SINGKAWANG – Kapolres Singkawang
AKBP Sandi Alfadien Mustofa meminta warga untuk tetap menjaga ketenangan dan
kekondusifan Kota Singkawang terkait ditemukannya sejumlah kalender yang
mengandung gambar Palu dan Arit.
Terkait desas-desus mengenai
akan adanya demo dari masyarakat, Sandi mengimbau agar hal itu tak perlu
dilakukan.
"Tidak perlu sampai
seperti itu, mari kita sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban wilayah kita,"
kata Sandi, dikutip dari tribunnews,com, Kamis (30/6/2016), diruang kerjanya.
Sandi yang didampingi
Kabagops Kompol Jovan dan Kasat Intel AKP Adi, menuturkan setidaknya ada empat
orang yang telah dimintai keterangan terkait asal usul dan keberadaan kalender
ini.
Kesimpulan saat ini, yang
didapat hal ini juga tak terlepas dari ketidaktahuan masyarakat mengenai materi
kalender, terlebih lambang Palu dan Arit yang diidentikkan dengan PKI berada
pada bagian 1 Juli dan hanya satu-satunya.
"Ini lebih kepada
ketidaktahuan masyarakat ya, selain itu kami dari kepolisian juga mengucapkan
terimakasih banyak kepada masyarakat yang diantaranya datang sendiri ke Polres
menyerahkan kalender ini," katanya.
Anggota Dewan Perwakilan
Daerah (DPRD) Kota Singkawang, Thjai Cui Mie angkat bicara terkait beredarnya
kalender bergambar palu arit.
Pasalnya, ia juga
menggunakan jenis kalender yang sama untuk dibagikan ke masyarakat. Sebelumnya
diberitakan, jajaran Polres Singkawang mengamankan ratusan kalender bergambar
palu arit dari sejumlah toko maupun rumah warga. Kalender itu diperoleh warga
akhir tahun 2015 yang lalu.
Kalender itu biasanya
dibagikan oleh lembaga, perorangan, pelaku usaha, maupun rumah ibadah kepada
masyarakat dengan gambar papan gantung yang berbeda. Namun, kalender terebut
ada juga yang dijual di toko-toko tertentu.
Ketika dikonfirmasi
Kompas,com, Chui Mie, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa kalender penanggalan
khas Tiongkok (mandarin) yang digunakan tersebut diimpor dari negara luar. Kalender
tersebut memuat informasi yang cukup lengkap dengan menggunakan bahasa mandarin
tentang penanggalan imlek.
“Jadi yang biasanya suka
menggunakan kalender jenis ini adalah orang-orang tua, karena mereka biasanya
melihat kalender tersebut untuk menentukan hari baik bulan baik, peruntungan,
shio, dan sebagainya yang masih melekat dalam tradisi Tionghoa,” jelas Chui
Mie, Kamis (30/06/2016) malam.
Terkait dengan adanya
gambar palu arit di salah satu halaman kalender harian tersebut, Chui Mie
menguraikan bahwa di negara luar, seperti Tiongkok maupun Hongkong, ada hari
perayaan penyerahan Hongkong dari Inggris. Kalender tersebut dibuat di Tiongkok
dan beredar di sejumlah negara lainnya.
Ia juga tidak sempat
mengecek satu per satu setiap lembar kalender tersebut karena masih tersegel
saat dibeli.
“Jadi kembali lagi asal
dari kalender ini di produksi dimana, kalau yang ada gambar palu arit ini
sebetulnya untuk negara China. Karena kita yang membeli atau importir yang
memasok kalender ini ke Indonesia tidak tahu dengan isi kalender itu, kan
enggak mungkin cek satu persatu karena masih disegel,” papar politisi PDI
Perjuangan itu.
Soal logo yang terdapat
dalam kalender tersebut, Chui Mie berharap masyarakat menyikapinya dengan bijak
sehingga tidak menimbulkan keresahan.
Meski demikian, ia
mengakui tidak teliti dalam memilih kalender yang digunakan tersebut. Kalender
itu sejatinya memang digunakan di negara Tiongkok, termasuk simbol ataupun
penjelasan maupun informasi yang termuat di dalam setiap halaman kalender
tersebut.
“Jadi kalender itu tidak
ada hubungannya sama sekali dengan Indonesia. Negara ini sudah merdeka lebih
dari 70 tahun, masih cerita PKI, udah gak logis lagi. Mana ada PKI lagi, yang
perlu kita cerita itu bagaimana menyejahterakan masyarakat miskin,”
tandasnya.[Kompas/Tribunnews]



.jpg)

