Diskusi Sejarah, Peusaba: Jangan Sampai Aceh Lenyap dari Peta Dunia!

BANDA ACEH - Peusaba (Peubeudoh sejarah adat dan budaya) menggelar diskusi tentang sejarah Aceh di titik nol Banda Aceh, Gampong Pandee, Sabtu (19/08/2017).

Ketua Peusaba Aceh, Mawardi Usman dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa dulunya Arakan adalah sebuah kerajaan besar Islam yang berhubungan dengan Mughal dan Turki Usmani.

Namun ketika kerajaan lemah mereka dikuasai pihak Birma dari luar, akibatnya mereka harus tunduk. Semua budaya mereka dihancurkan bahkan semua situs peninggalan kerajaan Arakan dilenyapkan.

Kemudian, Pemerintah Birma yang menguasai arakan melakukan tindakan pengusiran secara besar-besaran hingga hari ini. Kaum yang diusir itu kita kenal dengan kaum Rohingya.

"Untuk menghilangkan sebuah bangsa maja harus dihilangkan sejarahnya. Hal yang sama seperti terjadi di Aceh, titik nol bekas kesultanan dimusnahkan dijadikan tempat tinja dan sampah," sindirnya.

Peusaba mengkhawatirkan masalah  sekarang dan masalah yang akan terjadi puluhan tahun kedepan masalah bukti yang hilang. Titik nol islam Banda Aceh bisa berpindah kemana saja dan jika kita kalah perang dengan bangsa luar   jika ada invansi seperti Irak misalnya.

"Maka saat itu orang Aceh yang tidak punya bukti sejarah yang sudah habis dimusnahkan akan diusir ke Arab, China, Eropa dan Hindia. Hal yang sama juga terjadi pada Palestina yang semua situs Islam mau dihancurkan disana yang dipertahankan mati-matian oleh kaum muslimin. Bahkan Israel mau menghancurkan Masjid Baitul Maqdis," urainya.

"Kalau dibiarkan terus-menerus maka akan lenyaplah Aceh dari peta dunia. Jangan bangga dengan banyak situs sekarang, sebab dalam sekejap bisa diratakan dengan tanah," demikian Mawardi Usman menegaskan.

Peusaba juga meminta pemerintah Turki membangun ulang Darul Makmur,  Kerajaan Sultan Johan Syah Seljuq sebab Blue Print Kesultanan Aceh berupa istana, taman dan khazanah masih tersimpan dengan baik dalam Diwan Humayun Turki.

Sementara Ketua Seuramoe Pasee,  Murtadharuddin yang ikut hadir meminta pemerintah benar-benar serius menjaga situs demi generasi mendatang. Hasil diskusi juga merekomendasikan permintaan bantuan menjaga situs kepada pemerintah Turki.

"Sebab disanalah pada masa Sultan Ilako Khan tahun 383 Hijriyah, orang Turki penyebar Islam datang ke Aceh," tandasnya.[*]

Baca Juga