Anas Bidin Nyak Syekh : Pernyataan Ketua Hipelmabdya Cerdas Tapi Dihujat

BANDA ACEH - Pernyataan berisi saran yang disampaikan Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Aceh Barat Daya (Hipelmabdya) Irfan Nasruddin kepada Bupati Abdya Akmal Ibrahim sempat memanas di kalangan masyarakat di daerah yang dikenal negeri Breuh Sigupai itu. Pernyataan Irfan melalui media Sabtu malam (09/09/2017), mengundang berbagai pihak untuk merespon baik melalui media online maupun sosial media, tak heran berbagai kritikan hingga hujatan dilemparkan oleh pihak-pihak yang terlihat gerah dan tidak sependapat dengan pernyataan tersebut.

Berbeda dengan para pendukung Akmal dan sejumlah pihak yang tidak sepakat, tokoh Abdya di Banda Aceh, Anas Bidin Nyak Syeh justru menyampaikan apresisasi kepada Ketua Hipelmabdya karena dianggap telah berani menyampaikan masukan yang positif untuk kebaikan Abdya. Menurutnya, pernyataan kritis yang disampaikan Ketua Hipelmadya tersebut merupakan hal yang luar biasa yang sudah semestinya dilakukan oleh mahasiswa.

"Itulah namanya kecerdasan Ketua Hipelmabdya, Irfan. Saya berharap agar pemerintahan tidak mematahkan kecerdasan mereka, dan pemerintah harusnya menganggap saran mahasiswa itu secara positif," ungkap Anas Bidin Nyak Syeh, di kediamannya Gampong Lamdingin, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Rabu (13/09/2017).

Ketua Ikatan Masyarakat Aceh Barat Daya (Ikamabdya) itu juga mengaku telah membaca pernyataan Irfan dan mencoba memahami maksud yang disampaikan. Menurut pemahamannya, tidak ada disebutkan disitu bahwasanya pemerintah tidak boleh menggunakan media sosial dalam hal pemberitahuan informasi terhadap masyarakat Abdya.

"Si Irfan sudah cerdas. Menurut pemahaman saya setelah membaca pernyataan Irfan itu bahwa bupati itu memiliki banyak tugas. Jadi jangan terlalu sibuk dengan menyampaikan status sosial media yang berisi provokasi, dan justru menimbulkan pecah belah di masyarakat. Itu kan positif, makanya yang menanggapi juga harus cerdas, jangan justru menanggapi macam-macam dan tidak cerdas," tegas Anas.

Mantan anggota DPRK Banda Aceh dari Fraksi PAN dua periode itu juga menambahkan, seharusnya pemerintah mengapresisasi dengan kritikan-kritikan itu, bukan justru anti kritik dalam menjalankan roda pemerintahan.

"Kalau pemerintah hana jet dikritik 'Bek jet ke bupati' me nabi dikritik cit le masyarakat. Nyoe akmal nabi koen ulama koen tungku pe lom cit ka bekoen nyan mantong hanjet dikritik, (kalau  tidak boleh dikritik, jangan jadi Bupati. Nabi saja dikritik oleh masyarakat apalagi Akmal Ibrahim, nabi bukan ulama bukan teungku juga bukan. Itu saja tidak boleh dikritik)," katanya mengaku heran.[*]

Baca Juga