BANDA ACEH - Gotong-royong adalah
sebuah peninggalan budaya indatu atau nenek moyang bangsa Indonesia yang sangat
luhur. Semangat gotong-royong bukan semata-mata mengenai kerjasama tetapi lebih
dari itu, gotong royong juga merupakan sarana silaturrahmi dan mempererat rasa
kekeluargaan.
Hal tersebut disampaikan
oleh Sekretaris Daerah Aceh, Drs Dermawan MM, dalam sambutan singkatnya pada kegiatan gerakan bersih pantai
dan laut serta penanaman
mangrove, yang dipusatkan di areal parkir makam ulama
kharismatik Aceh, Syiah Kuala. Sekda hadir dalam kegiatan tersebut mewakili
Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, yang berhalangan hadir.
"Melalui kegiatan ini,
mari kita tanamkan dan galakkan kembali semangat gotong-royong dalam kehidupan
sehari-hari, agar kebiasaan yang telah diwariskan oleh indatu kita ini tetap
lestari dan kebersamaan dan rasa kekeluargaan tetap terpupuk dengan baik
ditengah masyarakat," ujar Sekda.
Gerakan bersih pantai
tersebut merupakan rangkaian acara yang digelar dalam rangka memeriahkan dan
menyemarakkan peringatan Hari Nusantara ke-15, yang pada tahun ini dipusatkan
di Pelabuhan Pendaratan Ikan PPI Lampulo, Banda Aceh.
Gerakan Bersih pantai dan Laut yang digagas oleh Dinas Cipta
Karya Aceh ini diikuti oleh ribuan Pegawai Negeri Sipil, tenaga kontrak Setda
Aceh dan Kota Banda Aceh serta masyarakat ini dilaksanakan pada tiga zona kawasan pantai di wilayah Kota Banda Aceh, yaitu Pantai Syiah Kuala,
Pantai Alue Naga dan kawasan Gampong Jawa.
"Alasan pelaksanaan
gotong royong kali ini kita pusatkan di kawasan pantai adalah dalam rangka
menyemarakkan peringatan Hari Nusantara. Kedepan kita harapkan seluruh instansi
pemerintah dapat menggalakkan gotong-royong. Mudah-mudahan kegiatan ini memberi inspirasi bagi seluruh elemen
masyarakat agar peduli
pada lingkungan dan mau bertindak aktif menjaga ekosistem pesisir pantai yang
ada di daerah kita ini."
Sekda menambahkan, peran lembaga adat sangat berperan penting dalam
melestarikan budaya gotong-royong. Dermawan mencontohkan, beberapa waktu lalu, Lembaga Panglima Laot Lhok
Iboih, Sabang pernah mengerahkan ratusan masyarakat untuk menyemarakkan gerakan
pelestarian ekosistem laut di kawasan Iboh, Sabang.
"Mereka beramai-ramai menanam mangrove di kawasan
pantai dan merawat kembali keindahan terumbu karang yang sempat rusak. Gerakan
lembaga adat seperti itu hendaknya bisa pula digagas di daerah lain, sehingga
tanggungjawab merawat pantai dan menjaga ekosistem laut tidak hanya menjadi
tugas pemerintah, tapi juga menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat," harap Sekda.
Lima
Instruksi Gubernur untuk DKP
Dalam kesempatan tersebut,
sekda juga menyampaikan lima instruksi kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh dan seluruh jajaran SKPA terkait, yaitu
1. Aktiflah mendorong, mengawal dan
mempercepat proses pengelolaan kawasan konservasi perairan di Aceh.
2. Pastikan kawasan konservasi perairan yang
dikelola masyarakat, masuk dalam dokumen Tata Ruang Aceh.
3. Persiapkan dokumen dan data dukung untuk
pengusulan dan penetapan kawasan konservasi perairan Aceh.
4. Segera susun rencana pengelolaan kawasan
pantai dan perikanan Aceh dalam rangka memperkuat program poros maritim di
wilayah barat Indonesia.
5. Bekerjasamalah dengan lembaga terkait
untuk mengurangi aksi ilegal fishing di kawasan laut Aceh.
"Demikian sambutan saya pada kesempatan ini.
Terimakasih kami ucapkan Menteri Negara BUMN dan Kepala Bappenas, Sofyan Djalil, Menteri ESDM Sudirman Said, perwakilan
dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Wali Kota serta Wakil Wali Kota Banda
Aceh serta segenap elemen masyarakat yang telah berpartisipasi dalam kegiatan
ini. Semoga perjuangan kita dalam
melestarikan pesisir pantai Aceh da menumbuhkan kembali semangat gotong-royong bisa berjalan konsisten dan memberi hasil yang
maksimal,"
pungkas Sekretaris Daerah Aceh, Drs Dermawan MM.
Usai pembukaan acara, ribuan peserta
bersama para menteri, Sekda Aceh, Wali Kota dan Wakil Wali Kota terlihat sangat
antusias membersihkan berbagai sampah yang berada dipantai maupun di sela-sela
batu tanggul penahan ombak. Mulai dari sampah plastik ranting hingga batang
kayu besar berhasil disingkirkan oleh masyarakat. Pantai Syiah Kuala, Pantai
Alue Naga dan sebahagian kawasan Gampong Jawa pun terlihat jauh lebih bersih
dari biasanya.
Di kawasan Pantai Syiah Kuala, salah
seorang masyarakat yang enggan disebutkan namanya menyatakan, berseraknya
sampah plastik di kawasan tersebut dikarenakan oleh kebiasaan pengunjung dan
pedagang makanan ringan yang membuang sampah secara sembarangan.
"Pengunjung dan pedagang selalu
membuang sampah jajanan mereka disembarang tempat, bahkan terkadang mereka
membuang sampah ke sela-sela batu tanggul penahan ombak. Ini tentu saja
mengganggu keindahan tempat ini. Kami masyarakat tentu saja sangat menyambut baik
kegiatan gotong-royong ini," ujar pria paruh baya yang enggan disebutkan
namanya itu. [**]



.jpg)





