Menguak Fakta Rinci Soal ARSA Milisi Rohingya, Pemberontak atau Teroris?

JAKARTA - Pemerintah Myanmar telah menyalahkan ARSA, milisi Rohingya, atas apa yang terjadi di Rakhine dalam beberapa waktu terakhir. Yangon menyebut kelompok yang telah ditetapkan sebagai gerakan terorisme itu memancing operasi militer besar-besaran militer negara itu.

Menurut ARSA mewakili jenis pemberontakan yang sama sekali baru. Mereka berjuang dengan tidak menggunakan senjata. Tidak seperti kelompok pemberontak laiinya di negara itu, seperti Kachin, Shan, Karen atau Mon, yang berpakaian seragam militer dengan nama masing-masing kelompok mereka ditampilkan dengan jelas pada lencana.

Sebaliknya, milisi muslim ARSA berbaur dengan penduduk desa dan memakai pakaian sipil. Setelah serangan tingkat rendah mereka terhadap target pasukan keamanan, ARSA diketahui mundur melintasi perbatasan ke negara tetangga Bangladesh. Mereka berbahasa yang sama dengan warga Bangladesh dan menganut agama yang sama. 

"Dalam hal ini, taktik ARSA lebih menyerupai gerilyawan Muslim di Thailand selatan, bersebelahan dengan Malaysia, daripada tentara etnis Myanmar lainnya, ujar Bertil Lintner, seperti dikutip dari Asia Times, 20 September 2017. Lintner adalah wartawan asal Swedia yang menulis sejumlah buku tentang Myanmar secara mendalam.

Menurut Lintner, tanpa berbagi doktrin ideologis Maois Nepal dan India, ARSA telah menerapkan teknik pertempuran kelompok pemberontak itu. Alih-alih menghadapi tentara Myanmar dalam pertempuran dan penyergapan, ARSA, seperti gerilyawan Nepal Maois saat mereka aktif dan pemberontak Naxalites India saat ini, lebih memilih untuk memobilisasi ratusan penduduk desa yang tidak bersenjata untuk menyerang aparat negara di tengah malam.

Pos keamanan yang ditargetkan umumnya pos kecil dan terisolasi, namun dikesankan ARSA dikelilingi oleh kekuatan tempur yang jauh lebih besar. Penyerang yang relatif kecil kemudian bergerak masuk, membunuh tentara atau polisi dan kemudian membawa kabur senjata mereka. Ini adalah gaya serangan yang umum ditemukan di Asia Selatan tapi sama sekali asing sampai sekarang di Myanmar.

Setelah serangan di negara bagian Rakhine di Myanmar barat pada 25 Agustus 2017, militer Myanmar mengklaim telah membunuh 400 gerilyawan. Namun diyakini yang tewas kemungkinan sebagian besar adalah warga sipil. Karena jika itu adalah milisi ARSA, maka kelompok itu pasti telah bubar dan musnah. Analis mengatakan, jumlah total pejuang terlatih ARSA yang aktif kemungkinan tidak melebihi 500.

Meskipun kapasitas militer ARSA terbatas, mesin propagandanya cukup meluas, dengan pernyataan dikeluarkan di Twitter dan platform media sosial lainnya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih untuk membuat kelompok pemberontak tampak moderat.

Dalam salah satu pernyataan pertamanya pada 9 September, ARSA mengumumkan gencatan senjata sepihak selama sebulan untuk memungkinkan kelompok-kelompok bantuan menjangkau pengungsi Rohingya dan mencegah krisis kemanusiaan yang lebih besar. Kelompok bantuan memperkirakan lebih dari 400.000 orang Rohingya telah meninggalkan Myanmar ke Bangladesh sejak serangan 25 Agustus oleh ARSA dan serangan brutal militer tersebut.

"Ini adalah sebuah deklarasi berani untuk sebuah kelompok bersenjata ringan yang sama sekali tidak memiliki tentara terorganisir. Sebagian besar hanya menggunakan pisau," kata Lintner. 

Meskipun demikian, namun masyarakat setempat sangat marah dengan ARSA karena telah memberi alasan kepada militer Myanmar untuk "membersihkan etnis" wilayah Rohingya dan kelompok minoritas lainnya.

Ditetapkan sebagai kelompok  teroris oleh Myanmar, ARSA mengatakan bahwa pihaknya ingin tidak memiliki hubungan dengan Al Qaeda, ISIS, Lashkar-e-Taiba atau kelompok teroris transnasional. ARSA bahkan mengaku bekerja keras agar kelompok teroris tidak masuk ke Myanmar dan membuat situasi buruk menjadi buruk. Namun banyak yang meragukan pernyataan ARSA, terutama pendirinya YANG telah belajar bertempur di Afghanistan.  

ARSA awalnya dikenal sebagai Harakah al-Yaqin, atau "gerakan iman." Namun itu memiliki konotasi agama yang jelas dan terutama tidak mengandung kata-kata Rohingya atau Arakan (Rakhine). Baru tahun lalu mulai menggunakan nama ARSA yang lebih berorientasi etnis, mungkin untuk menjauhkan diri dari lingkungan radikal Tdi tempat milisi ini  lahir.

Menurut analis intelijen, mentor ARSA adalah Abdus Qadoos Burmi, orang Pakistan keturunan Rohingya yang berbasis di Karachi. Dia telah muncul dalam video yang tersebar di media sosial yang menyerukan 'jihad' di Myanmar.

Abdus Qadoos memiliki jaringan yang baik dengan Lashkar-e-Taiba, atau Army of the Righteous, salah satu organisasi teroris terbesar di Asia Selatan yang beroperasi terutama dari Pakistan. Kelompok ini didirikan pada tahun 1987 di Afghanistan dengan dana dari pendiri Al Qaeda, Osama bin Laden. Abdus Qadoos bahkan muncul dalam pertemuan bersama pemimpin Lashkar-e-Taiba Hafiz Mohammed Syed.

Pemimpin lapis kedua ARSA adalah seorang pria bayangan yang hanya dikenal sebagai "Sharif" yang berasal dari Chittagong di barat daya Bangladesh dan tidak pernah hadir dalam video propaganda kelompok tersebut. Dia dilaporkan berbicara dengan aksen bahasa Urdu, bahasa resmi Pakistan.

ARSA sendiri mungkin telah mampu merekrut pemuda yang marah dan putus asa di antara orang Rohingya di negara bagian Rakhine dan kamp-kamp pengungsian di Bangladesh, namun, menurut analis keamanan, ada juga 150 orang asing di antara mereka.

Sebagian besar berasal dari Bangladesh, delapan sampai sepuluh datang dari Pakistan dengan kelompok yang lebih kecil dari Indonesia, Malaysia dan Thailand selatan. Dua dilaporkan dari Uzbekistan. Pelatihan yang diadakan di daerah perbatasan Myanmar-Bangladesh telah dilakukan sebagian oleh veteran perang Afghanistan yang lebih tua. 

Mengingat reaksi keras militer Myanmar terhadap aksi ARSA ,jika tujuan kelompok tersebut adalah untuk "melindungi kaum Rohingya , dari serangan militer Myanmar justru menjadi bumerang mengerikan. Tapi milisi pasti sudah menghitung manfaat lebih luas yang bisa didapat dari serangan tersebut. 

Publisitas internasional seputar situasi Rohingya yang belum pernah terjadi sebelumnya, menjanjikan dukungan baru dan berpotensi menguntungkan dari dunia Arab dan Muslim dan lebih banyak pemuda yang marah untuk direkrut.

Tapi korban dari permainan ini adalah ratusan ribu orang Rohingya yang telah dipaksa pergi dari rumah mereka yang hancur dan sekarang merana di kamp-kamp kumuh di Bangladesh dan di sepanjang perbatasan kedua negara yang semakin mengerikan.[Tempo]

Baca Juga