Terkait 'Seabrek' Indikasi Masalah di SMAN 2 Patra Nusa, Ini Penjelasan Sang Kepsek!

ACEH TAMIANG - Ketua LSM Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) Aceh, Nasruddin, kepada LintasAtjeh.com, Rabu (29/11/2017) kemarin, menyampaikan 'seabrek' indikasi permasalahan yang mendera SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang. Saat dikonfirmasi, sang kepala sekolah, bernama Drs Junaidi mengaku sedang mengikuti rapat para kepala sekolah di Kota Langsa.

Saat itu, ketika LintasAtjeh.com meminta keterangan melalui telepon selulernya, Junaidi beralasan bahwa dirinya sedang melaksanakan rapat yang akan berlangsung sampai dengan pukul 22.00 WIB. Junaidi meminta agar dapat bertemu langsung dengan wartawan LintasAtjeh.com pada waktu dirinya selesai rapat. Karena padat kegiatan di Kabupaten Aceh Tamiang sehingga tidak mungkin menuju Kota Langsa pada saat pukul 22.00 WIB, maka wartawan LintasAtjeh.com meminta Junaidi untuk menjawab melalui telepon seluler, atau melalui email saja.

Sejumlah indikasi permasalahan yang sudah dikonfirmasi, walau pihak Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed, tidak mau mengklarifikasi melalui telepon seluler, dan juga melalui email, media online LintasAtjeh.com langsung mempublikasi, namun tetap mengacu kepada UU Pers Nomor: 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Pasca munculnya sejumlah berita tentang berbagai indikasi permasalahan yang mendera SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed, tepat pada hari Jum'at (01/12/2017) pagi, Junaidi menelpon wartawan LintasAtjeh.com, dan mengatakan bahwa dirinya sudah punya waktu untuk bertemu dengan tujuan 'memberikan' keterangan terkait berbagai indikasi masalah di sekolah menengah atas yang sedang dipimpinnya saat ini.

Ketika bertemu dengan wartawan LintasAtjeh.com, di salah satu warung kopi dalam kawasan Desa Simpang Empat, Kecamatan Karang, Aceh Tamiang, Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed, Drs Junaidi, memberikan menjelasan tentang berbagai indikasi permasalahan di sekolah yang dia pimpin saat ini. 

Pertama, terkait indikasi tentang mengharuskan para siswa/i kelas XII (dua belas) untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel) selama empat bulan berturut-turut dengan biaya yang wajib dibayar oleh setiap siswa/i sejumlah Rp.525,000, per-bulan. Dan sebab ruang kelas yang disediakan 'tidak bersifat khusus', karena dari 59 jumlah siswa/i, hanya ada dua ruang kelas saja. Satu ruang kelas berjumlah 30 siswa/i dan satu ruang kelas lagi, 29 siswa/i, Junaidi menjelaskan bahwa pelaksanaan bimbel bukanlah kehendak dari sekolah, tapi karena keinginan dari para orang tua/wali bersama komite.

Junaidi menerangkan, sebelum dilaksanakan bimbel, para orang tua/wali bersama komite sudah menggelar musyawarah. Namun ketika ditanya tentang berapa banyak para orang tua/wali yang hadir saat dilaksanakan musyawarah tersebut, dan apakah Ketua Komite Sekolah SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed ada menghadiri musyawarah dengan para orang tua/wali? Dengan bahasa yang sedikit pelan, Junaidi mengatakan, para orang tua/wali yang hadir sekitar 50 persen dan ketua komite tidak hadir.

Dia menambahkan, terkait permasalahan ruang kelas pelaksanaan bimbel yang tidak ubahnya dengan pelaksanaan rombongan belajar (rombel), sebab dari 59 jumlah siswa/i, hanya ada dua ruang kelas saja. Satu ruang kelas berjumlah 30 siswa/i dan satu ruang kelas lagi, 29 siswa/i, Junaidi kembali menjelaskan bahwa hal itu bukanlah tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab dari pihak pelaksana bimbel, yakni 'Ganesha Operator (GO)'.

Kata Junaidi, dalam upaya menjalankan keinginan para orang tua/wali agar anak-anak mereka dapat mengikuti bimbel yang 'sangat mahal' harganya, sekolah menanyakan kepada Ganesha Operator, namun pada awalnya, harga yang ditetapkan oleh pihak Ganesha Operator yaitu sebesar Rp.6 juta per-siswa/i dengan waktu empat bulan. Setelah terjadinya tawar menawar, jatuhlah pada harga senilai Rp.2,100,000 per-siswa/i, dengan ketentuan, dibayar sebesar Rp.525.000 per bulan untuk setiap siswa/i. Makanya Ganesha Operator menggunakan dua ruang kelas untuk pelaksanaan bimbel di SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed.

Lanjutnya, mengenai adanya indikasi bahwa pelaksanaan bimbel di SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed kurang efektif karena dikabarkan pada saat mengikuti bimbel, para pembimbing kerap membiarkan para siswa/i tidur-tiduran di ruang kelas, dan ketika para siswa/i mengajukan pertanyaan kepada pihak pembimbing, juga dikabarkan pembimbing kerap tidak memberikan penjelasan atau jawaban yang baik dan benar, malah tidak jarang disuruh bahas dengan sesama teman-teman, lagi-lagi Junaidi berdalih bahwa hal itu adalah tanggung jawab pihak Ganesha Operator, bukan tanggung jawab pihak sekolah.

Anehnya, saat ditanya, apakah selama dilaksanakan bimbel, dirinya selaku kepala sekolah pernah melakukan pemantauan? Dan apakah SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed akan terlepas dari tanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbel yang dilaksanakan oleh Genesha Operator? Junaidi mengaku bahwa selama ini dirinya belum pernah melakukan pemantauan sekalipun dan mengenai pertanggung jawaban sekolah, Junaidi malah menjawab dengan bahasa memelas dan menyampaikan ungkapan minta tolong kepada wartawan LintasAtjeh.com.

"Saya akui bahwa ruangan kelas untuk pelaksanaan bimbel tidak ubahnya seperti ruang kelas untuk pelaksanaan rombel. Penjelasan abang bahwa pelaksaan bimbel di SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed dapat diindikasikan sebagai aksi penipuan dan pembodohan terhadap anak bangsa adalah benar. Selama ini sayapun belum sempat melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan bimbel. Saya mohon bantuan dan pertolongan dari abang," terang Junaidi.


Selanjutnya, yang kedua, terkait sebab dari tragedi kebakaran asrama putra milik SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed, Aceh Tamiang, pada tahun 2016 kemarin, seluruh orang tua/wali siswa yang menetap di asmara yang terbakar tersebut, yakni sejumlah 5 (lima) siswa, menyatakan sikap kecewa terhadap sekolah, lalu memindahkan anak-anak mereka dari SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed, pada mulanya Junaidi berdalih bahwa pindahnya ke lima siswa bukanlah karena efek dari asrama yang terbakar.

Namun saat dimintai penjelasan tentang kronologis pindahnya ke lima siswa yang asramanya terbakar pada tahun 2016 lalu, akhirnya Junaidi mengakui bahwa para orang tua/wali tidak terima anak-anak mereka diungsikan ke asrama para guru, lalu memindahkan ke sekolah yang lain. Junaidi mengatakan, pasca terbakarnya asrama, pihak sekolah tidak memiliki pilihan, selain mengungsikan para siswa ke asrama para guru yang juga berlokasi di pekarangan SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed.

Ketika ditanya, apakah ada permasalahan lain sehingga saat itu, para orang tua/wali memindahkan anak-anaknya dari SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed? Junaidi mengatakan tidak ada, dan jika ada alasan lain, maka dirinya mengatakan siap bertanggung jawab.


Kemudian yang ketiga, terkait penyelenggarakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 18 Tahun 2017, pihak SMA Patra Nusa mengadopsi konsep budaya barat/kafir yang dilarang oleh Agama Islam, yakni melaksanakan acara bernama prom night dan pelaksanaan acaranya dilakukan pada malam hari, mulai pukul 20.00 s.d 23 WIB? Junaidi langsung meminta ma'af dan diapun mengakui bahwa acara tersebut jelas-jelas mengadopsi budaya barat/kafir. Dia berjanji pada tahun-tahun selanjutnya tidak akan lagi menyelenggarakan acara prom night. Namun demikian Junaidi juga menjelaskan bahwa pada siang harinya ada melaksanakan kenduri anak yatim.


Ke empat, terkait pengutipan uang senilai Rp.15,000 perbulan kepada para siswa/i yang diduga tanpa terlebih dahulu dimusyarawarahkan dengan para orang tua/wali dan juga terindikasi dilakukan dengan cara tidak transparan, bahkan ada kesan terjadinya manipulasi anggaran serta mengarah kepada tindak pidana korupsi, Junaidi menjelaskan bahwa pengutipan uang 15.000 per-bulan kepada setiap siswa/i sudah terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan para orang tua/wali dan setiap penggunaannya ada laporan pertanggung-jawaban. 

Namun saat ditanya tentang berita acara musyawarah dan laporan pertanggung-jawaban, Junaidi mengaku ada menyimpan di sekolah dan siap menunjukkan ketika wartawan LintasAtjeh.com berkunjung ke SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed.


Selain itu, ketika ditanya terkait tidak dipasangnya papan pengumuman yang menyampaikan informasi tentang jumlah dana BOS yang diterima sekolah dan keterangan tentang penggunaannya oleh pihak sekolah sehingga para orang tua/wali yang anak-anak mereka di sekolah tersebut dapat mengetahui tentang permasalahan dana BOS, selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed, Drs Junaidi mengaku bahwa papan informasi tersebut belum pernah dipasang dan dia berjanji akan segera memasang papan informasi terkait dana BOS.

Kemudian, saat ditanya tentang dugaan adanya oknum guru yang kerap mengintervensi dirinya, Junaidi sempat terdiam sesaat, lalu mengatakan bahwa selama ini ada juga pihak-pihak mempertanyakan hal itu kepada dirinya. Untuk hal itu, Junaidi hanya bisa menjelaskan, jumlah guru yang negeri sangat sedikit. Dihitung dengan dirinya jumlah yang negeri hanya sebanyak delapan orang.

"Saya akui bahwa masih banyak permasalahan yang terjadi di SMA Negeri 2 Patra Nusa Manyak Payed, cuma perlu diketahui bahwa saat ini jumlah guru yang PNS hanya tujuh orang, delapan dengan saya. Jumlah asrama 6 unit, dan 4 rusak parah. Sedangkan jumlah siswa/i, secara keseluruhan berjumlah 234 orang," pungkas Junaidi.[Zf]

Baca Juga