-->

Iklan

Peusaba Minta Bantuan Republik Turki Selamatkan Situs Sejarah Gampong Pande

25 Agustus, 2020, 07.36 WIB Last Updated 2020-08-25T00:36:38Z
LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Ketua Peusaba Aceh sangat marah membaca berita di media lokal hari ini bahwa proyek IPAL dilanjutkan kembali dan disetujui Pemerintah Kota Banda Aceh. Padahal jelas-jelas mereka semua tahu bahwa itu adalah situs Islam yang sangat bersejarah. 

Kawasan Gampong Pande sejak 1205 di masa pemerintahan Sultan Johan Syah Seljuq telah menjadi kawasan pusat Istana Kesultanan Aceh Darussalam. Kawasan Istana itu dijadikan tempat pembuangan Sampah sejak zaman Belanda hingga hari ini.  

Peusaba meminta bantuan Pemerintah Turki agar dapat menyelamatkan kawasan Makam Gampong Pande. Pada zaman Sinan Pasha datang ke Aceh 1567 seperti laporan Utusan Aceh ke Istanbul Muhammad Ghauts. Maka Wazir Sinan Pasha menjadikan kawasan Gampong Pande sebagai tempat menempa meriam dan senjata untuk melawan Portugis di Malaka. 

Pada tahun 2013 ditemukan ribuan koin emas di Gampong Pande. Diantara ribuan koin emas itu terdapat banyak koin Turki Utsmani yang menurut ahli bertuliskan Sultan Suleiman (1520-1566) Bin Sultan Selim yaitu Sultan terbesar di Turki Utsmani yang sezaman dengan Sultan Aceh Sultan Alaiddin Al Kahhar (1539-1572). Juga dikawasan Gampong Pande ada makam Sultan Aceh keturunan Perak Malaysia Sultan Alauddin Mansur Syah (1579-1586)  bin Sultan Ahmad Perak serta makam anak Sultan Alaiddin Mansur Syah Perak. 

Namun sekarang, kawasan ini sangat berambisi sekali dilenyapkan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh dan pihak perusahaan untuk proyek pembuangan tinja, sampah, perumahan, dll dengan menimbun situs sejarah makam. Itu sengaja dilakukan karena  kebencian mereka yang mendalam terhadap sejarah Kesultanan Aceh Darussalam dan Sejarah Kesultanan Melayu,  terutama sekali  kebencian mereka terhadap pengaruh Kekhalifahan Turki Utsmani  di Aceh Darussalam. 

Padahal sudah banyak sekali tokoh besar dari dunia Melayu dan sejarawan besar dari dalam luar negeri meminta pemerintah menghentikan proyek pemusnahan situs di Gampong Pande. Lengkap data menjelaskan namun Pemerintah tidak peduli dan terus melanjutkan penghancuran situs sejarah di Gampong Pande. Malah dengan menghalalkan segala cara termasuk membayar beberapa ahli gadungan agar dapat melanjutkan proyek penghancuran situs Kesultanan Aceh Darussalam. 

Peusaba mengutuk keras tindakan Pemerintah Banda Aceh yang tanpa malu berniat melenyapkan bukti peradaban Aceh Darussalam. Peusaba mengingatkan tindakan zalim itu akan dikenang sebagai sejarah buruk  bagi generasi yang akan datang hanya karena sedikit uang rela menghancurkan situs sejarah Islam berumur ratusan tahun di Gampong Pande. 

Ketua Peusaba kali ini benar-benar mengharapkan Pemerintah Turki dapat membantu menyelamatkan situs sejarah makam para ulama Aceh dan Turki Utsmani. Jika tidak maka tujuan kaum Yahudi itu yang ingin melenyapkan makam para ulama akan tercapai. 

Peusaba juga meminta Turki dapat membantu pembelian kembali tanah kesultanan dan situs sejarah Islam di seluruh Aceh yang sekarang dihancurkan oleh kafir keturunan Yahudi Belanda. Sebagaimana sejak dulu bangsa Turki selalu membantu Aceh.

"Wahai Bangsa Turki, wahai Bangsa Cucu para Khalifah Islam bantulah kami Aceh untuk memperjuangkan marwah Aceh, mengambil kembali tanah nenek moyang kami dan menjadikan mereka dapat beristirahat dengan layak atas jasa-jasa mereka kepada kami," pintanya.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini