-->








Beredar Kalender Anggota Dewan Berlogo Palu Arit

03 Juli, 2016, 15.58 WIB Last Updated 2016-07-03T08:58:24Z
SINGKAWANG – Kapolres Singkawang AKBP Sandi Alfadien Mustofa meminta warga untuk tetap menjaga ketenangan dan kekondusifan Kota Singkawang terkait ditemukannya sejumlah kalender yang mengandung gambar Palu dan Arit.

Terkait desas-desus mengenai akan adanya demo dari masyarakat, Sandi mengimbau agar hal itu tak perlu dilakukan.

"Tidak perlu sampai seperti itu, mari kita sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban wilayah kita," kata Sandi, dikutip dari tribunnews,com,  Kamis (30/6/2016), diruang kerjanya.

Sandi yang didampingi Kabagops Kompol Jovan dan Kasat Intel AKP Adi, menuturkan setidaknya ada empat orang yang telah dimintai keterangan terkait asal usul dan keberadaan kalender ini.

Kesimpulan saat ini, yang didapat hal ini juga tak terlepas dari ketidaktahuan masyarakat mengenai materi kalender, terlebih lambang Palu dan Arit yang diidentikkan dengan PKI berada pada bagian 1 Juli dan hanya satu-satunya.

"Ini lebih kepada ketidaktahuan masyarakat ya, selain itu kami dari kepolisian juga mengucapkan terimakasih banyak kepada masyarakat yang diantaranya datang sendiri ke Polres menyerahkan kalender ini," katanya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kota Singkawang, Thjai Cui Mie angkat bicara terkait beredarnya kalender bergambar palu arit.

Pasalnya, ia juga menggunakan jenis kalender yang sama untuk dibagikan ke masyarakat. Sebelumnya diberitakan, jajaran Polres Singkawang mengamankan ratusan kalender bergambar palu arit dari sejumlah toko maupun rumah warga. Kalender itu diperoleh warga akhir tahun 2015 yang lalu.

Kalender itu biasanya dibagikan oleh lembaga, perorangan, pelaku usaha, maupun rumah ibadah kepada masyarakat dengan gambar papan gantung yang berbeda. Namun, kalender terebut ada juga yang dijual di toko-toko tertentu.

Ketika dikonfirmasi Kompas,com, Chui Mie, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa kalender penanggalan khas Tiongkok (mandarin) yang digunakan tersebut diimpor dari negara luar. Kalender tersebut memuat informasi yang cukup lengkap dengan menggunakan bahasa mandarin tentang penanggalan imlek.

“Jadi yang biasanya suka menggunakan kalender jenis ini adalah orang-orang tua, karena mereka biasanya melihat kalender tersebut untuk menentukan hari baik bulan baik, peruntungan, shio, dan sebagainya yang masih melekat dalam tradisi Tionghoa,” jelas Chui Mie, Kamis (30/06/2016) malam.

Terkait dengan adanya gambar palu arit di salah satu halaman kalender harian tersebut, Chui Mie menguraikan bahwa di negara luar, seperti Tiongkok maupun Hongkong, ada hari perayaan penyerahan Hongkong dari Inggris. Kalender tersebut dibuat di Tiongkok dan beredar di sejumlah negara lainnya.

Ia juga tidak sempat mengecek satu per satu setiap lembar kalender tersebut karena masih tersegel saat dibeli.

“Jadi kembali lagi asal dari kalender ini di produksi dimana, kalau yang ada gambar palu arit ini sebetulnya untuk negara China. Karena kita yang membeli atau importir yang memasok kalender ini ke Indonesia tidak tahu dengan isi kalender itu, kan enggak mungkin cek satu persatu karena masih disegel,” papar politisi PDI Perjuangan itu.

Soal logo yang terdapat dalam kalender tersebut, Chui Mie berharap masyarakat menyikapinya dengan bijak sehingga tidak menimbulkan keresahan.

Meski demikian, ia mengakui tidak teliti dalam memilih kalender yang digunakan tersebut. Kalender itu sejatinya memang digunakan di negara Tiongkok, termasuk simbol ataupun penjelasan maupun informasi yang termuat di dalam setiap halaman kalender tersebut.

“Jadi kalender itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Indonesia. Negara ini sudah merdeka lebih dari 70 tahun, masih cerita PKI, udah gak logis lagi. Mana ada PKI lagi, yang perlu kita cerita itu bagaimana menyejahterakan masyarakat miskin,” tandasnya.[Kompas/Tribunnews]
Komentar

Tampilkan

Terkini