-->

Dewan Sayangkan Lokasi Milad GAM Dijaga Rata Sudut

04 Desember, 2015, 20.27 WIB Last Updated 2015-12-04T13:27:59Z
LHOKSUKON - Sejumlah pihak menyatakan kekecewaan atas sikap petugas keamanan dari TNI dan Polri yang menjaga ketat di setiap sudut pelaksanaan doa dan zikir bersama memperingati Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke-39, yang diperingati hari ini, 4 Desember 2015.

Pemandangan itu sebagaimana yang terjadi pada acara doa dan zikir bersama di makam Syuhada, Banta Saidi, di Desa Buket Batee Badan, Sagoe Raja Sabi, Daerah VI, Wilayah Pasee, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jum'at (04/12/2015).

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara, Ismail A. Jalil, SE, di sela-sela acara itu menyangkan sikap petugas keamanan yang terlalu berlebihan. Menurut Ayah Wa--sapaan akrabnya--mereka tidak menghormati kearifan lokal, budaya dan adat masyarakat Aceh.

Karena, Milad GAM yang diisi dengan doa dan zikir untuk para pejuang GAM itu mengandung nilai luhur adat istiadat.

Ayah Wa menilai, pemerintah pusat tidak profesional dalam menyikapi permasalahan Aceh hari ini, sehingga pergerakan-pergerakan provokasi di tengah-tengah masyarakat terus saja terjadi. Termasuk dugaan adanya intervensi pihak keamanan yang menjaga ketat Milad.

"Aceh sebenarnya Negeri yang merdeka, bukan telah dan juga akan merdeka. Tapi negeri yang merdeka. Karena Aceh tidak ada bukti apapun pernah dijajah. Kenapa hari ini, pemerintah Pusat mencekal hingga memasuki ranah-ranah hari sakral," ujar Ayah Wa.

Menurutnya, pemerintah saat ini tidak konsisten terhadap permasalahan Aceh sehingga lahir berbagai macam isu bahwa kondisi Aceh sedang tidak kondisif. Padahal, menurutnya, Aceh aman dan terkendali, terlepas dari sikap segelintir orang yang tidak bertanggung jawab dengan menciptakan gerakan kriminalitas tinggi.

"Masalah Aceh bukan sekedar antara masyarakat Aceh dengan pemerintah pusat. Tapi juga tanggungjawab negara luar, namun hari ini Aceh masih saja menagih janji yang tak kunjung terealisasi. Aceh hanya menunggu keputusan Menkopolhukam RI," tukas Ayah Wa.

"Bendera Aceh bukan hal yang ilegal, bendera Aceh telah resmi, kami hanya patuh pada atasan, inilah yang menghentikan tangan segenap rakyat untuk mengibarkannya," ujarnya.

Kendati pun begitu, ia mengharapkan pihak keamanan tidak harus bersusah payah mencari-cari bendera Aceh di tangan rakyat. "Politik Aceh tetap Bulan Bintang, bendera Aceh ini adalah milik rakyat yang sah, si pemegang bendera itu bukanlah pelaku kriminal di Aceh," ungkapnya. [Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini