-->

Iklan

Peusaba Minta Belanda Kembalikan Artefak dan Data Tentang Kawasan Situs Aceh yang Dihancurkannya

21 Oktober, 2020, 11.40 WIB Last Updated 2020-10-21T04:40:41Z

LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - Ketua Peusaba Aceh, Mawardi Usman telah membaca berita keinginan Belanda mengembalikan berlian kepada Kerajaan Banjar. Padahal barang rampasan Kesultanan Aceh Darussalam yang dirampas oleh Belanda lebih banyak. 


Ketua Peusaba Aceh meminta agar Belanda dapat mengembalikan artefak kesultanan Aceh Darussalam yang telah dirampas semasa perang. Yang paling penting juga dikembalikan adalah nisan emas yang dirampas dari makam Sultan Iskandar Muda, Sultan Iskandar Tsani dan Sultanah Safiatuddin. 


Peusaba juga meminta Belanda bertanggungjawab atas penghancuran situs sejarah yang hingga kini masih berlangsung di Aceh. Keranda emas milik Sultan Iskandar Tsani juga sudah diambil emasnya sebanyak 5 kg dan belum dikembalikan hingga kini. 


Kawasan bersejarah Gampong Pande juga telah dirubah menjadi kawasan sampah oleh Belanda untuk menutupi jejak Kesultanan Aceh Darussalam dan membuat penjajahan bertahan lama, namun para prajurit Kesultanan Aceh Darussalam telah membuktikan diri memukul Belanda. 


Peusaba meminta pihak Belanda mengembalikan data tentang kawasan Istana Darul Makmur Gampong Pande dan juga memberikan data tentang semua situs-situs yang telah dihilangkan agar dapat dipulihkan kembali. Karena apapun kejadiannya, faktanya Belandalah yang pertama kali merusak peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam. 


Peusaba juga meminta Belanda mengembalikan peta-peta Kesultanan Aceh yang dirampas dan semua peninggalan penting lainnya, untuk menata kembali kawasan Aceh yang bersejarah. 


Peusaba mengingatkan Belanda agar mematuhi aturan Internasional agar dapat mengembalikan kawasan bersejarah yang telah mereka hancurkan dan menata serta memulihkan semuanya kembali.


"Kami mendapatkan informasi akurat bahwa beberapa keturunan Belanda memegang jabatan penting di Aceh. Dalam sebuah diskusi zoom terlihat seorang pimpinan bidang pelestarian budaya Aceh mengaku dengan bangga sebagai keturunan centeng Belanda yang menikah dengan nyai Belanda," ungkapnya.


Peusaba mendapatkan banyak data tentang keturunan Belanda yang berdiam dan memiliki jabatan dan sering menghalang-halangi penyelamatan situs sejarah.


Maka Peusaba meminta Pemerintah Belanda menegur anak cucu keturunan Belanda di Aceh agar menuruti sistem yang berjalan di Aceh dan tidak menghalangi perlindungan situs sejarah. 


"Buktinya orang Aceh tidak mengganggu Makam Kherkhof yang ada di kawasan Taman Medan Khayali tempat Pangeran dan Sultan berlatih kuda. Maka Peusaba meminta keturunan Belanda di Aceh agar jangan menghalangi penyelamatan situs sejarah Kesultanan Aceh Darussalam,  atau anda akan bernasib sama seperti moyang anda yang dimakamkan di Kherkhof," tutupnya, Rabu (21/10/2020).[*/Red]

Komentar

Tampilkan

Terkini