![]() |
| IST |
PARIS - Ibu dari seorang pengacara yang menjadi korban serangan di
gedung konser Bataclan, Paris, menuduh Belgia lalai dan akan menggugat
pemerintah di Brussel ke pengadilan.
Sebagian besar pelaku serangan di Paris, 13 November 2015,
adalah warga negara Belgia.
"Mereka tidak mengambil tindakan dan akibatnya
keluarga-keluarga hancur dan ada anak-anak yang tak akan mungkin lagi
dilahirkan," kata Nadine Ribet-Reinhart, yang anaknya tewas dalam
serangan.
Anaknya, Valentin Ribet, pengacara antikorupsi berusia 26
tahun termasuk salah satu dari 130 korban tewas serangan di Paris. Kekasih
Ribet, Eva, tertembak tapi nyawanya berhasil diselamatkan.
Para pelaku serangan kebanyakan berlatar belakang Maroko dan
punya kaitan dengan kawasan Molenbeek di Brussel.
Pria yang diyakini sebagai otak serangan, Abdelhamid
Abaaoud, tumbuh berkembang di kawasan ini dan diperkirakan merancang beberapa
upaya serangan yang gagal sebelumnya.
"Semua orang tahu nama Molenbeek. Mengapa pemerintah
Belgia tidak mengambil tindakan (pencegahan)? Mengapa tidak ada pengadilan in
absentia?" kata Ribet-Reinhart kepada stasiun BFM-TV.
"Belgia mestinya bisa menghentikan 10 teroris,"
katanya.
Seorang pengacara Belgia, Johan Platteau, mengatakan Belgia
sebagai entitas negara bisa digugat kalau memang ada bukti kuat telah bertindak
lalai. [Kompas/BBC]


