Mengenal AR Baswedan, Motor Penggerak Sumpah Pemuda Keturunan Arab

JAKARTA - Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa menyebut ada sejumlah nama yang diusulkan menjadi calon penerima gelar pahlawan. Satu di antara nama yang diusulkan adalah Alwad Abdul Rahman Baswedan atau sering disebut AR Baswedan.

AR Baswedan adalah kakek dari Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan. Dia merupakan salah satu diplomat pertama Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia, yaitu dari Mesir.

Seperti apa sosok AR Baswedan?

Nama AR Baswedan dikenal sebagai motor penggerak Sumpah Pemuda keturunan Arab di Indonesia pada 4 Oktober 1934 di Semarang. 

Syahdan, 5 tahun setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sejumlah warga Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda mencapai satu titik pencarian identitas mereka. Muncul gagasan agar keturunan Arab menjadikan Indonesia sebagai tanah air dan tak lagi mengaitkan dengan Yaman sebagai asal-usul mereka. 

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari keturunan Arab yang ada di Indonesia. AR Baswedan, yang saat itu berusia 27 tahun mengumpulkan warga keturunan Arab dan mendirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI). PAI ini mendukung perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia. 

Pengamat masalah keturunan Arab di Indonesia, Hasan Bahanan mengatakan bahwa yang dilakukan AR Baswedan dan kawan-kawan itu terinspirasi Sumpah Pemuda 1928.

"Sumpah Pemuda 1928 yang melintasi batas-batas etnik dan agama berpengaruh pada orientasi kebernegaraan komunitas Arab Hadrami di Hindia Belanda," kata Hasan kepada BBC Indonesia 28 Oktober 2015 seperti dikutip detikcom, 28 Oktober 2017. 

Dalam buku AR Baswedan, Membangun Bangsa, merajut Keindonesiaan (2014), "Sumpah Pemuda keturunan Arab" itu memiliki tiga butir pernyataan:
Pertama, Tanah air peranakan Arab adalah Indonesia; Kedua, peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan menyendiri (mengisolasi diri); Ketiga, Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia.

Langkah Revolusioner

Menurut Hasan, pilihan AR Baswedan dan pemuda Arab untuk meleburkan diri dalam cita-cita bersama bangsa Indonesia merupakan sikap yang revolusioner. Maklum saat itu pemerintah kolonial Belanda menempatkan peranakan Arab, China dan Jepang sebagai orang asing klas dua, di atas kaum pribumi.

"Mereka juga sebelumnya tidak pernah terlibat dalam gerakan kebangsaan, walaupun mereka terlibat dalam berbagai aktivitas pendidikan dan keagamaan," kata Hasan Bahanan dalam pengantar buku AR Baswedan, Revolusi batin sang perintis (2015).

Itulah sebabnya, menurutnya, pilihan kaum muda peranakan Arab idealis yang menyatakan Indonesia sebagai Tanah airnya, "menempatkan mereka sebagai bagian dari komunitas pejuang kebangsaan."

Tokoh pemuda keturunan Arab, Tsamara Amany mengatakan bahwa Sumpah Pemuda menjadi momen untuk menumbuhkan nasionalisme dan kecintaan terhadap Indonesia. Keturunan Arab yang lahir di Indonesia bukanlah pendatang, melainkan memiliki identitas Indonesia. Sehingga harus juga memiliki kecintaan terjadap tanah air Indonesia seperti yang tercantum dalam Sumpah Pemuda keturunan Arab. 

"Yang harus ditekankan dalam sumpah (sumpah pemuda keturunan Arab) ini adalah meskipun kita keturunan Arab, tapi kita harus tetap ingat bahwa kita adalah warga negara Indonesia, kita ini orang Indonesia," kata Tsamara. 

Keturunan Arab di Indonesia, kata Tsamara, harus memiliki nasionalisme dan kecintaan terhadap Indonesia. "Nasionalisme seperti ini perlu dibangun, karena pada akhirnya kita ini Indonesia, sudah seharusnya kita mencintai Tanah Air sendiri. Mencintai saudara sebangsa kita dan jangan membiarkan bangsa kita ini terpecah-pecah," tambah dia. 

Jejak-jejak kehadiran orang Arab di Indonesia masih bisa dijumpai di salah satu kawasan di Pekojan, Jakarta Barat. Menurut BBCIndonesia, ada Masjid tua Langgar Tinggi dan masjid Al-Nawier, yang masih bertahan dari gempuran zaman menjadi saksi bisu bahwa kampung di dekat pelabuhan Sunda Kelapa itu pernah didiami orang-orang Arab selama ratusan tahun.

Mereka datang sebagai pedagang, selain berdakwah, orang-orang Arab asal Hadramaut, Yaman, mendiami wilayah itu sejak lebih dari dua ratus tahun silam. Mereka kemudian menikahi perempuan lokal dan menghasilkan keturunan Arab di Indonesia.[Detik News]

Baca Juga