Walikota Banda Aceh akan Bernasib Sama dengan Diktator Robert Mugabe, Kenapa?



BANDA ACEH - Ketua Peusaba mengatakan hari ini telah diadakan presentasi tentang hasil penelitian di Kompleks IPAL Makam Ulama Aceh.  Peusaba heran tidak ada presentasi dari ahli namun hanya dari Ketua BPCB Aceh Sumut Denni Sutrisna yang mengatakan ada 2 hasil rekomendasi tim yang berbeda.

“Pertama itu kawasan situs dan wajib proyek IPAL direlokasi, ini usulan Mapesa. Kedua, ahli pihak BPCB yang mengatakan itu kawasan situs dan bisa dilanjutkan proyek IPAL namun makam yang sudah duluan dipindah oleh BPCB dari 5 meter bawah tanah itu diperindah dan diberi atap sedangkan dalam kompleks itu dijadikan kawasan tinja,” ungkap Mawardi Usman kepada LintasAtjeh.com melalui pesan WA, Kamis (23/11/2017).

Dijelaskan Mawardi, walikota mengatakan proyek sudah terlanjur dilaksanakan, jika dipindahkan akan ada akibat lain yakni pihak Kementerian PUPR takut dituntut pihak perusahaan. Dan walikota dari pembicaraan meminta semua pihak menerima jika keputusan IPAL dilanjutkan.

Peusaba mengecam keras langkah Walikota Banda Aceh. Ini adalah tindakan terkutuk menjadikan kompleks makam ulama sebagai tempat pembuangan tinja. Dalam sejarah tercatat bahwa ketika Portugis menaklukan Malaka mereka menghancurkan kuburan ulama dan menjadikan kompleks istana dan mesjid sebagai gereja dan benteng mereka.

“Hal yang sama dilakukan pihak Belanda dengan menghancurkan kuburan raja dan ulama Aceh ketika menyerang Banda Aceh. Penghancuran itu dikecam oleh semua ulama dan semua ulama mengutuk kafir terkutuk Belanda,” ketusnya.

“Jika walikota tetap bersikeras melanjutkan IPAL maka akan muncul kemarahan rakyat dan walikota akan bernasib sama seperti Robert Mugabe dimakzulkan saat sedang bertahta,” tegas Mawardi.[Red]

Baca Juga