LintasAtjeh.com Menginspirasi, Mengedukasi dan Mencerdaskan Generasi Anti Hoax.

KOBRA Gabung GAM Oposisi Karena Kemiskinan Rakyat Aceh Masih Tinggi

BANDA ACEH - Mantan Panglima GAM Meuruhom Daya, Tgk. Munir alias Abu Rimung Daya berencana akan mendirikan wadah anak syuhada Aceh bernama KOBRA (Komando Barisan Rakyat Aceh). Bukan hanya itu, ia juga berencana akan bergabung dengan Front Gerakan Marwah Aceh (FGMA) untuk mengawal pemerintahan di Aceh agar merealiasikan kesejahteraan.

"GAM Oposisi telah lahir, pihaknya merencanakan akan membawa anak-anak syuhada se-Aceh yang masih telantar, akan dibawa untuk menduduki istana Wali Nanggroe guna meminta pertanggungjawaban. Namun belum ditentukan waktunya," demikian ucapnya saat konferensi pers mendampingi Presidium GAM Oposisi Tgk. Sufaini Syekhy di Lampineung Kupi Jln. Panglima Nyak Makam Kec. Ulee Kareng Kota Banda Aceh, Kamis (26/09/2018).

Dijelaskannya, ia bergabung dengan GAM Oposisi karena selama ini merasakan perdamaian Aceh hanya dimanfaatkan oleh segelintir elit atau kelompok kepentingan. Maka melalui GAM Oposisi ini, dirinya mengajak masyarakat untuk bersatu agar dapat mewujudkan kesejahteraan bagi Aceh.

"Kami berharap kita semua dapat bersama memikirkan nasib bangsa Aceh kedepan, jangan sampai pengorbanan yang telah dikorbankan oleh masyarakat Aceh hanya dimanfaatkan oleh kepentingan. GAM Oposisi akan menggerakan langkah untuk bersama-sama menjaga Aceh, jangan sampai kedepan dimanfaatkan lagi oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya Panglima," ungkapnya.

Masih kata dia, aejauh ini MoU Helsinki belum ada realisasi yang nyata. Apa gunanya pertumpahan darah dan ribuan orang mati kalau tidak ada kejelasan tentang kesejahteraan kombatan GAM? Sejauh ini keistimewaan Aceh pasca damai hanya dimanfaatkan oleh golongan kelompok tertentu.

"Kenapa masih terjadi pengangkatan senjata, karena tidak elit atau tokoh Aceh yang memikirkan nasib masyarakat Aceh sampai ketingkat bawah? Kemiskinan Aceh masih dikategorikan sangat tinggi. Oleh karenanya, GAM Oposisi akan memperjelas MoU Helsinki demi kesejahteraan masyarakat Aceh. Jangan sampai diperalat oleh hasil perjuangan, karena saat memasuki tahapan Pileg dan Pemilu banyak pihak memanfaatkan kepentingan perjuangan GAM untuk memilih mereka, setelah terpilih akan ditinggalkan," ungkit Abu Rimung.

Jelasnya lagi, maka dengan lahirnya GAM Oposisi akan mendorong Pemerintah untuk melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat sampai ke pelosok desa. Tidak perlu melahirkan lagi kekerasan dengan mengangkat senjata. Karena kita dapat memanfaatkan ilmu pemikiran kita kedepan, buatlah sesuatau yang baik bagi Aceh kedepan.

"Karena tidak ada gunanya lagi mengedepankan kekerasan yang ada kerugian bagi generasi Aceh. Maka GAM Oposisi akan mendorong Pemerintah Republik Indonesia dan khususnya Pemerintah Aceh untuk melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat," harapnya.

GAM Oposisi, terang dia, 13 tahun MoU Helsinki berjalan, masih banyak persoalan kesejahteraan yang belum selesai. Wajar jika Nurdin Ismail alias Din Minimi mengangkat senjata, karena belum adanya kesejahteraan yang dilahirkan oleh elit pimpinan. Keberadaan Wali Nanggroe Aceh sejauh ini tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan dia tidak berterimakasih kepada masyarakat Aceh dan kepada ulama Aceh.

"Maka dari itu GAM Oposisi ingin memperjelas permasalahan yang belum selesai di Aceh, seperti masih adanya rakyat Aceh yang telantar akibat kemiskinan. Pihaknya mengajak semua masyarakat menyatukan kekuatan guna memperjelas realiasi MoU Helsinki, karena konflik dan perdamaian Aceh bukan hanya sebatas antara GAM-RI, tetapi seluruh rakyat juga sebagai korban konflik tersebut," tegasnya.

" Selain itu, kami juga mengharapkan Pemilu di Aceh agar berjalan dengan damai dan sejuk, jangan ada lagi pengancaman atau intimidasi di bumi Aceh. Kita perlu membicarakan tentang persoalan ini karena menyangkut dengan masa depan Aceh," tutup Abu Rimung Daya.[DA/Red]

Baca Juga