yang sifatnya taktis atau insidental seperti ini. Karenanya, saya tadi minta izin ke Pak Wiwin untuk membagikan kegundahannya via facebook & ia pun mengizinkannya. So, saya sudah tunaikan janji.

Bagi teman-teman yang hendak berbagi rezeki untuk mengurangi kegundahan keluarga Pak Wiwin. Silahkan berkomunikasi langsung ke nomor HPnya 085262585162. 

#derma_kita_senyum_mereka
#donasi_kita_sekolah_nadila
#berkah_berbagi_bersama

Berikut dokumen Nadila Siti Zuina:



[Red]

Baca Juga