-->

Membersihkan Lumpur, Menyucikan Hati: Polres Bireuen Hadir Menjaga Cahaya Ilmu di Dayah Nurul Hidayah

19 Januari, 2026, 14.38 WIB Last Updated 2026-01-19T07:38:27Z
LINTAS ATJEH | BIREUEN - Paska banjir hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bireuen, kepedulian Polres Bireuen terus diwujudkan melalui aksi nyata. Setiap pagi hari sebelum bergerak menuju fasilitas umum yang terdampak banjir, ratusan personel Polres Bireuen terlebih dahulu melaksanakan apel pasukan sebagai bentuk kesiapan, kedisiplinan, dan niat pengabdian. Sebab dalam Islam, kebersihan bukan hanya urusan fisik, tetapi juga cerminan iman dan tanggung jawab moral kepada sesama.

Ratusan anggota Polres Bireuen dari berbagai polsek diterjunkan ke Dayah Nurul Hidayah, Gampong Pulo Nga, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Senin (19/01/2026). Dayah sebagai pusat pendidikan agama memiliki kedudukan mulia dalam membentuk akhlak generasi muda. 

Membersihkan lingkungan dayah berarti menjaga kesucian tempat menuntut ilmu, karena ilmu yang berkah tumbuh dari lingkungan yang bersih dan terjaga.

Di lapangan, para personel Polri tampak berjibaku membersihkan endapan lumpur tebal menggunakan sekop, cangkul, dan gerobak dorong. Dengan penuh keikhlasan, mereka bahu-membahu tanpa mengenal lelah. Aksi ini menjadi bukti bahwa kebersihan adalah amal nyata, di mana kerja keras membersihkan lumpur adalah bagian dari ibadah sosial yang bernilai pahala.

Seratusan anggota Polres Bireuen dalam kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Tim (Katim) Lapangan, Kasat Lantas Polres Bireuen AKP Aditiya Hadmanto. Kepada media, ia menyampaikan bahwa pembersihan areal dayah sangat penting demi keberlangsungan pendidikan anak-anak dan remaja dalam mendalami agama. “Ketika lingkungan bersih, maka proses pendidikan berjalan lebih baik, dan arah hidup generasi muda pun menjadi lebih terarah,” ujarnya. 

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Sementara itu, Pimpinan Dayah Nurul Hidayah, Tgk Akmal, M.Ag (44), yang didampingi Sekretaris Desa Pulo Nga, Efendi (38), menjelaskan bahwa Dayah Nurul Hidayah telah bekerja sama dengan pemerintah melalui Kementerian Agama dan saat ini telah terakreditasi C. 

Santri yang mondok berjumlah 60 orang berasal dari berbagai daerah seperti Pidie, Langsa, dan kabupaten lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kebersihan dayah berarti menjaga amanah umat dan kepercayaan orang tua yang menitipkan anak-anaknya untuk menuntut ilmu agama.

Tgk Akmal juga mengungkapkan bahwa saat banjir melanda, ketinggian air mencapai 1,5 meter dan meninggalkan endapan lumpur setinggi sekitar 1 meter. Seluruh fasilitas dayah—mulai dari Alquran, buku, kitab juga kamar santri, balai pengajian, musalla, dapur umum, toilet, hingga tempat wudhu—tertutup lumpur. Letak dayah yang berjarak sekitar 60 meter dari Sungai Peusangan, yang kini menyempit menjadi sekitar 10 meter akibat erosi, memperparah dampak banjir. 

Kondisi ini mengingatkan bahwa menjaga kebersihan dan lingkungan adalah bagian dari ikhtiar menjaga keberlangsungan kehidupan dan pendidikan.

Dengan penuh haru, Tgk Akmal bersama istrinya Ummi Salmayanti (35) serta anak-anak mereka, As’adun Nisa (12) dan Khawarizmi (8), menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Kapolres Bireuen dan seluruh jajaran yang telah mengerahkan ratusan personel untuk membantu membersihkan lumpur di Dayah Nurul Hidayah. Bantuan ini bukan sekadar tenaga, tetapi juga suntikan semangat dan harapan. Dalam Islam, membantu sesama di saat sulit adalah wujud iman yang hidup.

Lebih lanjut, Tgk Akmal menuturkan bahwa sejak paska banjir, upaya pembersihan telah dilakukan bersama relawan dan masyarakat setempat. Bahkan, pihak dayah sempat menyewa traktor selama beberapa hari untuk mendorong lumpur. Namun keterbatasan biaya dan tenaga membuat pekerjaan tersebut belum maksimal. 
Kehadiran Polres Bireuen menjadi pelengkap ikhtiar bersama, membuktikan bahwa kebersihan dan kepedulian adalah tanggung jawab kolektif yang harus dijaga demi kemaslahatan umat.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini