![]() |
| IST |
BANDA ACEH - Diterapkannya arus globalisasi Masyarakat Ekonomi Asean
(MEA) di Indonesia sejak 1 Januari 2016 lalu menjadi tantangan baru bagi
masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Aceh. Berbagai persoalan yang
dihadapi Aceh saat ini akan menjadi beban berat bagi Aceh dalam menghadapi arus
globalisasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Terkait
sejauh mana kesiapan masyarakat Aceh dalam menyambut arus globalisasi MEA, Ketua
Umum Pengurus
Besar Pelajar Islam Indonesia (PB-PII), Munawar Khalil, melihat masih sangat lemah. Menurutnya masih banyak masyarakat Aceh tidak tau apa itu
MEA dan bagaimana pelaksanaan nantinya ini disebabkan kurangnya informasi dan
sosialisasi ke masyarakat apa lagi masyarakat yang berada di pedesaan dan
kawasan terpencil.
Kalau
dilihat
dari aspek pendidikan dan budaya misalkan, menurutnya aspek pendidikan sendiri yang belum memadai
masih sangat lemah dan kurang. Belum lagi, aspek budaya yang pastinya akan terjadi
percampuran dan pertukaran budaya yang menjauhkan masyarakat Aceh dari budaya
aslinya. Masyarakat belum cukup tau dan paham apa yang akan dihadapinya di era
MEA ini.
"Bisa kita buktikan langsung ke lapangan kita tanya masyarakat mereka
benar-benar tidak mengerti. Saya yakin benar masyarakat kita sangat belum siap
menerima kedatangan orang asing. MEA ini terkesan pemaksaan sistemik yang lahir
dari sikap egoisme pemerintah yang tidak mawas diri. Seharusnya persiapannya
sudah optimal baru diterapkan," tandasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, problem yang akan dihadapi pertama gaya hidup
masyarakat Aceh dengan dunia internasional sangat berbeda belum lagi bahasa
internasional. Kendatipun presiden mengatakan itu tidak berdampak, tapi dirinya yakin faktor bahasa juga menjadi salah satu
persoalan. Bayangkan saja, pihak negara lain sudah belajar bahasa Indonesia,
bahkan bahasa Aceh.
"Tetapi pemerintah kita masih menganggap itu bukan problem,
inikan aneh," ujarnya.
Dan
tak kalah penting, lanjutnya, untuk diperhatikan yakni terkai syariat Islam dan aturan-aturan lainnya yang tidak boleh
dilupakan begitu saja nantinya. Artinya Pasar bebas jangan sampai meluluh
lantakkan kebudayaan dan adat istiadat di Aceh yang punya sejuta kearifan
lokal, jangan sampai berdampak kepada pembebasan berbagai aspek dan tatanan
kehidupan.
Jangan
sampai ideologi transnasional berkembang pesat di Aceh, karena akan sangat
membahayakan dan dapat mengikis ideologi ke-Acehan dan ke-Indonesiaan dalam
bingkai islam yang selama ini telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu menurut Direktur Yayasan Aceh Kreatif (AK), Delky Novrizal, melihat
kondisi Aceh saat ini dengan segenap problematika yang tengah melanda Aceh,
seperti tingginya angka pengaguran dan tingkat kemiskinan. MEA akan jadi sebuah
persoalan penting bagi masyarakat Aceh,
jika tidak diperhatikan secara serius oleh berbagai elemen maka dipastikan
pengangguran dan kemiskinan di Aceh akan jauh lebih meningkat, mirisnya lagi
jika berbagai potensi yang luar biasa di Aceh justeru dinikmati pihak luar dan
masyarakat Aceh hanya jadi buruh kasar.
Bagaimana tidak, ketika kemampuan
SDM dan skill masyarakat Aceh masih rendah. Justru ada kekhawatiran di sektor
misalkan, tidak menutup kemungkinan RSUZA yang merupakan milik pemerintah Aceh
nantinya akan dikuasai oleh pihak luar, jika SDM lokal Aceh tidak sangguh.
Belum lagi dari arus barang, dimana
produk-produk lokal Aceh masih sangat minim pertumbuhannya dikarenakan oleh
rendahnya support dan perhatian dari berbagai pihak. tidak hanya itu inovasi
untuk pengembangan produk juga terlihat masih rendah, ditambah lagi dengan
keterbatasan teknologi dalam pengelolaannya. Yang lebih miris yakni masih
tingginya budaya konsumtif di masyarakat Aceh akan menjadikan Aceh sebagai
wilayah pemasaran yang empuk bagi produk asing.
Tapi sangat disayangkan, disaat MEA
kini telah diterapkan pemerintah Aceh justeru terlihat enjoy-enjoy saja,
sementara masyarakat mayoritas belum mengetahui MEA ini karena masih minimnya
sosialisasi dari pemerintah selaku stakeholder utama. Pemerintah Aceh jangan
hanya bisa membuai masyarakat dengan isu pemilukada, tapi persiapkan masyarakat
untuk menghadapi berbagai kemungkinan di era globalisasi MEA.
Sebelum terlambat, menurutnya sudah semestinya
pemerintah Aceh melakukan langkah strategis untuk melakukan upaya-upaya yang
terintegrasi dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Siapkan masyarakat
untuk mampu mengelola potensi lokal yang
dimiliki, jangan sampai ketika potensi lokal dikuasai asing lalu pemberontakan
dan konflikpun tak dapat dielakkan.
Karena berbagai keterbatasan
dimasyarakat dan pemerintah kurang memperhatikan, maka dikhawatirkan yang akan
dikembangkan oleh masyarakat Aceh ke depannya justeru ganja dan senjata, hal
itu bisa saja terjadi. Tidak menutup kemungkinan Din Minimi-Din Minimi berikutnya
akan lahir di Aceh ini.
Begitupun terkait anggaran Aceh
yang begitu besar hendaknya dapat menyentuh masyarakat secara optimal melalui
program-program yang terintegrasi dan tidak setengah hati, serta tak hanya
segelintir oknum yang dapat menikmati kue pembangunan di serambi mekkah ini.
Apalagi disektor pertanian yang pada tahun ini mendapat kucuran anggaran
mencapai 1 Triliun, hendaknya benar-benar dapat menyentuh kebutuhan para
petani, sehingga petani Aceh tidak terus menerus bergatung pada rintenir.
Ia pun berharap
pengembangan sektor ril baik itu sentra produksi, teknologi tepat guna, penanganan
pasca panen dan sebagainya hingga aspek pemasaran untuk produk lokal bisa
disediakan oleh pemerintah Aceh sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan dan
taraf ekonomi masyarakat Aceh ke depannya. [red]
