![]() |
| IST |
JAKARTA - Komisaris
Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkapkan 11 program prioritas yang merupakan
turunan dari delapan misinya sebagai calon Kepala Polri saat uji kelayakan di
Jakarta, Kamis (23/6/2016).
"Ada 11 program
prioritas untuk Polri modern, pertama reformasi internal Polri dengan
pembenahan karir yang belum optimal," katanya di Ruang Rapat Komisi III
DPR.
Reformasi internal Polri,
ia menjelaskan, akan dilakukan dengan memperkuat soliditas internal lewat
komunikasi yang lebih terbuka antara atasan dan bawahan.
Selain itu, dia akan
menjalankan evaluasi karir dan penerapan rekam jejak dalam penempatan personel
serta proses rekrutmen yang bersih, transparan, humanis dan bebas korupsi,
kolusi dan nepotisme.
"Mewujudkan anti
korupsi dan menguatkan pakta integritas, disiplin dan penegakkam hukum,"
ujarnya.
Program keduanya
mewujudkan pelayanan publik yang lebih mudah diakses karena sampai sekarang
keberadaan calon dan respons yang lambat membuat layanan publik kepolisian
susah diakses.
Tito menyatakan akan
memperbaiki layanan publik dengan menyederhanakan pelayanan dan memodernisasi
sistem pelayanan publik.
"Lalu agar mudah dan
bebas calo misalnya pembuatan SIM secara online dan SKCK online," katanya.
Ketiga, Tito akan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia Polri yang profesional dan ideal.
Ia menjelaskan pula bahwa
program peningkatan profesionalisme Polri antara lain akan dilakukan melalui
peningkatan kualitas delapan standar pendidikan Polri, peningkatan pelatihan
fungsi teknis pada satuan kewilayahan dan mengoptimalkan sistem manajemen
kinerja.
"Menyusun rumpun
jabatan fungsional dan sertifikasi profesi dan moderninsasi almatsus dan
alpakam Polri," ujarnya.
Program keempatnya
meningkatkan kesejahteraan anggota Polri, antara lain melalui peningkatan
tunjangan kinerja yang ditargetkan mencapai 100 persen pada 2019.
Selain itu, menurut dia,
upaya peningkatan kesejahteraan bisa dicapai dengan pemenuhan kebutuhan
perumahan dinas anggota, serta meningkatkan program pelayanan dan fasilitas
kesehatan bagi anggota Polri dengan menambah jumlah rumah sakit.
"Peningkatan
tunjangan kemahalan bagi anggota di daerah perbatasan di Papua, peningkatan
dukungan operasional Babinkamtibmas, mengupayakan program wirausaha bagi
anggota polri, dan dukungan asuransi ekselamatan kerja bagi anggota
polri," katanya.
Kelima, dia ingin
meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Program keenamnya,
penataan kelembagaan dan pemenuhan proporsionalitas anggaran serta kebutuhan
minimal sarana dan prasarana, penyederhanaan standar operasional prosedur,
serta restrukturisasi sesuai tantangan tugas antara lain lewat penguatan
Densus, Brimob, dan Baharkam.
"Lalu dengan
pemenuhan kebutuhan minimal SDM dan sarpras, pembentukan Polda Kaltara dan
peningkatan tipologi Polda Lampung dan Riau, serta peningkatan tipologi
polres," katanya.
Program ketujuhnya
mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat, dan kedelapan penegakkan hukum
secara profesional, anti korupsi dan menjunjung HAM.
Tito menjelaskan program
ketujuhnya adalah penguatan keamanan dan ketertiban masyarakat dengan
penggelaran personel berseragam di daerah rawan kejahatan, simpul kemacetan dan
kecelakaan lalu lintas, peningkatan pengamanan perbatasan dan pembangunan pos
perbatasan.
"Pengamanan pilkada
serentak 2017, 2018 dan pileg pilpres 2019 serta pengamanan program prioritas
nasional dan paket kebijakan ekonomi pemerintah," ujarnya.
Selain itu melalui
penanganan kebakaran hutan dan lahan serta penguatan sinergi dengan TNI, Badan
Intelihen Negara, Badan Narkotika Nasional, Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme, Badan SAR Nasional, dan Badan Keamanan Laut.
Program kedelapan Tito
adalah membangun kesadaran akan pentingnya keamanan dan ketertiban masyarakat
dengan membangun daya cegah dan tangkal terhadap kejahatan terorisme, narkoba,
dan separatisme.
Selain itu dia ingin
penanganan kelompok radikal dilakukan secara lebih optimal dengan deteksi dini
aksi dan pemetaan kelompok radikal pro-kekerasan dan intoleransi.
"Mengintesifkan
kegiatan dialogis di kantong-kantong kelompok radikal pro-kekerasan dan
intoleransi dan penegakan hukum yang optimal," katanya.
"Penguatan pembinaan
teknis Polsus dan PAM Swakarsa serta Korwas PPNS dan penguatan kerja sama
dengan masyarakat sipil dalam mengidentifikasi masalah sosial dan upaya
penyelesaiannya," katanya.
Program kesembilannya,
penegakkan hukum yang lebih profesional dan berkeadilan melalui penanganan
kasus-kasus yang menjadi perhatian publik seperti kejahatan jalanan, kejahatan
terhadap perempuan dan anak, terorisme, pencurian ikan, korupsi, narkoba,
kejahatan siber dan kejahatan ekonomi lainnya.
Selain itu Tito akan
menghilangkan pungutan liar, pemerasan, dan makelar kasus dalam proses
penyidikan dan menghilangkan kecenderungan rekayasa dan berbelit- belit dalam
penanganan kasus.
"Peningkatan
kemampuan penyidikan cyber crime, ekonomi, dokpol, labfor, dan sertifikasi
penyidik serta peningkatan sinergi CJS dan penegak hukum lainnya,"
katanya.
Program ke-10 dia,
penguatan pengawasan dengan memperkuat kerja sama dengan pengawas internal dan
memperbaiki sistem pengaduan dan program kesebelasnya menjalankan program quick
wins.[Antara]



.jpg)





