50 Orang Ikuti Sosialisasi Pemantapan Wasbang di Aceh Selatan

ACEH SELATAN - Sebanyak 50 orang mengikuti sosialisasi pemantapan nilai-nilai sejarah, karakter dan wawasan kebangsaan dengan tema 'Kita Bangun Jiwa Bangsa yang Bersatu demi Persatuan dan Kesatuan Bangsa Negara Republik Indonesia' yang digelar di aula Hotel Pante Cahaya Jl. Merdeka Tapaktuan, Selasa (18/07/2017).

Hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Wakil Bupati Aceh Selatan Kamarsyah, S.Sos, Staf Ahli Pangdam IM Bagian Hukum dan Humaniter Kolonel Caj Dr. Ahmad Husein, MA, Dosen dan Akademi Unsyiah Banda Aceh Dr. Rusli Yusuf, MPD, Kabid Bina Idiologi Wawasan Kebangsaan Kesbangpol Provinsi Aceh Restu Audi Surya, S.STP, MAP, Perwakilan Dandim 0107/Asel Kapten Inf  Amri Umari, Perwakilan Kapolres Asel IPDA Amar, Kepala Kesbangpol Asel Akmal Hilma, Kepala Dinas Pendidikan Asel Drs. Martunis, Camat Tapaktuan Yulmainar, Kepala Mukim Hilir Yusuf Supeno, para kepala desa se-ecamatan Tapaktuan, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat serta tokoh pemuda se-Kecamatan Tapaktuan.

Kabid Bina Idiologi Wawasan Kebangsaan Kesbangpol Provinsi Aceh, Restu Audi Surya, S.STP, MAP, mengucapkan terimakasih dan selamat datang kepada para peserta pemantapan nilai-nilai sejarah dan wawasan kebangsaan yang telah memenuhi undangan berjumlah 50 orang.

"Kepada para peserta, permintaan maaf dari Kepala Kesbangpol Provinsi Aceh karena berhalangan tidak dapat hadir di acara ini dikarenakan ada agenda pertemuan di kantor Gubernur Aceh," demikian ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Aceh Selatan, Kamarsyah, S. Sos, berkesempatan memberikan sambutan dan arahan. Dikatakannya, perkembangan teknologi yang semakin pesat dimedia sosial yang dapat merusak mental dan moral generasi muda dan untuk itu kita sebagai orang tua harus memahami betul apa yang diperbuat oleh anak-anak kita tentang pemanfaatan media sosial.

"Penjajahan biologis ini bukan dari luar negeri akan tetapi dari dalam negeri. Untuk itu, generasi muda harus memahami Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI," terang Wabup Kamarsyah.

Dijelaskan juga, penjajahan negara Eropa di Indonesia yang menguasai di bidang ekonomi serta kerja paksa sebelum masa kemerdekaan dan timbul rasa nasionalisme yaitu pada lahirnya sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Merdeka dalam kata arti kita bisa berjalan ke  daerah lain tanpa membeda-bedakan ras, suku, dan adat istiadat suatu daerah yang dapat menimbulkan kekerasan.

"Peningkatan sumber daya manusia kita masih rendah sehingga kita wajib memberikan pengetahuan agar kita tidak dibodoh-bodohi oleh bangsa lain," demikian pesan Wabup Kamarsyah.

Adapun pemberian materi wawasan kebangsaan disampaikan oleh Akademisi Unsiyah, Dr. Rusli Yusuf, MPD. Dalam materinya mengatakan musuh yang paling ditakuti di suatu negara adalah korupsi, fanatik terhadap kelompok, kaburnya moral baik dan buruk, penggunaan bahasa yang buruk dan pengguna narkoba, minuman alkohol dan pemerkosaan.

"Idiologi liberal individu, mayoritas bangsa, nasionalisme dan neo nasionalisme. Pesatnya perkembangangan ilmu pengetahuan dan melahirkan pengetahuan yang lebih modern sehingga nasionalisme merupakan rasa kebangsaan bersifat Universal dengan membuat nilai-nilai global yang berpadukan nilai-nilai lokal (kebangsaan)," jelasnya.

"Kemudian, perlu pendekatan kita kepada anak-anak didik karena dari merekalah kita menanamkan rasa nasionalisme agar tidak ada lagi kepentingan individu melainkan kepentingan NKRI," tandas Dr. Rusli Yusuf, MPD.

Selanjutnya, Staf Ahli Pangdam Kolonel Caj Dr. Ahmad Husein, MA, dalam materinya mengatakan pada saat bertemu Presiden Joko Widodo menyatakan agar bangsa ini untuk bersatu dengan kata 'AKU INDONESIA'.

"Untuk menjaga keutuhan bangsa ini, ada 4 hal yang harus diamalkan dan dipedomani yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika," jelasnya tegas.

Lanjutnya, negara yang kuat harus berdiri suatu pertahanan militer contohnya di koramil-koramil setempat yang bertulisan NKRI Harga Mati, Bersama Rakyat TNI Kuat yang maknanya sangat dalam. Kata selanjutnya, Jangan Ditanya Kapan Perang Karena Bangsa Kita Indonesia Sudah Menuju Jalan Perang.

Masih kata dia, negara kita Indonesia bukan mementingkan individu ataupun kelompok yang mengatasnamakan Negara Islam karena berdirinya Pancasila itu dari pahlawan nasional yaitu Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dan Pangeran Antasari. Merekalah salah satu yang merumuskan dan melahirkan Pancasila. 

"Kita harus mengenal adat istiadat dan budaya suatu daerah pada generasi muda kita dengan tarian tradisonal seperti tarian Saman yang terkenal di negara eropa. Dulu pemuda kita beramai-ramai mendirikan tiang Bendera Merah Putih dan sekarang pemuda kita beramai-ramai pakai tiang (tongsis) untuk berfoto," demikian pesan Staf Ahli Pangdam IM mengingatkan.[FA]

Baca Juga