![]() |
| IST |
PALEMBANG - Rendi Anggara alias Angga (10) menghembuskan nafas
terakhir setelah tertembak peluru nyasar yang berasal dari pistol anggota
Satres Narkoba Polresta Palembang. Kematiannya bocah kelas V SD menyisakan duka
mendalam.
Bibi
korban, Rika (37) menuturkan, setiap hari sepulang sekolah, keponakannya itu
selalu mampir ke rumahnya untuk bermain dengan sepupu-sepupunya. Rika sangat
terpukul atas kematian bocah pendiam ini.
"Tiap
hari main ke sini. Main sama anak-anak saya. Dia itu sedikit pendiam tapi rajin
ngaji," ungkap Rika kepada merdeka.com, Minggu (6/12).
Angga
lahir dari keluarga tidak mampu. Dia anak ke empat dari lima saudara. Ayahnya,
Ramlan (41) sehari-hari mencari nafkah dengan menjadi tukang becak. Sementara
ibunya Yani (40) membantu mencari nafkah dengan menjadi buruh cuci.
"Dia
masih ngontrak di sini, saya juga. Kalau punya uang banyak tidak mungkin kami
tinggal di sini," kata Rika menahan sedih.
Rika
menceritakan, saat kejadian ayah korban sedang mandi. Sedangkan ibu korban
memasak untuk makan siang. Mereka dikejutkan dengan teriakan sepupu-sepupu
Angga. Mereka berteriak setelah Angga tergeletak bersimbah darah dengan masih
memakai seragam sekolah.
"Kami
minta polisi yang menembaknya itu dihukum seberat-beratnya. Cuma itu,"
pungkasnya.
Diberitakan
sebelumnya, Rendi Anggara (10) terkena tembakan peluru nyasar saat bermain di
teras rumahnya di Jalan Segaran, Gang Aida, RT 11, RW 04, Kelurahan 13 Ilir,
Palembang, Sabtu (5/12) sekitar pukul 13.00 WIB.
Angga
tewas dengan luka tembak di kepalanya bagian kiri. Keluarga yang mendengar
tembakan itu langsung berhamburan keluar rumah dan mendapati korban sudah tak
bernyawa. Korban dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tak bisa diselamatkan.
Dugaan
sementara, tembakan tersebut berasal dari senjata api milik polisi yang sedang
mengejar pelaku narkoba. Sebelum kejadian, datang rombongan polisi sekitar
delapan orang yang berpakaian preman sekitar 15 meter dari lokasi. Lalu, dua
orang polisi terlibat perkelahian dengan pelaku narkoba.
Pelaku
narkoba yang belum diketahui identitasnya tersebut lari ke arah rumah korban.
Korban saat itu bermain bersama tiga sepupunya di teras rumahnya. Saat pelaku
narkoba tersebut kabur, kedua polisi tersebut melepaskan empat kali tembakan.
Satu tembakan mengenai etalase warung warga, dan satu tembakan lagi mengenai
korban yang berada di balik seng pagar rumahnya. [Merdeka]
