Peusaba Minta Pemerintah Turki dan Persia Buka Kantor Konsul di Aceh

BANDA ACEH - Ketua Peusaba Aceh kembali meminta pemerintah Turki agar membantu melindungi situs sejarah Turki yang sedang dihancurkan dan hendak dijadikan gunongan sampah dan kolam tinja di Titik Nol Banda Aceh. Jika tidak ada peran dari luar akan sulit melindungi situs sejarah Aceh. Dengan adanya sokongan dari luar maka masyarakat Aceh akan kembali bersemangat.

"Seperti diketahui setelah konflik panjang dan tsunami masyarakat Aceh menjadi kehilangan kepercayaan diri. Dengan adanya bantuan dari Turki dan  Persia diharapkan kesadaran sejarah Aceh akan bangkit kembali. Turki terkenal dengan kemampuannya menjaga sejarah dan sangat luar biasa wisata sejarah yang ada di Turki," demikian kata Mawardi Usman kepada LintasAtjeh.com, Rabu (23/08/2017).

Dijelaskan Mawardi, Persia melindungi semua situs sejarah hingga sebelum Masehi termasuk situs Wangsa Achaemenid. Dengan Adanya Konsul dan dilanjutkan dengan sosialisasi kepada masyarakat Aceh dan pelatihan secara kontinyu maka masyarakat Aceh dapat menjaga situsnya dengan baik.

"Hubungan Aceh Farsi telah terbina dengan baik sejak kedatangan Pangeran Salman Syahriar ke Aceh 145 H tepatnya di Kuala Jeumpa di Bireuen anak cucunya menjadi raja di Peureulak, Poli, dll. Hubungan Persia Aceh terus terbina dalam penerjemahan kesusastraan Parsi di Aceh bahkan ulama Aceh terkenal Bukhari Al Jauhari atau Bukhari sang pandai emas yang hidup masa Sultan Sayyidil Mukammil (1589-1604) dalam kitabnya Tajussalatin mahkota segala raja banyak mengambil sumber sejarah Farsi dan syi'ah, walaupun beliau sebenarnya Sunni tulen yang bermazhab Syafi'i," terangnya.

Menurutnya, ini menandakan di Aceh masa lalu Sunni dan Syi'ah dapat bergandengan tangan. Sebuah model yang dapat dipergunakan sebagai bagian perdamaian konflik Syi'ah Sunni dimasa sekarang ini. Sedangkan hubungan Aceh Turki sudah dimulai zaman Sultan Ilako Khan ((383 H) keturunannya Sultan Johan Syah Seljuq membangun darul makmur Gampong Pande tahun 601 H atau 1205 M," urainya lagi.

Kemudian, kata dia, Masjid dan Istana Darul Makmur hancur dihantam Tsunami pada tahun 1296 M zaman Sultan Mahmud Syah yang segera memindahkan istana ke tempat baru yakni tempat bernama Daruddunya atau wilayah Meuligoe sekarang ini. Istana Darul Makmur dibangun ulang dan dijadikan sebagai istana kediaman kedua untuk Sultan ketika memantau perdagangan.

Ditambahkannya, pemimpin wilayah Darul Makmur bergelar Imam bukan Ulebalang menandakan pentingnya wilayah Darul Makmur. Sultan Iskandar Muda dalam hikayat Aceh ketika kecil sering bermain-main disana dan melihat pedagang dan jamaah haji lalu lalang disana dengan ceria.

Bandar Darul Makmur, lanjut dia, adalah sebuah pelabuhan, masjid dan istana yang mempesona. Darul Makmur kenapa disebut Gampong Jawa? Sebab Sultan Johansyah tahun 1205 M menerima jamaah haji dari Jawa disana dan menyuruh berdiam disana. Orang Jawa yang pandai makanya disebut Gampong Jawa. Di sekitar wilayah itu juga ada Gampong Cina, Gampong Bugeh, Gampong Pahang, Gampong Kedah dan Gampong Turki, karena berlalu sejarah sebagian nama gampong itu hilang.

Masih kata dia, pada Tahun 1735 Aceh terpecah dua terjadi konflik antara Sultan Alaiddin Johan Syah yang beristana di Darul Dunya dan Sultan Jamalul Alam yang beristana di Darul Makmur Gampong Jawa. Perang terjadi disebabkan pedagang asing hanya berdagang di Darul Makmur otomatis kas istana Darul Dunya kosong. Dalam perang ini, Darul Makmur kalah dan  Sultan Jamalul Alam melarikan diri dengan meninggalkan kekayaan yang sangat banyak berupa gudang pakaian yang indah dan di dalam tanah ditemukan berkati-kati emas yang melimpah.

Padahal, terangnya, Sultan hanya memerintah sementara di Darul Makmur Gampong Jawa. Pada masa kedatangan Belanda pertama di Masjid dan Istana Darul Makmur hancur akibat perang dan Belanda kalah telak di Masjid Raya Baiturrahman. Pada agresi kedua Van Swieten juga menerobos dari Kuala Gigeng ke Peunayong dan melaju ke Gampong Jawa kemudian menyerang ke istana.

"Setelah penaklukan istana yang terbakar, Van Swieten mengumpulkan semua Bendera Alam Peudeung Mirah dan Hijau dari rumah penduduk dan membakarnya. Kemudian mengeluarkan aturan yang berlaku Alam Peudeung atau Bendera Aceh Alam Mirah dan Alam Hijau tidak boleh dinaikkan sampai kapanpun," terang Mawardi Usman.[Red]

Baca Juga