-->

Sekularisme Membuat Ramadhan Gagal Menggerakkan Umat

05 Maret, 2026, 05.07 WIB Last Updated 2026-03-04T22:07:47Z
SETIAP RAMADHAN, umat Islam menyambutnya dengan cara yang beragam. Ada yang menjadikannya sebagai bulan Al-Qur’an, memperbanyak tilawah dan tadabbur. Ada yang sibuk menggelar pesantren kilat untuk membina generasi muda. Ada pula yang mengajak i’tikaf, menghidupkan malam dengan harapan menguatkan sisi spiritual yang selama ini terasa kurang.

Semua itu baik. Semua itu bernilai

Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan secara jujur: apakah energi besar selama satu bulan ini benar-benar berdampak pada perubahan yang lebih luas? Ataukah ia berhenti pada kepuasan pribadi dan kegiatan musiman?

Ramadhan sering dipenuhi agenda. Jadwal padat, kajian ramai, target ibadah tinggi. Tetapi setelah kegiatan selesai, banyak yang kembali ke pola lama. Disiplin menurun. Fokus memudar. Semangat kolektif hilang. Seolah-olah Ramadhan hanyalah ruang singgah, bukan ruang pembentukan arah.

Padahal, jika melihat sejarah, Ramadhan tidak pernah identik dengan sikap pasif. Ia bukan bulan “mengurangi peran”, melainkan bulan yang justru memperjelas peran.

Ketika Pembinaan Umat Berpindah Tangan

Ada satu titik penting dalam sejarah yang mengubah arah perjalanan umat Islam. Pada 3 Maret 1924, institusi Khilafah Utsmaniyah dibubarkan oleh Mustafa Kemal. Sejak saat itu, umat Islam tidak lagi berada di bawah satu kepemimpinan politik yang menyatukan visi dan tanggung jawab. Karena semenjak itu, dunia perlahan lahan mengadopsi sekularisme dimana negara tidak lagi mengurus agama, terutama agama Islam, kecuali hanya bagian yang sifatnya personal saja. Akibatnya, urusan kolektif seperti pembinaan ummat tidak lagi ditangani negara.

Dampaknya tidak hanya terasa pada urusan pemerintahan. Ia merembet ke banyak aspek, termasuk pembinaan umat.

Ketika kepemimpinan politik itu hilang, urusan membina masyarakat tidak lagi menjadi tanggung jawab sistem negara secara menyeluruh. Peran itu perlahan bergeser. Diambil alih oleh individu-individu yang sadar. Dijalankan oleh organisasi dan komunitas yang bergerak secara sukarela.

Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa kesadaran umat masih hidup. Banyak yang peduli. Banyak yang mau bergerak tanpa dibayar. Namun di sisi lain, ada fakta yang tidak bisa diabaikan yaitu pembinaan menjadi terpisah-pisah dan tidak terpusat. Tidak ada arah besar yang benar-benar disepakati dan dijalankan secara sistemik.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Ramadhan pun akhirnya lebih sering menjadi aktivitas komunitas yang kemampuannya sangat terbatas dibanding negara. Ia dihidupkan oleh masjid, organisasi dakwah, dan relawan. Bukan oleh kebijakan besar yang menjadikannya sebagai momentum perbaikan bersama.

Kenyataan Hari Ini

Hari ini, umat Islam hidup di tengah sistem global yang sangat menekankan pencapaian materi. Dalam tatanan sekular, keberhasilan diukur dari pencapaian individu. Ramadhan meski dimotori oleh sebagian kelompok dalam masyarakat, akhirnya lebih dilihat sebagai momen perbaikan diri, bukan sebagai momentum perbaikan umat.

Tidak salah. Tetapi tidak cukup

Ramadhan mengajarkan disiplin, konsistensi, dan kepedulian sosial. Ia melatih kontrol diri lewat puasa. Ia menguatkan empati lewat zakat. Ia membentuk ketahanan mental lewat ibadah malam. Jika semua ini hanya berhenti pada pelaksanaan semata tanpa ikut diberikan pemahaman akan makna masing - masing ibadah tadi maka dampaknya terbatas.

Produktivitas yang lebih dalam adalah ketika perubahan pribadi itu terhubung dengan perubahan sosial. Ketika semangat Ramadhan tidak hanya membuat seseorang lebih rajin beribadah, tetapi juga lebih sadar akan tanggung jawab kolektifnya yaitu menyadarkan ummat.

Fenomena bergesernya pembinaan umat ke tangan organisasi sukarela seharusnya menjadi cermin bersama. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadari bahwa ada tugas besar yang belum sepenuhnya ditangani secara struktural. Selama pembinaan hanya bergantung pada relawan dan komunitas, dampaknya akan selalu terbatas oleh kapasitas mereka.

Ramadhan seharusnya menjadi momen evaluasi, apakah kita puas dengan perubahan yang bersifat personal, atau mulai memikirkan perubahan yang lebih terarah dan berjangka panjang?

Pada akhirnya, peningkatan kualitas dalam Ramadhan adalah tentang seberapa jelas arah yang dituju. Jika satu bulan ini mampu menguatkan disiplin diri sekaligus kesadaran bersama, maka Ramadhan telah menjalankan fungsinya sebagai kesempatan pembentukan generasi.

Dari sanalah perubahan yang lebih besar bisa dimulai yaitu bukan dari euforia sesaat, tetapi dari kesadaran yang matang dan menyeluruh.

Penulis : Hadi Irfandi, S.Pd (Sarjana Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus Pengamat Sosial Kepemudaan Islamic Civilization In Malay Archipelago Forum/ICOMAF. Aktif mengisi media online dengan tulisannya seputar Dakwah Ideologis. "Dari membaca, revolusi berkobar" adalah mottonya)
Komentar

Tampilkan

Terkini