![]() |
| IST |
DAMASKUS -
Presiden Suriah Bashar al-Assad menuduh Prancis mendukung terorisme dan perang.
Assad pun tak setuju jika Prancis dijadikan tempat untuk penandatanganan
kesepakatan damai guna mengakhiri konflik Suriah, yang telah berlangsung empat
tahun.
Dalam wawancara di stasiun televisi Ceko, Assad
ditanya apakah dia setuju jika kesepakatan damai dengan pemberontak Suriah
ditandatangani di Praha, Ceko seperti yang diusulkan Presiden Ceko Milos Zeman
pada September lalu.
"Pada dasarnya, jika Anda menanyakan warga
Suriah mereka akan mengatakan bahwa mereka tak ingin konferensi damai di
Prancis, misalnya, karena Prancis mendukung terorisme dan perang, bukan
perdamaian," cetus Assad seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa
(1/12/2015).
"Dan karena Anda menyinggung Praha, itu
secara umum akan diterima karena posisi berimbang negara Anda," imbuh
Assad.
Sebagai pos diplomatik Barat terakhir di Suriah,
Kedutaan Ceko menjadi pusat komunikasi rahasia Amerika Serikat dan Uni Eropa
dengan rezim Suriah di tengah langkah-langkah yang dilakukan untuk menghentikan
konflik Suriah.
Prancis belakangan ini kian gencar dengan
penolakannya terhadap Assad. Prancis bahkan menyebut Assad sebagai pembantai
rakyatnya sendiri. Pada Senin (30/11) waktu setempat, Menteri Luar Negeri
Prancis Laurent Fabius menegaskan, tak ada rencana untuk bekerja sama dengan
militer Suriah dalam memerangi kelompok radikal ISIS, sebelum Assad
dilengserkan.
Dalam kunjungannya ke Washington, AS pekan lalu,
Presiden Prancis Francois Hollande menyampaikan kembali tentang tekadnya untuk
melihat Assad mundur guna memberikan kesempatan perdamaian di Suriah. "Dia
telah menjadi masalah -- dia tak bisa menjadi solusi," tandas Fabius. [Detik]


