![]() |
| IST |
JAKARTA - Stigma korupsi selalu dikaitkan dengan profesi seorang
politikus. Wajar saja, karena kasus korupsi yang marak terjadi banyak
melibatkan politisi di eksekutif maupun legislatif.
Menurut
Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (Sekjen PAN) Eddy Soeparno menegaskan,
perilaku koruptif yang marak dimiliki politisi bukan karena niat. Dia merasa
sangat yakin bahwa tidak ada pejabat yang dari awal ingin berniat untuk mencuri
uang rakyat setelah duduk di jabatannya.
Eddy
menilai, banyaknya politisi yang terjerembab korupsi lebih kepada karena
kekhilafan. Menurut dia, tidak ada politisi yang sejak awal berniat mencuri
uang rakyat sebelum menjadi pejabat.
"Dan
dari awal pun pasti ketika dilantik tidak ada yang mau korupsi. Saya melihat
yang bersangkutan lebih kepada khilaf daripada dia sudah berniat untuk korupsi
dan penyelewengan lainnya. Tetapi kita tidak bisa analisa kenapa, kita tidak
bisa generalisir kenapa sampai orang melakukan itu. Tapi saya memandang itu
lebih pada kekhilafan orang itu ketimbang sengaja dari awal," ujar Eddy
ketika berbincang dengan merdeka.com di ruang kerjanya di Kantor DPP PAN, Jalan
Senopati No. 133, Jakarta Selatan, Kamis (12/11) pekan lalu.
Eddy
juga melihat jika perilaku koruptif itu harusnya dikembalikan kepada komitmen
diri masing-masing. Namun sekali lagi, dia menegaskan, tidak ada politisi yang
memang berniat dari awal untuk melakukan korupsi.
"Ya
itu enggak tahu ya. Itu kembali pada komitmen pribadi masing-masing. Situasinya
juga kita tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi menurut saya dari awal
itu tidak ada politisi yang ketika dia maju berniat untuk korupsi. Itu tidak
ada," tegas dia.
Menurut
Eddy, korupsi mempunyai hubungan lurus dengan keputusan politik setiap politisi
yang menjabat (baik wali kota, bupati, gubernur maupun anggota DPR/DPRD).
Sebab, dalam pengamatannya, peluang korupsi selalu terjadi dalam kebijakan yang
dibuat.
"Kebijakan
itu mestinya terutama dari segi keputusan politik yang dibuat andaikata itu
keputusan kemudian dipandang merugikan masyarakat," tutur dia.
Partai
Amanat Nasional (PAN) jadi salah satu partai yang elitenya paling sering
dikaitkan dengan korupsi. Tiga ketua umum PAN dikaitkan dengan kasus korupsi
yang sedang diusut oleh KPK.
Soetrisno
Bachir misalnya, sempat terbelit kasus korupsi pengadaan alat kesehatan di
Departemen Kesehatan. Kala itu, Soetrisno Bachir disebut menerima uang Rp 1,4
miliar yang diberikan oleh adik iparnya, Nuki Syahrun, yang diduga hasil
korupsi proyek pengadaan alat kesehatan dan perbekalan dalam rangka wabah flu
burung tahun anggaran 2006, di Direktorat Bina Pelayanan Medik Kementerian
Kesehatan.
Namun
Soetrisno membantah terlibat kasus korupsi dengan tersangka adik Gubernur
Banten, Ratu Atut Chosiyah, Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan. Soetrisno
menyatakan bahwa uang itu adalah pinjaman yang dikembalikan kepadanya.
Sementara
Hatta Rajasa pernah terbelit kasus dugaan korupsi hibah kereta dari Jepang
tahun 2006 lalu. Hatta saat itu menjabat sebagai Menteri Perhubungan era Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan anak buahnya, Dirjen Perkeretapian Kementerian
Perhubungan Soemino Eko sudah masuk bui.
Selanjutnya
Zulkifli Hasan diterpa kasus korupsi pembebasan lahan di Pemprov Riau. Zulkifli
sudah diperiksa KPK sebagai saksi. Dia disebut permudah pengurusan pembebasan
lahan yang membelit Gubernur nonaktif Riau, Annas Maamun. Namun Zulkifli tegas
membantah ketelibatannya dalam korupsi Annas tersebut. [Merdeka]



.jpg)





