-->

Harga BBM Bisa Naik Lebih Tinggi, Kata Pengamat

01 Maret, 2015, 11.16 WIB Last Updated 2015-03-01T04:16:38Z
JAKARTA - Pengamat Perminyakan Maizar Rahman mengatakan, pergerakan harga minyak dunia saat ini memang sulit diprediksi. Sebab, selain faktor fundamental, banyak juga faktor non fundamental yang ikut berpengaruh. Salah satunya adalah spekulan.

“Terutama spekulan minyak kertas (transaksi di pasar berjangka atau futures, Red),” terang Maizar pada Jawa Pos (induk JPNN).

Mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu menyebut, anjloknya harga minyak dalam empat bulan terakhir memang diproyeksi tidak akan berlangsung lama. Sebab, harga di kisaran USD 50 per barel ini sudah berada di bawah harga keekonomian shale oil maupun renewable energy lainnya.

Karena itu, ketika harga minyak terus berada di level rendah, banyak proyek pengembangan shale oil di Amerika Serikat yang kini dihentikan. Sehingga, ke depan, suplai minyak dunia dari shale oil akan turun. “Kalau supply sudah turun, harga pasti naik,” tambah Maizar.

Sebagai gambaran, Kamis lalu harga minyak jenis light sweet yang diperdagangkan di Amerika mencatat kenaikan signifikan sebesar USD 1,71 atau 3,5 persen ke level USD 50,99 per barel. Adapun minyak jenis Brent yang banyak diperdagangkan di Eropa mencatat kenaikan USD 2,97 atau 5,1 persen ke level USD 61,63 per barel.

Maizar memprediksi, rata-rata harga minyak sepanjang tahun ini akan kembali naik ke kisaran USD 70 per barel. Alasannya, karena harga USD 50 per barel sudah berada di bawah harga pokok produksi minyak beberapa anggota OPEC. Karena itu, OPEC dipastikan tidak ingin lama-lama menahan rugi dan berpotensi mengurangi produksi untuk menaikkan harga.

“Juni nanti, OPEC akan sidang lagi. Kalau saat itu harga masih rendah, besar kemungkinan mereka akan memangkas produksi,” tambah Maizar.

Harga tersebut, lanjut dia, berpotensi untuk merangkak naik di 2016. Seiring membaiknya perekonomian dunia, permintaan minyak akan kembali naik, sehingga harga minyak diperkirakan bergerak ke kisaran USD 75 - 80 per barel.

“Konsekuensinya bagi Indonesia, harga BBM yang dipatok berdasar harga pasar bisa naik lagi lebih tinggi, apalagi jika ditambah dengan pelemahan rupiah,” tegas Maizar. [jpnn]
Komentar

Tampilkan

Terkini