LINTAS ATJEH | BIREUEN - Menjelang peringatan Hari Desa Nasional yang jatuh pada 15 Januari, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Bireuen menunjukkan kepedulian nyata melalui aksi gotong royong sosial, Senin, 12 Januari 2026, di Gampong Pante Lhong Kecamatan Peusangan.
Kegiatan ini menjadi simbol kuat bahwa semangat Hari Desa bukan sekadar seremoni, tetapi diwujudkan melalui aksi kemanusiaan dan solidaritas di lapangan. Aksi bakti sosial tersebut dipusatkan di rumah salah seorang Pendamping Lokal Desa (PLD), Juliadi Abdullah, yang terletak di Gampong Pantee Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Rumah tersebut mengalami dampak parah akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
Juliadi Abdullah, PLD dengan wilayah tugas di Kecamatan Kota Juang dan berdomisili di Gampong Pantee Lhong, mengisahkan bahwa saat banjir terjadi, ketinggian air di rumahnya mencapai sekitar 1,5 meter. Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga meninggalkan endapan lumpur setebal 10 sentimeter hingga 1 meter di dalam rumah dan halaman.
Siceritakan, Pada saat kejadian, Juliadi bersama istri, empat orang anak, serta ibunya berada di rumah dan harus segera menyelamatkan keluarga ke tempat yang lebih tinggi demi keselamatan.
Ia menambahkan bahwa hampir seluruh peralatan rumah tangga terdampak banjir. Hingga kini, satu unit sepeda motor jenis Mio Sporty masih tertimbun lumpur dengan ketebalan mencapai satu meter.
Kondisi ini membuat proses pemulihan pascabanjir menjadi berat dan membutuhkan waktu serta tenaga yang tidak sedikit. “Terima kasih kepada rekan-rekan Pendamping Desa yang hari ini telah meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu membersihkan rumah dan halaman dari tumpukan lumpur. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, apalagi dilakukan menjelang Hari Desa,” ujar Juliadi dengan penuh haru dan semangat.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Aksi gotong royong ini melibatkan puluhan Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bireuen. Dengan membawa peralatan sederhana seperti gerobak dorong, cangkul, sekop, goni, serta sarung tangan, para pendamping bekerja bahu-membahu membersihkan lumpur di dalam rumah dan lingkungan sekitar.
Koordinator Tim Pendamping Desa Kabupaten Bireuen, Zulfikar, SE, turut hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pemilihan lokasi bakti sosial di rumah sesama pendamping bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk empati, solidaritas, dan penguatan ikatan kolektif antarpendamping desa.
“Dalam rangka menyambut Hari Desa yang tinggal dua hari lagi, kami sepakat memilih kediaman rekan kami yang terdampak banjir parah untuk dibantu. Ini adalah wujud kebersamaan, kekompakan, dan rasa saling memiliki di antara para pendamping desa,” ungkap Zulfikar.
Secara sosial, kegiatan ini mencerminkan wajah asli pembangunan desa yang berlandaskan nilai gotong royong, kepedulian, dan kemanusiaan. Pendamping Desa tidak hanya berperan sebagai fasilitator program dan administrasi pembangunan, tetapi juga hadir secara nyata saat masyarakat—bahkan rekan sejawat—mengalami musibah.
Momentum Hari Desa ini menjadi pengingat bahwa desa kuat bukan hanya karena anggaran dan program, tetapi karena solidaritas sosial yang hidup di tengah masyarakatnya. Melalui aksi gotong royong ini, TPP se-Kabupaten Bireuen menegaskan komitmennya untuk terus hadir, bekerja, dan berbakti bersama desa, terutama dalam situasi krisis dan pemulihan pascabencana.
Aksi sosial tersebut diharapkan tidak hanya mempercepat proses pemulihan rumah terdampak banjir, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan, empati, dan kepedulian sosial sebagai ruh utama pembangunan desa yang berkelanjutan.[*/Red]
