-->

Negeri Madinah dan Rasulullah

10 Juni, 2021, 10.10 WIB Last Updated 2021-06-10T03:11:52Z
Kota Madinah (Ist) 
SEBELUM berganti menjadi Madinah, namanya aslinya disebut Yastrib, kemudian diganti oleh Nabi Muhammad, dan nama itu adalah "Madinah", berarti kota. Peradaban dan situs keagamaan, menjadi simbol kekuatan Islam di Madinah. Tradisi ilmu pengetahuan dan konsistensi kebaikan menjadikan keutuhan komunitas dan sistem yang dibangun di dalamnya. Menghadapi ancaman kekuatan dunia Roma dan Persia, Madinah menjadi benteng utama pertahanan Islam. Meski dalam prosesnya, Madinah terus diganggu, terutama oleh elit Mekah dan orang-orang Quraisy. Berkat keramahan Nabi dan para sahabatnya dalam mencerdaskan negeri, Madinah terus berkembang menjadi negara modern. Hingga mereka dapat membuktikan bahwa mereka dapat melawan tirani di negeri mereka.

Munculnya Negara Islam, yaitu Madinah yang juga dipimpin oleh Muhammad Saw merupakan revolusi bagaimana cara pandang baru dalam konteks spiritual, ideologis dan budaya, yang telah mendorong dunia untuk mengakui kekuatan moral dan agama. Moralitas dan agama adalah fondasi hubungan manusia yang dilandasi moralitas, persamaan dan keadilan. Madinah telah menjadi cerminan negara modern dan menguasai dunia bersamanya. Semangat moral yang mengejutkan dan membesarkan hati serta kemuliaan sang pemimipin telah mematahkan sejarah panjang perjuangan antara negara dan agama. Sejarah membuktikan bahwa Madinah tekha menjadi corak bagi dunia Idealisme Islam berakar pada ilmu pengetahuan, pemikiran, ekonomi dan masyarakat. Landasan refleksi ideologis didasarkan pada upaya mencerna pemahaman dan prinsip politik Pemerintah Madinah mendukung Konstitusi, hukum, keadilan, akidah, Syariah dan hukum.
Keberadaan Madinah sebagai kekuatan ekonomi, agama dan politik serta perpaduan berbagai ideologi merupakan tradisi baru dalam peradaban manusia, yang sebelumnya tidak ada dan juga tidak diketahui. Dalam konteks budaya Arab, kelahiran pemerintahan Islam di Madinah khususnya sekitaran Jazirah Arab membawa revolusi spiritual (agama) dan pemikiran baru, yang menandai Perkembangan dan lahirnya tatanan dunia baru. Kekuatan moral sebagai fondasi dan kekuatan agama merupakan landasan untuk membentuk moralitas baru di mana kekuatan berpedoman pada moralitas, kesetaraan, dan saling menghormati. Madinah mencoba menjalankannya dan mengubahnya menjadi negara baru yang dihuni oleh penduduk sederajat, yang semangat, yaitu semangat perjuangan dan ambisinya masih bisa dirasakan hingga saat ini.

Di bawah keberadaan pemerintah Madinah, jika dikaitkan dengan kekuatan sosial dan politik, maka membangun visi global sumber daya manusia yang berbasis humanisasi dan berdasarkan keyakinan, pengetahuan dan kearifan atau sering disebut dengan memanusiakan manusia yang terkenal Tradisi tarbiyyah. Nabi (Saw) meletakkan dasar untuk kombinasi Islam, menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang terintegrasi (al-din) yang meliputi ranah sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan nasional. Singkatnya, Nabi mempertimbangkan dan merancang fasilitas untuk pengembangan sumber daya manusia dan pembelajaran masyarakat, seperti halaqah di mesjid, mengundang orang-orang untuk diajarkan membaca dan menulis.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Nabi SAW mengajarkan apa itu persaudaraan internal antara Muhajirin dan Anshar untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran serta landasan keagamaan. Islam menuntut ketentuan baru dalam Perjanjian Persaudaraan, tradisi persaudaraan juga baik untuk memperkuat landasan ekonomi. Kemudian, sistem ini menjadi gelombang budaya yang menekankan tanggung jawab sosial semua kelompok sebagai pembela kebenaran dan keadilan, dan penyelamat umat sebagai "generasi baru" Islam. Kemudian memperluas bidang persaudaraan dengan partisipasi masyarakat umum untuk mengejar cita-cita hidup yang lebih tinggi dan bekerja sama untuk memperoleh keamanan, stabilitas, kebebasan dan pertumbuhan ekonomi. Kekuatan ini menginspirasi kesan yang berarti sangat dalam untuk perkembangan peradaban umat khususnya persaudaraan antara Muhajirin dan Ansar yang merupakan penduduk Madinah.

Ketika Nabi Saw. Berada di Quba hendak ke Madinah, Nabi memimpin pendirian masjid sebagai dari awal sejarah, dan peristiwa hijrah itu pula kemudian menyaksikan pembangunan masjid "Nabawi". Ini adalah tujuan politik simbolik dengan ciri khas dan peradaban. Model negara Islam pertama yang menghormati martabat manusia, kebebasan, sistem hukum dan keadilan merupakan sebagai institusi nasional yang sangat penting, masjid telah dilindungi secara ketat untuk memastikan berdirinya negara bagi umat.

Pemerintah negara bagian Madinah menggabungkan kearifan lokal dan nilai-nilai dengan ajaran Islam untuk membentuk struktur politik yang lengkap. Sistem ini melanggengkan hubungan antara instrumen negara dalam pemerintahan dengan mengakui hak-hak negara (provinsi) dan wilayah pendudukan. Hubungan dengan pemerintah pusat terus ditingkatkan untuk memperkuat sistem sosial dan memastikan distribusi kekuasaan yang adil. Kebijakan yang menyangkut kepentingan daerah akan dicapai melalui negosiasi antara kedua pihak. Memantau isu-isu yang menyangkut kepentingan pusat dan daerah untuk menjaga ketimpangan dan stabilitas nasional. Nabi SAW adalah Kepala negara bertanggung jawab penuh atas pengangkatan dan pengangkatan sekretaris, staf khusus, asisten, juru bicara, staf ahli, gubernur, kepala daerah dan pejabat umum, pengurus atau pegawai negeri sipil, pengawas, hakim dan jaksa, serta pejabat dan pejabat. komite penasehat. Tenaga pemasaran dan keuangan. Di pemerintah daerah pun tunduk kepada pemerintah pusat dan menuntut struktur SDM pejabat pemerintahan nabawi yang baru berjalan. Hubungan dengan luar negeri juga terjalin dengan aman dan erat, Kepentingn wilayah dalam struktur sosial politik Madinah telah diproyeksikan dalam bidang kerja sama untuk meningkatkan ekonomi dalam iklim politik yang menggalakkan implementasi syariah yang lebih luas. 

Pemerintahan Madinah memberikan tempat seluas mungkin bagi program yang bertujuan untuk menyiarkan syiar agama. Penghargaan yang tinggi diberikan kepada pendidik dan ulama untuk meneruskan usaha-usaha pendidikan agama menjamin kelangsungan pendidikan di peringkat anak-anak dan dewasa dengan mengakui dan mengangkat mereka sebagai pembentuk generasi. Mutu pendidikan terus diperbaiki dengan mengangkat guru-guru dan juru dakwah dalam setiap kabilah untuk melancarkan reformasi ilmu dan membuat inovasi dalam bidang masing-masing. Salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi masyarakat Madinah yang kemudian menjadi “citizen” yang lahir dari sistem politik yang baru, masyarakat yang melebur dari semangat Muhajirin yang mayoritas pedagang, dan Anshar yang mayoritas petani, sudah cukup untuk mengenal konsep ekonomi dan paham bahwa sumber pendapatan negara perlu senantiasa ditingkatkan untuk memperkuat daya tahan dan daya saing ekonomi dalam menghadang tantangan global dan regional. Sistem keuangan negara Islam menampilkan corak perdagangan dan investasi semua lini merangsang pertumbuhan dan mendorong peningkatan belanja dalam negeri dan pencapaian tahap kematangan ekonomi yang lebih meyakinkan. Semoga kedepan negara kita bisa maju, seperti yang Rasulullah lakukan dahulu kala, dalam menjalankan roda pemerintahan yang baik. 

Penulis: Syifa (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)
Komentar

Tampilkan

Terkini