-->

Aktifis Aceh di Luar Negeri Juga Peringati Milad GAM

05 Desember, 2015, 21.21 WIB Last Updated 2015-12-05T14:22:05Z
DENMARK – Beberapa Aktivis World Acehnese Association (WAA) turut memperingati hari perjuangan Aceh atau lazim disebut dengan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di kawasan Kota Aalborg, Denmark, Jum'at (4/12/2015) kemarin.

Bagi aktivis WAA, kata Team Koordinator WAA, Anwar Omar, melalui siaran persnya yang diterima lintasatjeh.com, Sabtu (5/12/2015), acara memperingati hari bersejarah ini sudah menjadi angenda tahunan dan program andalan dalam memaknai nilai sejarah Aceh di luar negeri, seperti yang sudah pernah dilakukan oleh sang proklamator almarhum Wali Neugara Aceh Tengku Hasan Muhammad. 

Di hari ulang tahun Gerakan Aceh Merdeka yang ke 39 (04 Desember 1976 - 04 Desember 2015), pihaknya sebagai aktivis mengevalusi dan menganalisa kembali sejauh mana pengorbanan, keberanian para pejuang serta para syuhada Aceh dulu dalam berkiprah demi memperjuangkan kepentingan bangsa.

Mereka, para pahlawan yang ikhlas megorbankan tujuh prinsip dalam memperjuangkan hak bangsa Aceh, yaitu dengan rela mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, harta, berpisah dengan keluarga yang sangat dicintai, darah dan nyawa sekalipun.

Menurut kutipan analisa tersebut, terlihat sekali bahwa begitu sangat mahal harga sejarah pejuangan GAM dalam mengupaya mengangkatkan kembali marwah bangsa Aceh untuk merintih sebuah negara yang pernah berdaulat.Tidak sanggup dibayar dengan apapun melainkan patut dikenang sepanjang masa walau di manapun berada.

Dalam menghargai sejarah perjuangan bangsa dan para syuhada, perlu dicatat dan dilukiskan oleh regenerasi bangsa tersebut dalam ingatan untuk mengambil tanggungjawab moral terhadap membangun pondasi perjuangan yang belum selesai sesuai masa.

Oleh sebab itu, aktivis WAA berkomitmen pada setiap 4 Desember, mengadakan kegiatan khusus, berdoa, menghadirkan atau mengibarkan bendera perjuangan Gerakan Aceh Merdeka pada acara Milad GAM sebagai simbol nasionalisme ke Aceh-an. 

Menurut hemat kami, imbuhnya, sebagai aktivis persatuan masyarakat Aceh ban sigom Donja, menilik masih adanya kemunduran dalam sesi memperingati hari sejarah Aceh. Dalam arti dengan mudah ada yang mengubah atau mengulur waktu dengan alasan-alasan tertentu. Padahal itu sangat tidak rasional, karena menurut kami siapa saja pejuang yang tidak memperingati hari sejarah sesuai fakta, maka mereka termasuk orang-orang yang tega melakukan pembodohan sejarah atau menunda kemerdekaan.

WAA mengingatkan semua pihak, apalagi yang katanya masih komit dengan perjuangan seunambong endatu. Peringatilah sejarah itu sesuai hari dan tanggal, begitu juga kepada wakil-wakil rakyat Aceh.

Kedepan harus mengupayakan dan menqanunkan hari-hari bersejarah sebagai hari libur nasinoal di Aceh. Kalau sudah menjadi qanun yang sah, maka pemerintah Aceh jangan segan-segan untuk mengumumkan kepada masyarakat sehingga masyarakat Aceh secara umum atau hari-hari yang harus dikenangnya.[Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini