BANDA
ACEH – Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah, mengharapkan
masyarakat Aceh harus mempunyai sertifikasi Asean agar mampu bersaing di tingkat
Asean. Hal tersebut untuk menyongsong perberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA). Hal tersebut dikatakan Gubernur Zaini dalam sambutan yang dibacakan
Asisten III Setda Aceh, Syahrul Badruddin SE, M.Si saat Deklarasi dan
Pengukuhan Pengurus DPD Asttatindo Provinsi Aceh, periode 2016-2021, di aula
Sultan Selim II, Kamis (28/01).
Gubernur memandang, Asttatindo
punya peran penting dalam pembangunan di Aceh. Yaitu melatih dan menghadirkan
tenaga ahli dan terampil serta bersertifikasi dalam bidang kontruksi. Dengan
adanya sertifikat tersebut, peluang insinyur dan arsitek Indonesia, khususnya
Aceh akan lebih terbuka untuk bersaing di Negara-negara Asean. “Kita butuh
kesiapan SDM yang handal,” ujar Syahrul.
Aktivitas pembangunan
di Aceh saat ini pun, kata Syahrul cukup tinggi. Sebagai asosiasi yang melatih
tenaga ahli di bidang kontruksi, Asttatindo diharapkan bisa melatih masyarakat
Aceh sehingga mempunyai sertifikasi yang bahkan diakui hingga di tingkat Asean.
“Akan sangat bermanfaat jika proyek-proyek di Aceh dikerjakan oleh putra-putri
Aceh yang memiliki keahlian dan ketrampilan di bidang kontruksi,” kata Syahrul.
Pemerintah Aceh,
membuka diri kepada asosiasi-asosiasi yang mau bekerjasama membina anak muda.
Apalagi, saat ini pemerintah sedang menggalakkan aktivitas di Balai Latihan
Kerja untuk melatih para remaja agar memiliki keahlian, khususnya pada bidang
konstruksi. Keberadaan Asttatindo diharapkan dapat memperkuat program tersebut,
sehingga banyak pekerja terampil dan Aceh tak perlu lagi mendatangkan pekerja
dari luar.
“Kita berharap pengurus
yang dilantik ini bisa bekerja maksimal sehingga upaya peningkatkan pekerja
kontruksi Aceh jadi tambah baik,” ujar Syahrul.
Iskandar Mahmud, Ketua
DPD Asttatindo menyampaikan, keberadaan
asosiasi yang kini ia pimpin itu sudah terlihat manfaatnya. Hingga kini,
bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), Asttatindo sudah mengeluarkan lebih dari 700 sertifikat
keahlian kepada para pemuda dan pemudi di Provinsi Aceh. “Ke depan, kita akan
melakukan kerjasama antar asosiasi agar bisa melakukan pelatihan dengan tenaga
ahli di tingkat Asean,” kata Iskandar usai dilantik.
Indonesia, kata
Iskandar, memang masih kekurangan tenaga ahli yang bersertifikasi. Hanya ada
290 orang tenaga ahli yang bersertifikat Asean. Sementara yang memegang
sertifikat arsitek Asean hanya 53 orang. Cukup sedikit jika dibandingkan dengan
Singapura, yang luas wilayahnya hanya sebesar Jakarta. Singapura tercatat punya
tenaga ahli bersertifikasi Asean sebanyak 218 orang.
“Kelemahan kita di sisi
bahasa. Banyak modul dengan bahasa inggris,” kata Iskandar menjelaskan salah
satu alasan kurangnya tenaga ahli bersertifikasi Asean di Indonesia. Ia
menambahkan, dengan memperbanyak pelatihan, Aceh juga bisa mengambil peran
bekerja di bidang konstruksi hingga ke Negara-negara Asean.
"MEA sudah di
depan mata. Aceh sudah mengirimkan tenaga ahli untuk mengikuti pelatihan
sertifikasi Asean atas undangan Gapeksindo. Semoga utusan Aceh bisa lulus,
sehingga kita punya tenaga ahli di tingkat asean,” kata Iskandar.
Pengukuhan Pengurus DPD
Asttatindo Provinsi Aceh, dilantik oleh
I Nyoman Suparto Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asttatindo. Pelantikan
pengurus periode 2016-2021 ini dimulai dengan penyematan helm secara simbolis oleh
I Nyoman dan juga pembacaan sumpah bakti serta penyerahan bendera pataka
Asttakindo oleh ketua DPP kepada ketua DPD terpilih.
Dalam sambutannya, I
Nyoman menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dan subur, tapi
hasilnya dikeruk pihak luar. MEA, katanya menguntungkan Negara lain. “Kita
punya Negara besar, kaya dan subur. Pihak luar akan berbondong-bondong dating
kemari, mereka tahu kelemahan kita. Karena itu, mari persiapkan diri untuk
menyongsong MEA. Jangan lagi lahan kita diambil orang,” katanya.
Ir. Suwardi, ketua LPJK
Provinsi Aceh menyebutkan, pelantikan pengurus daerah Asttatindo merupakan awal
yang baik dalam pembentukan kader untuk mendidik dan membina tenaga ahli dan
terampil di Aceh. “Jadi para pekerja nantinya bisa lebih professional, mandiri
dan tangguh,” katanya. “Sebuah langkah maju yang dilakukan Asttatindo hari
ini,” lanjutnya lagi.
Latih
Tenaga Honor dan Kontrak
Menanggapi banyaknya
tenaga honor dan kontrak di provinsi Aceh, Ir Suwardi menyarakan untuk dibuat
kerjasama antara LPJK dan pemerintah untuk memerikan pelatihan pengukuran
kepada mereka, yang menerti atau punya
latar teknis . “Kita buat program, mari bekerjasama membangun Aceh,” katanya
Saat ini, kata
Suwardi, pemerintah dan para kontraktor
sangat membutuhkan tenaga ahli yang paham pengukuran. “Untuk tenaga honor dan
kontrak, kami akan membuat peltihan pengukuran bagi mereka. Karena itu memang
kebutuhan saat ini,” kaya Suwardi.
Menanggapi hal itu, Asisten III Setda Aceh,
Syahrul Badruddin SE, M.Si, mengatakan menyambut baik usulan tersebut. “Usul
yang sangat bagus. Kita akan bicara dengan dinas teknis terkait,” ujarnya. [humasaceh]
