Hukum Membaca Fatihah Bagi Makmum Masbuk

BACAAN Al-Fatihah adalah rukun shalat bagi setiap orang yang shalat, baik bagi imam, makmum dan munfarid (orang yang shalat sendirian). Baik dalam shalat jahriyah (bacaan keras) amupun sirriyah (bacaan pelan)

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Dari Ubadah bin Shamit, bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Tidak sah shalatnya bagi orang yang tidak membaca surat Al-Fatihah. (H. R. Bukhari no. 756, Muslim no. 900)

Makmum masbuk adalah makmum yang tidak sempat membaca Fatihah atau tidak dapat membaca Fatihah dengan sempurna beserta imam pada rakaat pertama, sedangkan makmum muwafiq adalah makmum yang sempat membaca Fatihah bersama imam pada rakaat pertama.

Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya menegaskan :

وهو من لم يدرك من قيام الامام، قدرا يسع الفاتحة بالنسبة إلى القراءة المعتدلة

Masbuk adalah setiap orang yang tidak mendapati berdiri imam dalam ukuran yang dapat memungkinkan dibaca semua Fatihah dengan ukuran bacaan yang pertengahan (kecepatan membacanya). (Kitab Fathul Mu'in, Juz II, halaman 42)

Bagaimana kalau makmum baik muwafiq atau masbuk tidak sempurna atau tidak sempat membaca Al-Fatihah, sedangkan imam sudah keburu rukuk?

Imam Nawawi dalam kitabnya menegaskan :

فَلَوْ رَكَعَ اْلإِمَامُ وَهُوَ فِى أَثْنَاءِ اْلفَاتِحَةِ فَثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ: (اَحَدُهَا) يُتِمُّ اْلفَاتِحَةَ. (وَالثَّانِ) يَرْكَعُ وَيَسْقُطُ عَنْهُ قِرَاءَتُهَا وَدَلِيْلُهُمَا مَا ذَكَرَهُ المُصَنِّفُ. قَالَ الْبَنْدِيْنِيْجِى هَذَا الثَّانِى هُوَ نَصُّهُ فِى الْإِمْلاَءِ. قَالَ وَهُوَ اْلمَذْهَبُ. وَالثَّالِثُ وَهُوَ اَلْأَصَحُّ وَهُوَ قَوْلُ الشَّيْخِ أبِى زَيْدٍ اَلْمَرُوْزِى وَصَحَّحَهُ اْلقَفَّالُ وَالْمُعْتَبِرُوْنَ أنَّهُ إِنْ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا مِنْ دُعَاءِ الْإِفْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ رَكَعَ وَسَقَطَ عَنْهُ بَقِيَّةُ اْلفَاتِحَةِ، وَإِنْ قَالَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ لَزِمَهُ بِقَدْرِهِ لِتَقْصِيْرِهِ بِالتَّشَاغُلِ.

Andaikata imam sudah rukuk sedangkan makmum di tengah-tengah membaca fatihah, maka yang harus dilakukan oleh makmum adalah salah satu dari tiga cara : (Pertama), Dia menyempurnakan bacaan fatihah. (Kedua), Dia ikut rukuk dan gugur darinya kewajiban membaca Fatihah. Dalil dari cara pertama dan kedua ini adalah apa yang telah disebutkan oleh pengarang. Al-Badiniji berkata : Cara yang kedua ini adalah ketetapan (Imam Syafi'i) dalam kitab Imla'. Beliau berkata : cara yang kedua inilah pendapat madzhab Syafi'i. (Ketiga), Pendapat yang paling kuat dalilnya yaitu pendapat dari syeikh Abu Zaid Al-Maruzi dan dibenarkan oleh Imam Qaffal serta para ulama ahli i'tibar bahwa jika makmum tidak membaca sesuatu dari doa iftitah dan taawudz, maka makmum ikut rukuk imam dan gugur dari dia kewajiban membaca sisa dari surat Fatihah. Jika dia membaca sedikit dari hal tersebut (doa iftitah dan taawudz), maka dia harus membaca Fatihah dengan kemampuan sebab keteledorannya dengan melakukan hal yang menyibukkan membaca Fatihah. (Kitab Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz IV, halaman 312)

Dalam sebuah hadits dijelaskan :

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ، فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفَقَالَ زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ

Dari Abu Bakrah, bahwa dia pernah mendapati Nabi saw sedang rukuk, maka dia pun ikut rukuk sebelum sampai ke dalam barisan shaf. Kemudian dia menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi saw. Maka beliau bersabda : Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali. (H. R. Bukhari no. 783)

Dari  dalil ini dipahami bahwa kalau saja mendapatkan rukuk beserta imam tidak dianggap (satu rakaat), maka Nabi saw akan memerintahkannya untuk mengqadha rakaat yang tidak mendapatkan bacaan (Al-Fatihah) di dalamnya. Akan tetapi tidak ada riwayat yang menerangkan  hal tersebut (perintah tersebut). Hal itu menunjukkan bahwa siapa mendapatkan rukuknya (imam),  maka dia telah mendapatkan (satu) rakaat.[Achmad Anas]

Baca Juga