-->

Puluhan Mualaf di Abdya Ikuti Pembinaan, Pemkab Siapkan Modal Usaha dan Centra

08 Agustus, 2026, 12.37 WIB Last Updated 2026-08-08T12:40:31Z


LINTAS ATJEH | ABDYA - Sebanyak 63 orang mualaf di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengikuti bimbingan dan pembinaan yang oleh pemerintah setempat melalui Baitul Mal, di Aula Bapperida setempat. Sabtu (08/08/2026).


Selain penguatan keagamaan yang menjadi fondasi utama, Pemerintah Abdya juga memastikan para mualaf yang memiliki kemampuan ekonomi agar tidak terus bergantung pada santunan.


Ketua BMK Abdya, Tgk. Syamsul Qamar, mengatakan perhatian terhadap mualaf tidak boleh berhenti pada pembinaan keagamaan. Kondisi ekonomi keluarga, kata dia, juga menjadi bagian yang harus diperhatikan.


Menurut Syamsul, Bupati Abdya Safaruddin telah menyatakan komitmen untuk memperkuat kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi keluarga mualaf. Pemerintah bahkan berencana membangun Centra Mualaf pada tahun depan sebagai bagian dari upaya tersebut.


“Bapak bupati akan memberikan perhatian penuh, terutama terkait kesejahteraan dan pemberdayaan ekonomi keluarga mualaf,” sebut Syamsul.


Dukungan itu rencananya tidak hanya berbentuk fasilitas. Syamsul mengatakan Pemkab Abdya akan mengalokasikan anggaran dalam APBK-P 2026 untuk santunan dan modal usaha bagi mualaf. Bantuan akan disalurkan berdasarkan kategori yang telah ditentukan.


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM


Materi pembinaan pun diarahkan ke kebutuhan tersebut. Dewan Pengawas BMK Abdya, Tgk. Maimun, memberikan materi keagamaan. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Abdya, Zedi Saputra, membahas usaha dan pendampingan modal. Perwakilan Kadin Abdya, Elizar Lizam, memberikan materi tentang kiat sukses berusaha.


Kegiatan dibuka Staf Ahli Bupati Abdya, Nazaruddin. Ia membacakan sambutan Wakil Bupati Abdya Zaman Akli yang menekankan bahwa pembinaan mualaf membutuhkan kehadiran negara, bukan sekadar kegiatan sesaat.


Akli mengatakan penguatan agama harus berjalan bersama pemberdayaan ekonomi. Para mualaf diminta terus memperdalam pengetahuan agama, memperkuat ibadah, dan berkonsultasi dengan guru yang memiliki pemahaman agama yang benar. Di sisi lain, mereka perlu dibekali keterampilan dan akses terhadap modal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri.


Pemerintah juga mengingatkan bahwa proses setelah seseorang menjadi mualaf tidak berhenti pada perubahan keyakinan. Mereka tetap membutuhkan pendampingan dan penerimaan dari lingkungan. Karena itu, pemerintah, Baitul Mal, ulama, dan masyarakat diminta mengambil peran agar para mualaf tidak merasa menghadapi kehidupan barunya seorang diri.


Pemberdayaan ekonomi, kata Akli, harus diarahkan agar bantuan tidak berhenti sebagai santunan. Keterampilan, modal, dan pendampingan diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Masyarakat pun diminta menerima mualaf tanpa prasangka.


“Jadikan kegiatan ini sebagai awal sinergi antara mualaf, pembimbing, Baitul Mal, pemerintah, dan masyarakat untuk saling menguatkan,” kata Zaman Akli sebagaimana dibacakan Nazaruddin.[Ak]

Komentar

Tampilkan

Terkini