Search This Blog

Banyak Di Baca

IKUTI VIA EMAIL

PV

13 Tahun MoU Helsinki Gagal, Elit GAM 'Cok Dame' Harus Tanggungjawab

Share it:

BANDA ACEH - Acehness Australian Association (AAA) bersama puluhan mantan kombatan GAM menggelar doa bersama dan santunan puluhan anak yatim di Taman Pahlawan Kp. Ateuh Pahlawan, Banda Aceh, Kamis malam (16/08/2018).

Nurdin alias Din Kopasus selaku tuan rumah kepada media mengatakan acara ini atas inisiasi sesama mantan kombatan GAM bersama Tgk. Syekhy selaku Presiden AAA.

Dijelaskannya, doa bersama dan santunan anak yatim ini dalam rangka memperingati 13 tahun MoU Helsinki usai ditekennya perjanjian damai antara RI dan GAM.

"Ini untuk menguatkan perdamaian Aceh sekaligus memuliakan anak yatim dan anak syuhada. Selain itu juga untuk mendoakan Bapak Irwandi agar dimudahkan urusannya dan bebas dari segala proses hukum," ujar Din Kopasus.

Sementara Presiden AAA, Tgk. Sufaini Syekhy menyatakan 13 tahun usai perjanjian damai (MoU) Helsinki, justru dianggapnya gagal. Ya betul, Pemerintah Aceh gagal mengangkat harkat, martabat dan marwah Bangsa Aceh di mata dunia. Karena MoU Helsinki ternyata tidak menjamin menjadikan lebih baik justru kondisi Aceh tidak ada perubahan secara signifikan dalam berbagai hal khususnya kesejahteraan rakyat Aceh.

"Masih banyak anak yatim dan anak syuhada yang terlantar. Meski Pemerintah Aceh sudah berbuat tapi para mantan elit GAM masih abai terhadap mereka (anak yatim)," sebut Tgk. Syekhy.

Terkait hal itu, Acehness Australia Association (AAA), sangat prihatin 13 tahun Aceh damai justru kondisinya malah lebih carut marut dan kacau balau, serta lebih otoriter dan sangat menakutkan. Ini sangat berbahaya untuk kelangsungan perdamaian di Aceh, karena perdamaian Helsinki hanya menjadi milik para elit GAM yang 'cok dame'. 

"Mereka para mantan elit GAM yang merasa memiliki perdamaian itu merasa euforia dan merasa sebagai penguasa tunggal di Aceh. Mereka tidak sadar justru dengan kondisi ini bisa memicu dan berpotensi menimbulkan konflik kembali antar anak Bangsa Aceh," ujarnya.

AAA kembali mengingatkan, bila perdamaian yang telah disepakati di Helsinki tidak segera diimplementasikan dan tidak bisa dinikmati demi kepentingan seluruh rakyat Aceh tanpa terkecuali secara berkeadilan, justru hal ini sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan Bangsa Aceh.

Oleh sebab itu, AAA memandang penting meminta seluruh petinggi GAM 'cok dame' wajib bertanggungjawab atas segala kegagalannya dan atas tidak adanya pertanggungjawabannya kepada seluruh mantan kombatan GAM yang selama ini telah terabaikan. Mereka juga harus bertanggungjawab karena sampai saat ini kondisi rakyat semakin menderita dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan khususnya bagi para mantan kombatan GAM.

"Intinya, dalam waktu dekat kita juga akan mendeklarasikan GAM Oposisi untuk dijadikan wadah untuk mempersatukan seluruh kombatan GAM, khususnya GAM independen yang selama ini terabaikan dan tidak pernah tergabung dalam sistem lingkaran kekuasaan maupun partai politik," ungkapnya.

"Namun kita tetap berharap seluruh rakyat untuk menjaga perdamaian dan membangun Aceh bersama-sama supaya Aceh dapat keluar dari keterpurukan dan kemiskinan sesuai dengan poin-poin MoU Helsinki," tegas Tgk Syekhy.[Red]
Share it:

news

Post A Comment: