-->

12 Kali Gagal Tak Menyerah, Nazar Kini Wujudkan Cita-Cita Jadi TNI

28 September, 2026, 12.33 WIB Last Updated 2026-09-28T05:33:29Z
LINTAS ATJEH | BIREUEN - Dua belas kali gagal tidak membuat Muhammad Nazar Mediansyah menyerah. Anak yatim asal Gampong Cot Gapu, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, itu terus mengejar cita-citanya untuk menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), meski harus melewati perjuangan panjang dalam keterbatasan ekonomi.

Bahkan, demi mengikuti proses seleksi, Nazar rela bekerja sebagai buruh bangunan, mengandalkan bantuan tetangga hingga menjual knalpot sepeda motornya untuk memenuhi kebutuhan keberangkatan.

Kini, perjuangan itu akhirnya menemukan jawaban.

Setelah mengikuti seleksi prajurit karier untuk yang ke-12 kalinya, Nazar dinyatakan diterima sebagai prajurit TNI. Saat ini, ia telah berada di Banda Aceh untuk mempersiapkan diri mengikuti pendidikan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Nazar sendiri kepada awak media, Selasa, 29 September 2026, ia mulai memasuki pendidikan TNI di kawasan Mata Ie, Aceh Besar.

Bagi Nazar, keberhasilan tersebut bukan sekadar tentang lolos seleksi. Di balik cita-cita mengenakan seragam TNI, terdapat kisah tentang seorang anak yatim yang tidak mau menyerah, seorang ibu yang terus berdoa, serta orang-orang yang hadir memberikan dukungan ketika perjuangan terasa berat.

Ayah Meninggal, Ibu Berjuang Menghidupi Keluarga

Nazar merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, putra almarhum Astono dan Husna Ab.

Sang ayah yang semasa hidup bekerja sebagai sopir truk meninggal dunia pada tahun 2024. Sejak saat itu, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Husna berjualan gorengan keliling. Ia juga bekerja sebagai buruh kupas pinang dan membantu menjemur kopi milik tetangga.

Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas, Nazar tetap memelihara cita-citanya untuk menjadi prajurit TNI.

Ia tidak hanya mengandalkan keluarga. Sejak muda, Nazar turut bekerja sebagai buruh bangunan untuk membantu kebutuhan hidup sekaligus membiayai perjuangannya mengikuti seleksi.

Berbagai cara ditempuh. Sertifikat rumah keluarga bahkan pernah dijadikan agunan di bank. Bantuan dari tetangga melalui saweran juga menjadi bagian dari perjalanan Nazar mengikuti seleksi dari waktu ke waktu.

Namun, berkali-kali gagal tidak membuatnya berhenti.

Seleksi ke-12 dan Doa Seorang Ibu

Perjuangan Nazar semakin mengharukan menjelang seleksi yang ke-12.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM

Saat itu, Nazar sedang bekerja sebagai buruh bangunan. Ia mengerjakan renovasi rumah Camat Pandrah Juanda Abdullah, SE., MM., yang berdomisili di Gampong Teungoh Glanggang Baro, Kecamatan Kota Juang.

Kepala tukang kemudian menceritakan kepada camat tentang Nazar yang kembali berusaha mengikuti seleksi TNI untuk yang ke-12 kalinya.

Mendengar kisah tersebut, Juanda Abdullah tersentuh. Kegigihan seorang anak yatim yang tidak berhenti mengejar cita-cita untuk mengabdi kepada negara membuatnya tergerak memberikan dukungan.

Camat Juanda Abdullah kemudian datang langsung ke rumah keluarga Nazar dan membantu biaya keberangkatannya untuk mengikuti seleksi prajurit karier di Banda Aceh.

Namun, sebelum berangkat, Nazar melakukan sesuatu yang sangat membekas bagi keluarganya.

Ia mencuci kaki ibunya dan meminumnya sebagai bentuk bakti sekaligus memohon doa dan restu.

Dengan penuh harapan, Nazar meminta sang ibu mendoakannya agar perjuangan pada kesempatan ke-12 tersebut diberi jalan oleh Allah SWT.

Tidak ada yang tahu bahwa perjalanan kali ini akan menjadi titik balik dalam hidupnya.

Setelah seluruh tahapan seleksi selesai, Nazar kembali ke kampung halaman sambil menunggu hasil.

Hingga akhirnya, kabar yang selama bertahun-tahun dinantikannya datang.

Muhammad Nazar Mediansyah dinyatakan diterima sebagai prajurit TNI.

“Masya Allah, Alhamdulillah.”

Ungkapan itu menjadi luapan syukur keluarga. Nazar bersama sang ibu dan keluarga kemudian melakukan sujud syukur atas keberhasilan tersebut.

Jual Knalpot Demi Sebuah Cita-Cita

Perjuangan Nazar tidak berhenti setelah dinyatakan lolos.

Untuk memenuhi kebutuhan keberangkatan dan persiapan pendidikan, ia kembali mencari jalan di tengah keterbatasan.

Tanpa diketahui keluarga, Nazar menjual knalpot sepeda motornya untuk mendapatkan biaya keberangkatan dan kebutuhan lainnya.

Bagi sebagian orang, menjual knalpot mungkin terlihat sebagai hal sederhana.

Namun bagi Nazar, benda itu menjadi bagian dari pengorbanan untuk mewujudkan cita-cita yang telah dikejarnya selama bertahun-tahun.

Ia memilih kehilangan sesuatu yang dimilikinya daripada kehilangan kesempatan untuk mengejar masa depan.

Keluarga: Pernyataan Danrem 011/Lilawangsa Sangat Benar

Keluarga Muhammad Nazar Mediansyah juga menyampaikan terima kasih kepada Danrem 011/Lilawangsa Brigjen TNI Ali Imran atas pernyataannya mengenai proses untuk masuk TNI.

Menurut keluarga, pernyataan Danrem bahwa untuk masuk TNI tidak harus “ngartis” atau menggunakan cara-cara khusus sangat sesuai dengan apa yang dialami Nazar.

“Pernyataan Bapak Danrem 011/Lilawangsa Brigjen TNI Ali Imran bahwa untuk masuk TNI itu ‘ngartis’ itu sangat benar. Nazar membuktikannya sendiri. Dia berjuang berkali-kali, gagal berkali-kali, tetapi akhirnya berhasil melalui proses seleksi,” ujar keluarga Nazar kepada awak media di halaman rumahnya.

Keluarga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Danrem serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama perjalanan Nazar.

“Terima kasih Pak Danrem. Bagi kami, keberhasilan Nazar menjadi prajurit TNI adalah kebahagiaan dan kebanggaan yang luar biasa,” ujar keluarga.

Selasa, 29 September, Nazar Mulai Pendidikan

Kini Muhammad Nazar Mediansyah telah berada di Banda Aceh.

Selasa, 29 September 2026, menjadi salah satu hari penting dalam perjalanan hidupnya. Ia akan mulai memasuki pendidikan TNI di kawasan Mata Ie, Aceh Besar.

Dari sebuah rumah sederhana di Gampong Cot Gapu, Nazar kini melangkah menuju babak baru kehidupannya.

Di belakang langkahnya ada doa seorang ibu.

Di sepanjang perjuangannya ada dukungan keluarga, tetangga dan orang-orang yang percaya kepadanya.

Dan di dalam dirinya ada tekad yang ditempa oleh 12 kali kegagalan.

Kisah Nazar menjadi gambaran bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi alasan untuk mengubur cita-cita. Ia membuktikan bahwa kegagalan berkali-kali tidak harus menjadi akhir dari sebuah perjuangan.

Terkadang, kegagalan hanya menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju waktu yang telah ditentukan Allah SWT.

Kini, cita-cita yang dahulu hanya hidup dalam hati seorang anak yatim Cot Gapu mulai menemukan bentuknya.

Nazar berangkat membawa doa ibunya, dukungan keluarganya, dan tekad untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

Dua belas kali gagal tidak membuatnya berhenti. Pada kesempatan ke-12, jalan itu akhirnya terbuka.[*/Red]
Komentar

Tampilkan

Terkini