-->

Tim PKM UNESA Dorong Implementasi Pembelajaran Aman dan Responsif Pascabencana di Aceh Tamiang

22 Februari, 2026, 21.31 WIB Last Updated 2026-02-22T14:31:54Z
LINTAS ATJEH |  ACEH TAMIANG - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Peduli Bencana LPPM Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melaksanakan kegiatan bertajuk “Praktik Pembelajaran Aman dan Responsif untuk Mendukung Psychological Well-Being Pasca Bencana.” 

Kegiatan itu dilaksanakan pada beberapa sekolah yang ada di Kabupaten  Aceh Tamiang sebagai bagian dari upaya menghadirkan sekolah sebagai ruang pemulihan pascabencana.

Ketua kegiatan ini, Dr. Retno Tri Hariastuti, M.Pd Kons yang beranggotakan Sherrin Nurlita Widya, M.Pd dan Qurrota A’yuni Fitriana, M.Psi kepada media ini, Minggu (22/02/2026) mengatakan, salah satu pelaksanaan kegiatan ini berlangsung di SD Negeri 7 Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

Katanya, kegiatan itu melibatkan kepala sekolah, guru kelas, wakil kepala sekolah, serta 108 murid dari kelas I hingga kelas VI.

"Kegiatan dikemas dalam bentuk simulasi pembelajaran aman dan responsif. Guru tidak hanya menerima materi, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana strategi pembelajaran yang empatik dan suportif diterapkan kepada murid," ujar Retno.

Dijelaskannya, anak-anak diajak mengikuti aktivitas yang menyenangkan seperti bernyanyi bersama dan kegiatan lain yang membangun rasa aman dan kebersamaan di kelas.

Dr. Retno menegaskan, bahwa guru memiliki peran sebagai safe adult, yakni figur dewasa yang mampu menciptakan rasa aman bagi siswa di tengah situasi sulit. 

TERIMA KASIH  SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Menurutnya, sekolah juga perlu menjadi healing space yang membantu siswa merasa diterima dan dipahami sebelum mereka kembali fokus pada pembelajaran akademik.

Lebih lanjut disebutkannya, selain di tingkat Sekolah Dasar, kegiatan juga dilaksanakan di SMA Negeri 2 Percontohan Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. 

"Pada jenjang SMA, pendekatan difokuskan pada penguatan regulasi emosi remaja melalui praktik butterfly hug. Teknik ini diperkenalkan sebagai metode sederhana yang dapat membantu siswa menenangkan diri saat mengalami kecemasan atau tekanan emosional," ujar Dr. Retno.

Lalu dikatakannya, setelah praktik butterfly hug, beberapa murid membagikan pengalaman mereka. 

Ia mengungkapkan, ada yang merasa lebih tenang, ada pula yang menyadari tubuhnya menjadi lebih rileks. 

Dr. Retno menuturkan, sesi berbagi ini menjadi ruang bagi murid untuk mengekspresikan perasaan tanpa rasa takut dihakimi.

Dari rangkaian kegiatan ini ucapnya, Tim PKM UNESA berharap praktik pembelajaran aman dan responsif dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah-sekolah terdampak bencana. 
"Dengan pendekatan yang empatik, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan psikologis, sekolah diharapkan mampu menjadi lingkungan yang mendukung pemulihan emosional sekaligus menjaga keberlanjutan proses belajar siswa," imbuh Dr Retno.[**Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini