Babinsa Koramil Sawang Dampingi Petani Garam

ACEH SELATAN - Garam salah satu kebutuhan terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Pembuatannya di Indonesia sebagian besar dilakukan secara tradisional oleh petani rakyat, selain oleh perusahaan garam industri. 

Kebutuhan garam di Indonesia sangat tinggi, diperkirakan per tahun sebanyak 4,3 juta ton. Sehingga pemerintah memutuskan impor karena di pasar terjadi kelangkaan garam. Hanya 1,8 juta ton garam dipasok dari dalam negeri, tidak terkecuali termasuk wilayah Kabupaten Aceh Selatan. 

Menyikapi hal tersebut, Babinsa selaku aparat teritorial punya andil besar dalam mendukung petani garam, dengan cara memberikan motivasi dan melakukan pendampingan di kala petani garam melakukan proses pengolahan. 

Seperti yang dilakukan oleh Babinsa Koramil 04/Sawang, Serda Erwin Satria Hasibuan yang bertugas menjadi Babinsa di Desa Lhok Pawoh tempat pembuatan garam tradisional. 

Ia mencoba menyemangati petani garam untuk terus melanjutkan pembuatan garam secara tradisional demi menutupi kelangkaan garam selama ini dan menjadi keprihatinan akhir-akhir ini. 

"Kita hanya bisa memberi semangat dan perhatian kepada masyarakat petani garam. Meskipun banyak harapan mereka yang tidak terwujud, tentunya terkait dukungan sarana dan prasarana dalam pembuatan garam," ungkap Serda Erwin. 

Lanjutnya, petani garam disini merupakan warga yang tinggal di sepanjang garis pantai atau pesisir dan pekerjanya kebanyakan ibu rumah tangga. 

"Ibu rumah tangga memilih untuk memproduksi garam secara tradisional karena mereka melihat ada yang bisa dimanfaatkan untuk tambahan ekonomi," katanya. 

Menurut informasi yang diperoleh awak media saat mendatangi tempat produksi garam di Desa Lhok Pawoh, Kecamatan Sawang, Senin (22/01/2018), saat ini harga garam naik hingga 20 ribu perkilo, yang sebelumnya hanya 13 ribu. 
Salah satu petani garam warga Desa Lhok Pawoh, Sari Banun (75), membenarkan bahwa saat ini terjadi kesulitan dan kelangkaan garam. 

"Sekarang langka garam, harga juga naik sampai 20 ribu, tapi kami hanya masak sedikit sedikit saja untuk kebutuhan di Desa saja," ucapnya. 

Ia juga menjelaskan, pemasakan garam dilakukan selama dua hari dengan dibakar menggunakan tungku api. Proses ini dilakukan secara tradisional dan hasilnya hanya untuk dipasarkan di desa. 

"Waktunya lumayan lama sampai dua hari kita masak, nanti kalau sudah jadi kita jual didesa saja, ya seperti ini, " tunjuknya ke kuali yang berisi garam. 

Perlu diketahui, petani garam Desa Lhok Pawoh sangat mengharapkan bantuan dan perhatian dari pemerintah daerah terhadap pemberdayaan usaha tradisional yang sudah dirintis puluhan tahun dan sudah menjadi pekerjaan turun temurun. 

Baik itu berupa sarana dan prasarana maupun peningkatan mutu dari tradisional menuju modern yang lebih higienis. Sehingga masyarakat petani garam dapat meningkatkan kesejahteraan serta mewujudkan meningkat produksi garam.[Red]

Baca Juga