Search This Blog

Banyak Di Baca

IKUTI VIA EMAIL

PV

Nilai Jual Per Hektar Puluhan Juta, Begini Cara Budi Daya Umbi Porang

Share it:
JAKARTA - Tanaman umbi porang yang dikenal dengan nama amorphopallus oncophillus ini tengah ramai menjadi perbincangan. Banyak pihak yang tertarik untuk membudi daya tanaman ini karena jutaan manfaatnya dan juga peluang ekspornya yang menggiurkan.

Porang dapat hidup subur pada hutan tropis. Tanaman yang juga disebut iles-iles ini dikategorikan termasuk tanaman semak dengan memiliki ciri tinggi mencapai 100-250 cm dengan umbi tanaman berada di dalam tanah.

Ciri lainnya, porang memiliki batang yang tegak, lunak, dan tekstur batang yang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang dengan totol putih.

Porang adalah tanaman yang toleran dengan naungan hingga 60%. Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain.

Untuk bibitnya, biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.

Meskipun tanaman porang mudah tumbuh pada berbagai jenis tanah, Namun dalam budidaya tanaman porang agar berhasil dengan baik, sebaiknya perlu memperhatikan syarat-syarat berikut ini:

Keadaan Iklim

Tanaman porang dapat tumbuh pada ketinggian antara 0-700 mdpl, namun yang paling ideal berada pada ketinggian 100-600 mdpl.

Tanaman Porang memiliki sifat khusus yaitu sangat toleransi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh). Tanaman Porang hanya membutuhkan cahaya maksimum sampai 40%.

Keadaan Tanah

Untuk hasil yang optimal, tanaman porang menghendaki kondisi tanah yang gembur/ subur serta tidak becek (tergenang air) dengan Ph tanah antara 6 – 7 serta pada kondisi jenis tanah apa saja.

Kondisi Lingkungan

Tanaman porang dapat tumbuh dengan baik diantara berbagai jenis tanaman naungan seperti Jati, Mahoni Sono, dan lain-lain. dengan tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat semakin baik

Perkembangbiakan tanaman porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Secara umum perkembangbiakan tanaman porang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yakni perkembangbiakan dengan katak, perkembangbiakan dengan biji/buah, Perkembangbiakan dengan Umbi.

Katak merupakan bintil berwarna coklat kehitaman yang muncul pada pangkal atau tangkai daun. Dalam 1 kg Katak berisi sekitar 100 butir katak. Katak ini pada masa panen dikumpulkan kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan bisa langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan.

Sedangkan dengan biji atau buah, tanaman Porang pada setiap kurun waktu empat tahun akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam satu tongkol buah bisa menghasilkan biji sampai 250 butir yang dapat digunakan sebagai bibit Porang dengan cara disemaikan terlebih dahulu.

Jika ingin mengembangbiakan porang dengan umbi yang kecil, ini diperoleh dari hasil pengurangan tanaman yang sudah terlalu rapat sehingga perlu untuk dikurangi. Hasil pengurangan ini dikumpulkan yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bibit.

Apabila dengan umbi yang besar, ini dilakukan dengan cara umbi yang besar tersebut dipecah-pecah sesuai dengan selera selanjutnya ditanam pada lahan yang telah disiapkan.

Biasanya, umbi porang dapat dipanen setelah tanaman berusia 3 tahun atau batang porang sudah terlihat menguning.

Sebenarnya tanaman porang sudah dibudi dayakan sejak 1970-an silam. Namun, sementara ini budidaya porang masih berpusat di daerah Jawa terutama Jawa Timur. Padahal tanaman porang memiliki prospek yang sangat bagus untuk dikembangkan. Tanaman porang merupakan komoditas ekspor dengan pangsa pasar utama Jepang dan China. Bahkan, di Jawa Timur sendiri budi daya tanaman ini sangat didukung oleh pemerintah setempat.

Tanaman porang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Harga porang bisa mencapai Rp2.500 untuk satu umbi dengan berat 4 kilogram. Dalam hitungan normal 100 pohon porang bisa menghasilkan Rp1 juta.

Untuk luasan 1 hektare bisa ditanam sebanyak 6.000 bibit pohon porang, dengan begitu bisa menghasilkan 24 ton/hektare, yakni dengan penghitungan 6.000 dikalikan 4 kilogram. Artinya, dalam hitungan kasar, jika satu hektare bisa menghasilkan 24 ton, dan dikalikan dengan harga Rp2.500/kilogram, kurang lebih bisa menghasilkan Rp60 juta.[Wartaekonomi]
Share it:

ekbis

news

Post A Comment: