LINTAS ATJEH | ACEH UTARA - Perbaikan jalan nasional di kawasan Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, kembali menuai sorotan. Bukannya terbebas dari debu, pengguna jalan justru harus menghadapi kepulan debu tebal yang semakin parah di tengah cuaca panas.
Kondisi tersebut terjadi pada Senin, 28 September 2026, khususnya sepanjang ruas jalan sekitar 1 kilometer, mulai dari Jembatan Krueng Mane hingga Puskesmas Kecamatan Muara Batu.
Titik yang paling dikeluhkan berada di Simpang Jalan Elak, tepatnya di depan Alfamart. Setiap kendaraan yang melintas memicu debu beterbangan dan menutupi badan jalan.
Kondisi ini semakin terasa pada siang hari ketika suhu udara panas. Debu yang beterbangan tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga berpotensi mengganggu jarak pandang serta aktivitas masyarakat dan pelajar yang melintasi kawasan tersebut.
Salah seorang pengguna jalan, Tuti Asnawati, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Gandapura asal Krueng Mane, Aceh Utara, mengaku merasakan langsung kondisi tersebut saat perjalanan pulang sekolah.
«“Siang hari saat kami pulang ke Krueng Mane, debu menutup jalan. Tepatnya di Simpang Jalan Elak, depan Alfamart, debunya sangat terasa,” ujar Tuti, Senin (28/9/2026).»
Menurut Tuti, masyarakat sebenarnya menyambut baik perbaikan jalan tersebut. Infrastruktur yang lebih baik tentu sangat dibutuhkan masyarakat dan pengguna jalan.
Namun, menurutnya, selama proses pekerjaan berlangsung, pihak pelaksana juga harus memperhatikan kondisi masyarakat yang setiap hari menggunakan jalur tersebut.
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA LINTASATJEH.COM
«“Cuacanya sangat panas. Seharusnya jalan disiram secara rutin, mungkin satu jam sekali, supaya debunya tidak beterbangan,” katanya.»
Keluhan ini menempatkan persoalan pengendalian debu dan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai perhatian penting dalam pelaksanaan proyek.
Penyiraman jalan secara berkala, pengaturan lalu lintas, pemasangan rambu pekerjaan, serta langkah keselamatan lainnya dinilai penting untuk meminimalkan dampak pekerjaan terhadap pengguna jalan.
Masyarakat pun berharap pihak pelaksana tidak hanya berorientasi pada percepatan penyelesaian pekerjaan fisik, tetapi juga memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan selama proyek berlangsung.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh diminta turun melakukan evaluasi langsung ke lapangan, terutama terhadap metode pengendalian debu dan penerapan K3 pada ruas tersebut.
Perbaikan jalan tentu merupakan hal yang patut diapresiasi. Namun, pembangunan infrastruktur semestinya memberikan manfaat tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat selama proses pengerjaan.
Jalan boleh diperbaiki, tetapi debu jangan dibiarkan menguasai jalan.
Kini masyarakat menunggu langkah konkret pihak pelaksana dan instansi terkait untuk mengatasi persoalan tersebut, terutama di kawasan Simpang Elak hingga ruas Jembatan Krueng Mane–Puskesmas Kecamatan Muara Batu.
Sebab, bagi pengguna jalan, jalan yang sedang dibangun tetap harus aman untuk dilalui hari ini—bukan hanya nyaman setelah proyek selesai.[*/Red]
