-->








Ratusan Hektar Tanaman Padi di Aceh Utara Terancam Mati

13 Februari, 2015, 18.41 WIB Last Updated 2015-02-13T11:42:15Z
LHOKSUKON - Seluas 501 hektar (Ha) tanaman padi di Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara terancam mati kekeringan karena tidak adanya saluran irigasi. Petani juga kesulitan mencari pupuk bersubsidi.

Kepada lintasatjeh.com, Jum'at (13/2), kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Baktiya Barat, Marzuki, membenarkan bahwa seluas 501 hektar tanaman padi mengalami kekeringan dan terancam mati akibat tidak adanya saluran air irigasi.

Dia menyebutkan, luas sawah di kecamatan Baktiya Barat yaitu 2.572 hektar. Sedangkan 501 hektar adalah sawah tadah hujan. Kata di, untuk 501 hektar sawah tidak dibangun irigasi karena tidak ada sumber air mengingat dekat dengan daerah pesisir.

Sawah tadah hujan tersebut terdapat di beberapa desa di Baktiya Barat, diantaranya, Desa Matang Kelayu, Matang Panyang, Menasah manyang, dan Desa Matang Hu. Menurutnya, petani di kawasan itu kerap mengalami gagal tanam karena kekeringan. Bahkan, padi yang ditanam pada awal 2015 juga terancam gagal tanam karena kekeringan.

Selain itu penyebabnya, tempat penampungan air pompanisasi di desa Matang Paya, Kecamatan Baktiya jebol sebelum difungsikan sehingga masyarakat sangat membutuhkan air untuk sawah mereka.

"Pompanisasi itu jebol saat diresmikan oleh Bupati Aceh Utara, Muhammad Thaib beberapa waktu lalu. Jika tempat penampungan ir itu dapat difungsikan diperkirakan dapat dialiri beberapa hektar sawah," terangnya.

Sementara salah seorang petani, Yus Adi (39) mengatakan, tanaman padi miliknya sudah mulai layu karena tidak ada air, jika hujan tidak turun dalam beberapa hari ke depan diperkirakan tanaman padi mereka akan mati.

"Kami cuma bisa mengharap air hujan, jika hujan tidak turun dalam beberapa hari kedepan tanaman padi akan layu, jika sudah bengini petani memotong padi yang sudah ditanam itu untuk pakan ternak mereka," ujarnya.

Sementara tanaman padi milik petani di Aceh Utara yang ditanam pada awal 2015 itu saat ini perlu dipupuk, namun petani mengaku sulit mendapatkan pupuk urea. Jikapun ada pupuk urea subsidi pada pengecer, kami harus membelinya seharga Rp130 ribu per sak. Padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk Urea subsidi Rp90 ribu per sak. [01]
Komentar

Tampilkan

Terkini