-->








Ada Dua Misteri Dalam "Ruang Kokpit" AirAsia QZ 8501

05 Januari, 2015, 12.57 WIB Last Updated 2015-01-05T05:57:07Z
AUSTRALIA - Berbagai perkiraan spekulatif tentang penyebab utama jatuhnya pesawat QZ8501 maskapai AirAsia, Minggu (28/12/2014), terus mewacana.

Termutakhir, pesawat tersebut jatuh ke perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, diprediksi lantaran human error. Spekulasi itu bukan tanpa alasan kuat. Ahli penerbangan Australia menilai,

Ahli penerbangan sipil Australia, Neil Hansford, mengatakan setidaknya ada dua misteri dalam "ruang kokpit" AirAsia 8501 terkait kesalahan pilot dan wakil pilot yang bisa menyebabkan tragedi tersebut.

"Pertama, sangat aneh AirAsia 8501 menjadi satu-satunya pesawat yang berani terbang di ketinggian 32 ribu kaki pada hari itu. Padahal, otoritas meteorologi dan klimatologi telah membuat dokumen resmi terkait aktivitas petir di ketinggian tersebut," tutur Neil seperti dikutip dari ibtimes.co.in, Senin (5/1/2015).

Neil menuturkan, setiap pilot pasti akan mengindari daerah yang biasa disebut "pabrik badai" jika telah mendapat dokumen cuaca. "Bahkan pilot veteran sekali pun akan mengindari 'pabrik badai'" imbuhnya.

Karenanya, Neil mempertanyakan apakah pilot dan wakil pilot memiliki dokumen cuaca dan telah membuat rencana terbang (flight plan) serta membawanya di kokpit pesawat nahas tersebut.

Selanjutnya, terus Neil, hal yang aneh dan misterius adalah pilot dan wakil pilot pesawat itu berasal dari dua negara berbeda yang memiliki kendala komunikasi lantaran berbeda bahasa.


"Pilot berbahasa Indonesia, sedangkan wakilnya berbahasa Perancis. Yang jadi misteri, apakah keduanya bisa berbahasa Inggris secara baik? sehingga bisa mendiskusikan rencana terbang dan bersepakat soal ketinggian pesawat? itulah dua misteri di ruang kokpit yang belum terpecahkan," tandasnya. (Tribunnews)
Komentar

Tampilkan

Terkini