-->

 



 


Punahkah Bahasa Aceh di Tengah Gelombang Globalisasi? Ancaman Senyap Terhadap Jati Diri Daerah

24 November, 2025, 10.53 WIB Last Updated 2025-11-24T03:53:03Z
DULU, suasana di warung-warung kopi di kota Banda Aceh masih banyak dipenuhi oleh orang-orang yang mengobrol, bercanda ria, serta berdiskusi dengan menggunakan bahasa Aceh, namun jika kita perhatikan sekarang segalanya telah banyak yang berubah, bahasa Aceh tidak lagi sering terdengar di tempat-tempat ramai seperti itu, kebanyakan hanya dituturkan oleh orang tua, cukup sedikit anak muda yang terdengar menuturkan bahasa Aceh di ruang publik, hal ini mungkin terdengar sepele namun sebenarnya itu merupakan suatu ancaman serius terhadap eksistensi bahasa Aceh di  dunia, di tengah arus deras globalisasi, bahasa Aceh menghadapi ancaman senyap sebab pergeseran nilai yang membuat generasi muda perlahan meninggalkannya.

Ancaman ini bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan fakta yang berbasis data, peneliti BRIN bahkan mengklasifikasikan Bahasa Aceh sebagai bahasa yang terancam punah (definitely endangered), dengan skor 3 berdasarkan kriteria UNESCO. Bahkan menurut data dari BPS Aceh di tahun 2019, 78% anak usia sekolah di kota besar Aceh (Banda Aceh, Lhokseumawe, dsb.) lebih nyaman menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, hal itu merupakan suatu ancaman serius yang harus segera ditangani, agar eksistensi bahasa Aceh di dunia tetap terjaga.

Mengapa anak muda memilih bahasa lain? Apa faktor-faktor yang mempengaruhinya? Serta tindakan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya? Mari kita ulas satu persatu.

Alasan bahasa Aceh semakin jarang dituturkan terlebih oleh anak muda adalah karena globalisasi nilai yang menyebar melalui teknologi dan media, globalisasi telah menciptakan standar tunggal tentang apa yang dianggap 'modern' atau 'keren'. Standar ini menempatkan Bahasa Inggris sebagai 'tiket' untuk bersaing di dunia kerja dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung (lingua franca) yang wajib. Akibatnya, Bahasa Aceh dianggap tidak memiliki nilai ekonomi atau sosial.

Hal yang paling merusak adalah munculnya stigma sosial di lingkungan kampus atau pertemanan, anak muda yang menggunakan Bahasa Aceh cenderung diasingkan dan dicap anak kampungan atau tidak berpendidikan. Stigma ini memaksa mereka secara sadar melakukan language shift (pergeseran bahasa), mereka memilih Bahasa Indonesia atau bahkan mencampur dengan Bahasa Inggris agar terlihat modern.

Ancaman bahkan diperburuk oleh dominasi globalisasi teknologi, internet dan media sosial (TikTok, YouTube, Instagram) adalah ruang digital anak muda, konten yang mereka konsumsi kebanyakan berbahasa Indonesia atau Inggris. Dampaknya, Bahasa Aceh semakin jarang terdengar dan diekspresikan di kalangan anak muda, anak muda kini cenderung berinteraksi dan mengekspresikan diri dalam Bahasa Indonesia.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Ironisnya, benteng pertahanan terakhir, yaitu keluarga ikut runtuh, banyak orang tua Aceh yang didorong oleh asumsi modernitas dan harapan agar anak sukses, memilih berbicara Bahasa Indonesia sejak dini, mereka menganggap ini adalah investasi bahasa agar anak mudah beradaptasi di sekolah. Padahal, keputusan rasional ini justru mengancam punahnya bahasa ibu dari akarnya.

Situasi ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai orang Aceh yang mewarisi adat  dan budaya dari leluhur kita. Kita harus melawan nilai-nilai globalisasi yang menenggelamkan, dengan menggunakan alat globalisasi itu sendiri.

Langkah awal dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah sebagai pihak yang diberi mandat dan berwenang untuk mengelola daerah itu sendiri, Pemerintah Daerah dan Lembaga Pendidikan harus menciptakan prestise bagi Bahasa Aceh. Mata pelajaran Bahasa Aceh harus ditransformasi, bukan sekadar tata bahasa kuno, tetapi harus berbasis kreativitas dan di aplikasikan dengan mengikuti zaman, adakan kompetisi 
podcast, stand-up comedy, atau vlog yang mewajibkan penggunaan Bahasa Aceh.

Selanjutnya peran Komunitas dan Anak Muda juga dibutuhkan untuk bangkit menjadi produser bukan hanya konsumen, melainkan juga mendorong para content creator dan influencer Aceh untuk menjadikan Bahasa Aceh sebagai branding yang otentik, lucu, dan keren. Jika Bahasa Aceh hadir di TikTok, Instagram, dan sebagainya sehingga dapat diterima oleh kaum muda, stigma kampungan akan hilang dengan sendirinya.

Terakhir, Keluarga harus menjadi benteng terakhir yang konsisten. Orang tua harus berkomitmen penuh menuturkan kisah, hikayat, dan nilai-nilai budaya dalam Bahasa Aceh di rumah, sehingga tercipta lingkungan berbahasa Aceh yang progresif dan berkelanjutan.

Bahasa Aceh bukanlah sekadar alat komunikasi. Bahasa ini adalah wadah nilai, adat, dan identitas (jati diri) ureung Aceh yang telah bertahan selama berabad-abad.  Tantangan kita bukanlah melawan internet atau Bahasa Inggris, melainkan melawan sistem nilai global yang menganggap kita harus melepaskan identitas lokal demi meraih modernitas. 

Kita harus menolak dikotomi palsu ini, kita bisa menjadi warga global yang fasih berbahasa Inggris, tetapi tetap kokoh dengan Bahasa Aceh. Jika kita membiarkan warisan ini luntur di tengah gempuran globalisasi, yang hilang bukan sekadar kosakata, tetapi sejarah dan marwah (martabat) bangsa Aceh itu sendiri.

Penulis: T. M. Ghrufran (Mahasiswa Prodi Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala) 
Komentar

Tampilkan

Terkini