Rusmadi : Meskikah Membela Wartawan?

BANDA ACEH - Terkait adanya tragedi pengusiran wartawan saat meliput di Gedung DPRK Banda Aceh, Ketua Forum Jurnalis Peduli Kemanusiaan (FJPK), Rusmadi, angkat bicara.

Menurut Rusmadi yang juga sebagai Wakil Ketua Bidang Kominfo PDPM Kota Banda Aceh, wartawan sebagai manusia yang punya keterbatasan dan tak luput dari khilaf dan salah.

"Seorang wartawan yang salah juga harus mengakui kesalahannya, karena seorang wartawan tidak kebal hukum," kata Rusmadi kepada LintasAtjeh.com melalui pesan singkat, Jumat (08/09/2017).

(Baca: IWO Aceh Dukung AK Jailani Buat Laporan ke Polisi)

"Sebagai seorang wartawan, dia juga tidak menganggap yang benar. Apalagi mengatasnamakan forum aliansi jurnalis itu sendiri," imbuhnya.

"Wartawan yang berjiwa besar juga harus mengakui kesalahannnya bukan malah menganggap dia yang paling benar, dengan sebutan wartawan, reporter, jurnalis, insan pers, pekerja pers dan sebagainya," jelasnya.

Rusmadi juga menyampaikan, kebenaran itu tidak selama ada pada wartawan, terkadang konflik terjadi ada gesekan sensitif antar dua insan. Sehingga, sebagai tokoh pers juga tidak langsung menelan kesalahan ada pada pihak lain dan terus membela wartawan.

"Perlu diingat, wartawan seharusnya independen, tidak menyebarkan kebencian, fitnah, mencari musuh dan perlawanan. Akan tetapi beritakan sesuai data dan fakta di lapangan," ujarnya lagi.

Lebih lanjut Rusmadi mengatakan bahwa bila ia mengantongi id card dan bekerja sebagai wartawan, ia juga tidak boleh membela pada pihak manapun, apalagi membela pejabat dan pemerintah. Bukankah wartawan itu posisinya independen tidak ke kanan dan tidak ke kiri? Tapi posisinya ada ditengah sebagai pemersatu dan pengayom.

Kalau pun ada wartawan yang menjadi pengurus partai politik, ini juga dianggap wartawan tidak independen lagi. Baiknya tidak lagi berada sebagai posisi wartawan yang mengantongi id card. Kalaupun ada wartawan yang menjadi pengurus di parpol dan juga memiliki id card, bisa jadi mengaku sebagai wartawan sebagai batu loncatan.

Rusmadi menjelaskan, polemik misalnya yang terjadi di Kota Banda Aceh antara salah seorang anggota DPRK Banda Aceh dan jurnalis perlu di cek ricek dan kroscek akan kebenaran informasi tersebut.  Sehingga, teman teman lain melihat sebelah mata dan menilai seseorang itu salah dan arogansi.

"Terkadang ketika kita melihat judul di media, wartawan diusir, wartawan diancam, wartawan dianggap tidak sopan, sontak saja teman teman yang seprofesi tensinya naik. Padahal baru judul belum baca isi dan kebenaran apa yang diberitakan," ungkapnya.

"Sekali lagi saya ingin katakan, tak selamanya wartawan itu berada pada garis kebenaran, yang salah tetap salah, begitu juga sebaliknya yang benar tetap benar," terang Rusmadi yang juga menjabat sebagai Koordinator Komunikasi Youth Forum of Aceh.

"Kroscek itu kebenaran sangat diperlukan. Jangan seolah olah wartawan tidak boleh diusir apalagi dimarahi. Padahal kadang itu memang kesalahan sendiri ada pada insan pers tersebut," pungkasnya.[DW]

Baca Juga