"Meningkatkan Kesadaran Perempuan untuk Berani Bersuara dalam Hal Meningkatkan Derajat Perempuan Dengan Menolak Terhadap Kekerasan dalam hubungan dalam Rangka memperingati Hari Perempuan Internasional"
LINTAS ATJEH | BANDA ACEH - SCORP dan SCORA CIMSA FK USK menyelenggarakan acara bertajuk aROSE: a Rising of Speaking Up to Elevate Women, dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women's Day/IWD). Kegiatan dengan mengangkat tema tahun ini: “Pelarangan dan Pencegahan Kekerasan dalam Hubungan”.
Berdasarkan informasi yang diterima redaksi, Minggu (08/03/2026), aROSE diselenggarakan pada tanggal 14, 16, dan 28 Februari 2026. Acara ini menyoroti kompleksitas hukum dan medis terkait kekerasan dalam hubungan. aROSE memiliki tiga acara utama yakni kegiatan pra-pelatihan, ground campaign, dan The Day.
Kekerasan dalam hubungan menjadi pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang masih terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya. Di Indonesia, Komnas Perempuan mencatat lebih dari 4.000 laporan tercatat pada tahun 2026, dengan angka yang terus meningkat tiap tahunnya.
Selain dampak psikologis seperti trauma, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD), kekerasan dalam hubungan dapat menimbulkan konsekuensi medis yang serius. Korban kerap mengalami luka fisik, gangguan kesehatan reproduksi, hingga infeksi menular seksual. Dalam hal ini, dokter memegang peranan penting dalam menangani dampak medis tersebut, sekaligus mendukung pemulihan korban secara fisik dan emosional.
Namun sayangnya. masih banyak korban yang enggan melapor atau mencari bantuan karena ketakutan, stigma, dan kurangnya kesadaran akan hak-hak mereka. Dengan latar belakang tersebut, aROSE 2026 bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong pemahaman terpadu mengenai kekerasan dalam hubungan dari perspektif hukum dan medis.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
Pada tanggal 14 Februari dilaksanakan Kegiatan Pra-Pelatihan, yang dimana peserta mendapatkan wawasan dari dua narasumber utama: Chikita Raudhatun Shafira, S.Ked dan Athaya Salsabila Hariadi, S.Ked. Pemateri pertama, menjelaskan tentang Gender Base Violence, termasuk definisi, faktor pemicu, bentuk, strategi pencegahan, peran sistem kesehatan dalam penanganan serta membahas pentingnya advokasi dan kebijakan yang mendukung perlindungan korban.
Pemateri 2 menjelaskan tentang Vulnerability and Intersectionality, pentingnya pendekatan interseksionalitas dalam merancang kebijakan dan program kesehatan untuk mengurangi ketidakadilan sosial. Sesi ini menegaskan pentingnya tenaga kesehatan untuk menangani kekerasan dalam hubungan dengan menekankan penerapan sikap profesionalisme.
Setelah talkshow, peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD). Mereka diberikan studi kasus mengenai kekerasan dalam hubungan dan diminta untuk menganalisis langkah-langkah relevan yang dapat diambil, peran, serta tanggung jawab tenaga medis. Diskusi ini memperkuat pemahaman peserta tentang bagaimana kasus kekerasan dalam hubungan ditangani, serta bagaimana calon tenaga kesehatan dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi penyintas.
Pada tanggal 16 Februari, melibatkan masyarakat melalui Kampanye Lapangan. Selama kampanye lapangan, anggota dan relawan secara aktif membagikan informasi edukatif tentang isu relationship abuse kepada pengunjung, membantah mitos dan kesalahpahaman umum, serta menekankan empati dan dukungan bagi para korban sebagai langkah penting untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi di masyarakat.
Pada tanggal 28 Februari, penyampaian pemahaman lebih dalam terkait isu relationship abuse pada sesi Talkshow, dalam kerja sama dengan Flower Aceh dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, program ini menawarkan wawasan pemahaman terkait isu relationship abuse, dimana sesi Talkshow diisi oleh perwakilan Flower Aceh dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak yaitu, Ibu Riswati, S.Pd. I, dan Ibu Athaya Rumaisha, S.H.
Para relawan belajar mengenai cara penanganan korban, tindakan yang harus dilakukan jika berada pada posisi korban, serta aturan-aturan yang berkaitan dengan isu tersebut untuk memperkuat pemahaman akan isu pada sesi Focus Group Discussion, para relawan juga diberikan kegiatan aktif melalui merangkai bunga bertujuan merayakan Hari Perempuan Sedunia.
Melalui aROSE: a Rising of Speaking Up to Elevate Women, peserta dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung korban berani bersuara upaya mengangkat derajatnya. Kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa penanganan kekerasan dalam hubungan adalah tanggung jawab bersama dunia medis dan masyarakat. Karena setiap perempuan berhak atas suara. Setiap suara yang disuarakan adalah langkah menuju perubahan yang nyata.[*/Red]

