AMF Bius Penonton lewat Musik Etnik Modern, Juang Art Community Jawaranya

BANDA ACEH - Pagelaran Aceh Musik Festival (AMF) sukses menyedot perhatian warga Kota Banda Aceh. Setidaknya hampir seribuan penonton betah menyaksikan acara yang berlangsung di Gedung AAC Dayan Dawood Banda Aceh pada Sabtu (28/10/2017) sore hingga malam hari.   Penonton mulai bersiul saat grup musik Penata Gayo, Perinu Ethnic, dan Juang Art Community tampil.

Ketiga band dari wilayah utara dan tengah Aceh ini menyentuh penonton dengan syair dan alat musik tradisional yang dipadu dengan aransemen modern. Tak kalah menarik, Cupa Band, Sanggar Cut Mutia, dan Radat Band juga menghentak panggung AMF dengan karakternya masing-masing.

"Semuanya tampil bagus, baik, dan keren," ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi, dalam sambutannya menjelang pengumuman pemenang.

Menurut dia, ketiga belas grup musik itu mampu mengembangkan seni yang berakar tradisi menjadi sebuah pertunjukan musik yang menarik. Mereka telah berupaya mengangkat nilai-nilai tradisi keacehan dalam aransemen kontemporer.

"Sesuai dengan tujuan digelarnya AMF ini, peserta mencoba merevitalisasi nilai-nilai budaya dalam musik etnik Aceh," katanya.

Sementara itu, ketiga dewan juri AMF 2017, yang terdiri dari Moritza Thaher, Erlinda, dan Ahmad Sya'i, memutuskan, Juang Art Community Band asal Bireuen sebagai juara pertama, Sanggar Cut Mutia sebagai juara dua, dan Cupa Banda meraih posisi tiga.

Moritza mengatakan, bila melihat lagu yang dibawakan, sebagian peserta sepertinya belum memaknai 'nada tradisi dalam melodi' yang diinginkan panitia.

"Ini sudah 2017, tapi masih ada yang mengandalkan lagu dengan syair cinta anak muda," komentarnya.

"Tapi secara keseluruhan, mereka sudah tampil maksimal dan menghibur penonton yang hadir," tambah musisi senior Aceh itu.

AMF digelar untuk membangkitkan gairah bermusik anak muda Aceh, kata Salman Varisi, Koordinator Event AMF. Dia puas dengan penampilan seluruh peserta. Dikatakannya, AMF bukan sekedar festival biasa, tapi sebuah pertunjukan seni musik yang menarik ditonton.

"Alhamdulillah seluruh peserta tampil maksimal dan mereka juga berhasil menghibur ratusan penonton yang datang langsung ke AAC ini terutama di malam hari," katanya.

Di akhir acara, panitia langsung menyerahkan hadiah kepada seluruh pemenang yang diberikan oleh Reza Fahlevi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh didampingi Nur Maida Atmaja Ketua Dewan Kesenian Aceh. 

Pemenang mendapatkan uang pembinaan masing-masing Rp 7 juta untuk juara 1, Rp 6 juta untuk juara 2, dan Rp 5 juta untuk juara tiga ditambah trofi dan sertifikat.

Sementara 7 nominasi terbaik mendapatkan masing-masing Rp 1 juta plus sertifikat.   Ketujuh grup nominasi terbaik adalah Radat Band (Banda Aceh), Penata Gayo (Aceh Tengah), Perinu Ethnic (Aceh Tengah), Nami (Bener Meriah), Elkasya (Banda Aceh), Teuka (Aceh Besar), dan Ipelmabar Band (Banda Aceh). Event Tahunan Salman Varisi berharap Aceh Musik Festival dapat dijadikan event permanen oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

"Event malam ini menjadi yang pertama kali pelaksanaan AMF, kita harapkan dapat menjadi event tahunan, sehingga para musisi muda Aceh bisa jauh-jauh hati menyiapkan karya merak untuk tampil di tahun berikutnya," harap Salman.

Reza Fahlevi saat memberikan sambutan, ditantang penonton agar AMF dapat dijadikan event permanen. 

"Kalau memang pantas digelar setiap tahun, akan kita pertimbangkan," ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, setelah mendengar jawaban penonton.  

Jika memang AMF jadi event permanen, tegas Reza, pelaksanaannya harus lebih baik. Harus ada proses kurasi dari panitia terhadap karya peserta, untuk menjaring karya-karya yang berkualitas tinggi.

"Sehingga melalui event ini dapt memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Aceh, terutama pelaku industri seni musik, dan berkontribusi untuk pertumbuhan pariwisata Aceh," pungkasnya.[*]

Baca Juga