-->

Hakekat Kemenangan, Menjadi Hamba yang Beriman

04 April, 2024, 08.58 WIB Last Updated 2024-04-04T01:58:56Z
EUFORIA menjelang ramadhan terlihat mulai di bulan sya'ban. Seakan menghipnotis seluruh umat kaum muslim di seluruh dunia untuk menyambut bulan suci ini. Rasa bahagia dan merindu bulan mulia tak dapat dipungkiri sebagai ungkapan rasa syukur.

Kini, ramadhan telah memasuki pekan ketiga, hiruk pikuk menyambut hari raya kian terasa, terutama di tempat-tempat atau pusat perbelanjaan yang menyediakan pernak pernik dan kebutuhan lebaran.

Namun dibalik gegap gempita masyarakat dalam menyambut hari bahagia ini, ada segolongan orang yang merasa sedih karena akan berpisah dengan bulan suci ini. Akankah tahun depan masih dipertemukan karena ajal tak ada yang mampu memprediksi kapan datangnya.

Orang-orang yang bergembira akan datangnya hari raya dan orang-orang yang bersedih karena akan berpisah dengannya adalah reaksi atas keimanan seorang hamba.

Mampukah mempertahankan keimanan yang telah dibangun diawal hingga meninggalkan  ramadhan? Karena sesungguhnya, pemenangnya adalah orang yang ketaatannya lebih baik pasca ramadhan hingga mampu mengubah kehidupannya dengan lebih bermakna.

Namun, hal serupa sering terjadi, yaitu ibadah dan amal solih hanya terlihat jika momentumnya tepat. Setelahnya manusia akan kembali seperti sedia kala. Penyebabnya tentu saja banyak, diantaranya: Faktor individu. Tidak dipungkiri, kita terlahir dalam sistem yang tidak islami walau berasal dari keluarga muslim. Sehingga ketakwaan individu hanya milik segelintir orang yang benar-benar dalam ketaatan. Mereka ibarat orang asing diantara umat. Sementara sebagian besarnya hidup dalam kungkungan gaya hidup sekuler yang mudah tergerus keimanannya.

Faktor selanjutnya adalah lingkungan. Walau sebagian besar masyarakat Indonesia beragama muslim, namun pola kehidupan yang ditetapkan bukanlah aturan Islam. Sehingga masyarakat yang mayoritas muslim, namun gaya hidup yang mereka adopsi adalah sistem kapitalis sekuler.

Faktor sistem kapitalis sekuler inilah yang sangat berperan dan mempengaruhi kehidupan kaum muslim saat ini. Memaknai ibadah hanya pada ranah tertentu dan memisahkan urusan kehidupan dari agama. Lahirlah insan-insan yang bertakwa pada saat tertentu seperti bulan ramadhan saja. Setelahnya umat akan kembali seperti sedia kala, sehingga hari kemenangan yang diperoleh hanya berlaku saat itu saja, setelahnya hilang tanpa bekas.

Pengaruh sistem ini sangat kuat membentuk kepribadian dan pola pikir masyarakat muslim di seluruh dunia. Lihatlah bagaimana saudara kita di Palestina menikmati bulan suci ditengah gempuran zionis yahudi tanpa ada yang mampu menolong akibat sikap nasionalisme yang ditanam oleh barat dalam menguasai dunia. Sehingga kata kemenangan sesungguhnya belum sepenuhnya kita miliki jika dibelahan dunia lain saudara kita masih berjuang untuk hidup sementara kita tak mampu menolong mereka.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Masihkah kita merasa gembira dihari kemenangan jika keadaan kaum muslim masih dalam cengkeraman barat yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan kaum muslim, terutama dalam urusan akidah.

Hendaknya bulan suci ramadhan menjadi muhasabah akan sikap kita yang selalu cenderung kepada dunia. Momen untuk selalu memperbaiki sikap agar kembali kepada fitrah yang suci dan menjadi insan yang bertaqwa. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,"(QS. Al-Baqarah [2]: Ayat 183)

Takwa inilah yang Allah kehendaki dari ibadah shaum kita selain hanya menahan nafsu, yakni menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya. Maka untuk menjaga ketakwaan bukan hanya dari individunya saja, perlu support sistem untuk melestarikannya. 

Karena sikap takwa tidak lahir begitu saja, dibutuhkan sinergi dari keluarga. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim [66]: Ayat 6)

Tegakkan amar ma'ruf ditengah  masyarakat untuk mengokohkan ketakwaan individu.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."(QS. Ali 'Imran [3]: Ayat 104)

Dan benteng terakhir penjaga ketakwaan adalah negara sebagai perisai umat.

Rasulullah Saw bersabda yang artinya:  “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim].

Dengan konsep Islam yang mengatur seluruh hidup manusia, akan terjaga akidah yang melahirkan insan yang bertakwa. Dengan konsep Islam pula, jiwa, darah, harta, akal masyarakat akan terjaga dengan sistem hukum yang berlaku. Tentunya yang bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah Rasul SAW.

Wallahu a'lam bisshowab

Penulis: Hafsah (Pemerhati Masalah Umat)
Komentar

Tampilkan

Terkini