Peusaba: Aceh Bangsa Berperadaban, Jangan Jadi Kaum Yahudi!

IST
BANDA ACEH - Ketua Peusaba Mawardi Usman mengatakan bahwa Maulid memiliki makna penting dalam sejarah Islam. Sultan Salahuddin Al Ayyubi dengan melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW, barulah dapat mengumpulkan semua umat Islam masa itu untuk merebut Baitul Maqdis yang dikuasai kaum Crusader yang amat benci dengan Islam. 

"Mereka telah menjadikan Baitul Maqdis sebagai 'Kakus' dan kandang kuda. Sultan Salahuddin  setelah cukup kuat menyerang Kaum Crusader dalam Bulan Ramadhan," jelas Mawardi. 

Seperti tertulis dalam sejarah Perang Hittin, lanjut Mawardi, Kaum Crusader dapat dikalahkan dan ditangkap. Raja Crusader ditangkap dan diperlakukan dengan baik oleh Sultan Salahuddin Al Ayyubi. Namun tidak dengan Knight Of The Templar yang mengotori Baitul Maqdis, mereka semua dibunuh atas perintah Sultan karena kekejaman mereka dan penghancuran mereka terhadap masjid, zawiyah dan makam ulama Islam.

"Mereka merubah masjid, zawiyah dan makam ulama sebagai Kakus. Salahuddin mengampuni para Crusader yang lain dan tidak membunuh Raja Crusader seperti katanya yang dicatat dalam tinta emas sejarah," sebutnya. 

"Seorang Raja tidak boleh membunuh raja lainnya" itulah akhlak kemuliaan Islam. Mawardi menjelaskan, penguasaan Baital Maqdis oleh Kafir Crusader itu hampir 90 tahun lamanya sebelum dibebaskan Sultan Salahuddin Al Ayyubi. Kisah ini harus menjadi Ibrah bagi kita orang Aceh yang beberapa kelompok hendak menjadikan kompleks makam ulama sebagai tempat pembuangan tinja. 

"Kutukan Allah akan menimpa bagi orang yang mengganggu para wali-Nya. Rakyat Aceh tidak boleh lupa puluhan tahun hidup dikenal sebagai bangsa tanpa pemilik dalam konflik perang yang nyaris tanpa akhir. Hari ini dengan rahmat Allah bangsa Aceh dikunjungi masyarakat seluruh dunia, tunjukkan pada bangsa luar kita bangsa yang berperadaban jangan jadi Kaum Yahudi dan Crusader yang mau membuat makam ulama dan Aulia sebagai tempat pembuangan tinja," tegasnya. 

"Aceh adalah sebuah negeri Islam dengan situs sejarah Islam terbanyak yang masih ada, maka kewajiban seluruh rakyat Aceh dan dunia untuk menjaganya sebagai pembelajaran bagi generasi kini dan generasi yang akan datang," tandas Mawardi.[*]

Baca Juga