-->








Demam Giok dan Narkoba di Aceh

22 Februari, 2015, 13.54 WIB Last Updated 2015-02-22T11:18:46Z
Ternyata demam batu giok dan akik tak hanya melanda warga Aceh, tapi hampir merata di seluruh Indonesia. Beberapa provinsi mulai memperkenalkan batu alam andalan dari daerahnya.

Demam batu tak hanya melanda pria. Perempuan pun tak mau kalah. Apalagi giok dan akik juga diasah untuk liontin maupun mata gelang.

Beberapa jenis giok Aceh menjadi incaran pencinta batu cincin, seperti solar super, idocrase, nephrite, batu akik cempaka madu, lavender, giok hitam, dan berbagai jenis lainnya. Harganya pun bervariasi mulai dari puluhan ribu hingga jutaan. Kebanyakan nama diberikan sendiri oleh pedagang dan pecinta batu dengan melihat warna batu. Lalu, sebutannya melekat dan jadi lazim.

Selain penjualan batu, bisnis asah giok dan akik juga tumbuh di hampir setiap sudut kota Banda Aceh. Hampir semua tukang asah mendapat orderan dalam jumlah besar sehingga pemilik batu alam terpaksa menunggu sampai seminggu barangnya selesai. Ongkos mengasah sebiji batu alam bervariasi antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Tentu ini suatu hal yang baik karena bisa mengurangi pengangguran bahkan meningkatkan taraf hidup dan mengurangi kemiskinan.

Namun demam batu giok juga menimbulkan masalah lingkungan dan masalah sosial. Seperti penemuan batu giok Aceh sekitar 20 ton di kawasan Gampong Krueng Isep, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, telah menimbulkan konflik antara warga dan pendatang. Warga lokal marah karena pendatang tak berkomitmen menjalani moratorium pengambilan batu alam yang diolah menjadi batu perhiasan dan akik itu.

Bukan hanya batu akik ataupun batu giok yang membuat demam Aceh, namun "batu" jenis kristal dan "batu" warna-warni juga membuat Aceh darurat narkoba. Batu-batu" jenis sabu dan ekstasi yang banyak didatangkan khusus dari Malaysia melalui jalur-jalur tikus sepanjang pesisir itu, semakin membuat Aceh dalam darurat narkoba.

Peredaran narkoba semakin merajalela di Aceh, terbukti dengan tertangkapnya beberapa gembong narkoba di wilayah Banda Aceh, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur dan beberapa kasus serupa di seluruh wilayah Aceh.

Dari informasi yang dihimpun penulis 2 bulan terakhir, Polisi di Provinsi Aceh dan jajarannya berhasil menangkap dan mengamankan barang bukti narkoba dalam jumlah fantastis.

Polresta Banda Aceh, Senin malam (12/1) sekitar pukul 21.30 WIB menggerebek sebuah rumah di Jalan Merak, Lr. Jeumpa, Desa Neusu Aceh, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh. Rumah tersebut dijadikan tempat memproduksi narkoba jenis sabu-sabu. Polisi juga berhasil menangkap tangan pelaku yang sedang meracik sabu-sabu di rumah tersebut. Petugas langsung mengamankan tersangka Sofyan (52) dan istri serta seorang anaknya laki-laki yang masih remaja. Menurut pengakuannya, bahan baku dan alat pembuat sabu rumahan ini dibeli seharga Rp 50 juta. Dari alat ini, dia mengaku bisa menghasilkan sabu-sabu sebanyak 1 ons dalam jangka waktu 1 minggu seharga Rp 75 juta.

Kemudian pada Selasa (18/1), Polres Aceh Tamiang berhasil menyita sebanyak 17 kilogram sabu dan 170.000 butir ekstasi dari sebuah truk intercooler. Supir truk Bachtiar Joni (38), warga Desa Buket Seraja, Kecamatan Julok, Aceh Timur, rencananya narkoba tersebut akan dibawa ke Medan, Sumatera Utara. Narkotika asal Malaysia ini dipasok ke Aceh melalui perairan Aceh Timur.

Selanjutnya, empat bandar narkoba jenis sabu-sabu asal Aceh Timur juga berhasil dibekuk pihak Kepolisian Resort Aceh Utara, Sabtu (14/2/15) sekitar pukul 07.30 WIB. Keempat tersangka ini masing-masing berindentitas Muzakir bin Abdullah (19), warga Desa Caluok Geulima, Kecamatan Idi Rayek, Kabupaten Aceh Timur, dan Ramli bin Arbi (49) warga yang sama. Sedangkan Herman bin Husen (49) warga Sungai Pauh, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa dan Nanik Andriani binti Zainul Arifin (39), warga Desa Jawa Tengah, Kecamatan Langsa Kota. Mereka dibekuk di kawasan Desa Cempeudak, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Dari tangan pelaku polisi berhasil menyita barang haram jenis sabu-sabu tersebut seberat 14,440 kilogram.

Yang tak kalah hebohnya dengan demam batu giok, yakni penangkapan sindikat sabu terbesar di Aceh. Aparat gabungan BNN, Subden 2 Detasemen B Pelopor Aramiah, Sat Brimob Polda Aceh, dan Polres Aceh Timur berhasil menyita sabu seberat 77,35 kg, uang tunai Rp 49.300.000. Selain itu juga berhasil mengamankan lima tersangka dan empat senjata api, yakni sepucuk M-16 dan tiga pucuk pistol jenis FN. Tersangka pemilik maupun pengedar sabu seberat 77,35 kg ini, ditangkap Minggu (15/2) di Desa Alue Bu, Peureulak Barat, Aceh Timur pukul 06.30 WIB.

Dari fakta-fakta diatas, demam giok Aceh telah mengubah gaya hidup, ekonomi dan kondisi sosial masyarakat Aceh. Hendaknya demam giok juga diimbangi dengan menjaga lingkungan jangan sampai merusaknya yang justru akan merugikan generasi penerus.

Yang lebih penting imej "sarang bandar narkoba" tidak akan melekat di wilayah serambi Mekkah ini. Karena narkoba bukan hanya merusak akhlak dan moral masyarakat, namun juga bisa menjadi bencana "tsunami" sendi-sendi kehidupan rakyat Aceh. Namun hendaknya darurat narkoba juga harus diperangi secara bersama-sama antara masyarakat, aparat kepolisian dan Pemerintah Aceh serta jajarannya sehingga Aceh bebas narkoba dan tetap bisa menikmati demam giok yang mendunia.

Penulis: Ari Muzakki seorang jurnalis warga PPWI
Komentar

Tampilkan

Terkini