PUASA RAMADHAN diwajibkan dengan tujuan yang jelas. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 183 yang bunyi terjemahannya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Tujuan puasa adalah takwa. Hendaknya ayat ini dibaca sebagai arah yang harus dipahami secara serius, bukan sekadar slogan yang diulang setiap ceramah.
Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan kesadaran penuh. Ia bukan hanya sebatas pola pikir atau pengetahuan, tetapi juga tercermin dalam sikap dan keputusan hidup. Masalahnya, apakah seseorang bisa langsung bertakwa tanpa pernah mendapatkan penjelasan yang utuh tentang apa yang Allah perintahkan dan larang?
Di sinilah pentingnya dakwah. Seseorang tidak akan memahami Islam secara menyeluruh jika tidak ada yang menyampaikannya. Ia mungkin tahu bahwa puasa itu wajib, tetapi belum tentu paham bagaimana Islam mengatur urusan ekonomi, hukum, pendidikan, hingga kepemimpinan. Tanpa dakwah, pemahaman akan tetap terbatas pada hal-hal yang bersifat pribadi.
Pertanyaan berikutnya lebih besar lagi: bagaimana sebuah masyarakat bisa bertakwa jika tidak ada yang mengemban dakwah di tengah mereka? Jika para ulama, intelektual, dan tokoh yang memahami Islam memilih diam saat terjadi pelanggaran terang-terangan terhadap aturan Allah? Diam dalam kondisi seperti itu bukanlah sikap netral. Ia justru membuat penyimpangan terlihat wajar.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperluas kesadaran ini. Jangan merasa cukup hanya karena diri kita sudah rajin puasa, tadarus, dan memperbanyak ibadah. Ketakwaan yang hanya berhenti pada diri sendiri belumlah utuh. Islam tidak diturunkan untuk membentuk individu yang saleh secara terpisah, tetapi untuk membangun masyarakat yang taat secara bersama.
Karena itu, sekadar menjaga hukum tajwid ketika membaca Al-Qur’an belumlah cukup. Membaguskan bacaan memang penting, tetapi lebih penting lagi adalah menghadirkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata. Apa artinya bacaan yang fasih jika kita membiarkan ketidakadilan terjadi di sekitar kita? Terutama ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa? Apa gunanya hafal banyak ayat jika kita enggan menyampaikan kebenaran karena takut tidak populer?
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Dakwah bukan berarti selalu berbicara keras di depan umum. Dakwah adalah usaha sadar untuk mengajak pada kebaikan dan mengingatkan dari kesalahan. Ia bisa dilakukan melalui tulisan, diskusi, pendidikan, hingga sikap tegas terhadap kemungkaran. Tanpa dakwah, kesalahan akan dianggap biasa. Dengan dakwah, perlahan masyarakat diarahkan kembali pada standar yang benar.
Lebih jauh lagi, ada dimensi lain yang sering diabaikan. Penerapan ajaran Islam secara sempurna memang membutuhkan kekuasaan. Hukum-hukum seperti hudud dan qishash tidak bisa dijalankan oleh individu secara sendiri-sendiri. Pengelolaan zakat secara menyeluruh, penyelesaian sengketa di antara warga, serta perlindungan terhadap hak-hak masyarakat memerlukan otoritas yang sah. Tanpa kekuasaan, banyak ajaran hanya berhenti pada teori.
Ini bukan sekadar wacana politik, tetapi konsekuensi logis dari ajaran yang bersifat menyeluruh. Islam mengatur ibadah sekaligus kehidupan publik. Jika kita hanya mengambil sisi ibadah personal dan meninggalkan aspek sosial serta hukum, maka gambaran Islam menjadi tidak utuh.
Ramadhan melatih kita untuk disiplin dan patuh. Ketaatan itu seharusnya melahirkan keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Jika selama sebulan kita sanggup menahan diri dari hal yang halal di siang hari karena perintah Allah, seharusnya kita juga sanggup menahan diri dari yang diharamkan Allah bahkan setelah Ramadhan meninggalkan kita.
Puasa dan dakwah tidak boleh dipisahkan. Puasa membangun takwa dalam diri, dakwah memperluas takwa ke tengah masyarakat. Jika setiap orang yang merasakan manisnya iman di bulan Ramadhan mau berbagi dan mengajak, maka perubahan bukan hal yang mustahil.
Akhirnya, ukuran keberhasilan puasa bukan hanya pada berkurangnya berat badan atau banyaknya khataman, tetapi pada bertambahnya tanggung jawab. Tanggung jawab untuk tidak diam. Tanggung jawab untuk menyampaikan. Tanggung jawab untuk memperjuangkan agar ajaran Allah tidak hanya dibaca, tetapi juga ditegakkan dalam kehidupan bersama.
Penulis: Hadi Irfandi, S.Pd (Sarjana Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus Pengamat Sosial Kepemudaan Islamic Civilization In Malay Archipelago Forum/ICOMAF. Aktif mengisi media online dengan tulisannya seputar Dakwah Ideologis. "Dari membaca, revolusi berkobar" adalah mottonya)
