LintasAtjeh.com Menginspirasi, Mengedukasi dan Mencerdaskan Generasi Anti Hoax.

Gelar Dialog, Bupati Tegaskan 'Manajemen' RSUD Aceh Tamiang Harus Diperbaiki

ACEH TAMIANG - Bupati dan Wakil Bupati menggelar dialog audensi dengan direktur, para dokter dan tenaga medis dalam jajaran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang, yang dilaksanakan di Aula Setdakab setempat, Kamis (11/01/2018) malam. 

Dialog tersebut membicarakan tentang persoalan pelayanan yang ada, sebagai upaya pembenahan RSUD Aceh Tamiang agar lebih baik lagi kedepan. Sejumlah pejabat yang turut hadir diantaranya, Seketaris Daerah (Sekda) Ir. Razuardi, MT, Asisten Adminitrasi Umum Drs. Rianto Waris, Kabag Tata Pemerintahan (Tapem) Drs. Seprianto.

Saat dialog, Bupati Aceh Tamiang, H. Mursil, SH, S.Kn, menegaskan agar managemen rumah sakit harus diperbaiki. Untuk mengurus 41.000 jiwa orang miskin merupakan tugas berat yang menjadi tanggung-jawab bersama.

"Bukan saja tentang permasalahan obat-obatan dan toiletnya saja, tapi segala konflik yang ada di rumah sakit harus bisa diselesaikan secepatnya," terang bupati pada acara dialog yang dimulai sejak pukul 20.00 WIB. 

Salah seorang dokter yang hadir, yakni dr. Lia mengatakan, permasalahan pertama di RSUD Aceh Tamiang yang menjadi salah satu kendala adalah masalah sumber daya manusia (SDM), karena masih kurang kualitasnya. 

Menurut dr Lia, para perawat harus terus ditingkatkan kualitasnya dengan berbagai program pelatihan yang diselenggarakan setiap tahunnya sehingga dengan demikian diharapkan para perawat akan mampu memberikan pelayanan rumah sakit secara baik.

"Berhubungan dengan akreditasi, kami diajarkan untuk bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP), oleh karenanya kami mohon dapat dibantu. Alat-alat medis di RSUD Aceh Tamiang harus dipenuhi dan tersedia," sebut dr. Lia.

Kepala ruangan ICU RSUD Aceh Tamiang, Yun Charlis turut menambahkan bahwa masalah tenaga kerja perawat tidak harus dikeluarkan semuanya, dan sebaiknya diberikan kebijakan dalam bentuk seleksi yang lebih objektif. 

"Mereka ada yang sudah 10 tahun bekerja namun tidak ada pengangkatan. Ini yang sangat menyakitkan, dan kami berharap seluruh medis dilakukan medical check-up minimal 1 sekali," terangnya.

Selain itu, lanjutnya lagi, banyak bangunan yang direhab masih tidak sesuai standart Kemenkes. Sebelum diisi keadaan gedung harus uji kelayakan bangunannya, apa perlu dipakai atau direnovasi.

"Kamar operasi juga masih sedikit jumlahnya, sedangkan para pasien yang akan operasi sangat banyak, sehingga harus antri dan imbasnya adalah, para pasien kerap mengamuk karena penudaan jadwal operasi. Alat gunting juga kurang mendukung karena banyak yang tumpul. Hal ini terjadi karena kurangnya koordinasi dalam internal.[ZF]

Baca Juga